Kamis, 17 Juni 2010

Jatiluhur, Keindahan yang Mengerikan...

Jumat (11/6) lalu, saya mengikuti karyawisata ke daerah Jatiluhur bersama teman-teman dan guru-guru dari sekolah saya, dalam rangka pembelajaran luar kelas. Tempat yang kami kunjungi ada 2, yakni bendungan Jatiluhur dan Jatiluhur Water Park.
Setelah pengarahan singkat hari sebelumnya, hari Jumat pagi saya langsung menuju ke bus untuk berangkat. Di bus, kami diberikan makanan berupa beef burger dari McD. (Hanya selisih 5 hari dari terakhir kali saya makan makanan McD). Bus pun berangkat, dan pertama-tama kami menuju ke bendungan Jatiluhur.
Pemandangan di Jatiluhur amat sangat indah. Untuk mencapai pusat bendungan, kami harus melewati jalan raya sepanjang 600 m. Dulunya jalan itu bisa dilewati oleh bus dan kendaraan lain, namun karena permukaan bendungan setiap tahunnya turun 2 cm, maka sejak 2 tahun lalu, untuk mencapai pusat bendungan kita harus berjalan kaki.
Jika menengok ke sebelah kiri, maka kita akan mendapat pemandangan berupa danau yang sangat tenang dengan pemandangan gunung samar-samar di kejauhan. Di sebelah kanannya, ada padang rumput yang sangat luas, dengan pepohonan yang rimbun dan sungai yang mengalir di tengah-tengah padang rumput itu. Dari kejauhan, ada semacam jembatan, dan sebuah mesin besar berwarna kuning. Di tempat itu juga muncul asap berwarna putih. Saya bertanya-tanya, kira-kira apa yang ada di balik asap putih itu. Berikut foto-fotonya:


Tak lama kemudian, saya akhirnya sampai di daerah dengan asap putih itu, yang merupakan pusat bendungan. Melewati jembatan besi yang saya ragukan sudah tua, akhirnya saya bisa melihat apa yang dibalik asap putih itu. Ternyata ada sejumlah air terjun yang sangat dalam (air terjun buatan, tentunya). Asap putih itu ternyata berasal dari percikan air terjun. Air terjun-air terjun itu membentuk lingkaran, dan ditengah-tengah air terjun itu ada 2 pelangi yang sangat indah. Satu pelangi besar, dan satu pelangi kecil. Melihat keindahan tempat ini, yang menawarkan 3 keindahan berbeda dalam 1 tempat, rasanya seperti surga kecil.
Saya bertanya-tanya apa yang ada di balik air terjun itu. Seperti apakah dasarnya? Sebenarnya, kalau mau, pusat air terjun itu bisa dijadikan tempat bunuh diri yang bagus. Dasarnya tidak kelihatan, dan pagar pembatasnya sangat rendah. (Yah, ini hanyalah khayalan belaka...)
Sayang, keindahan itu sedikit terganggu dengan percikan air yang bau. Maklum, air yang ada di sana berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Tahu sendiri kan Jakarta itu air kalinya seperti apa...
Foto air terjun buatan:
[IMG]http://img638.imageshack.us/img638/7526/img0477t.jpg[/IMG]

Setelah menikmati pemandangan di bendungan, yang sejujurnya saya belum puas, akhirnya saya harus kembali ke bus, karena kami akan menuju ke Jatiluhur Water Park. Jatiluhur Water Park adalah kolam renang untuk umum yang ukurannya tak terlalu luas, menurut saya. Lupakan bayangan tentang Snowbay, Waterbom atau bahkan Atlantis Water Adventure, karena Jatiluhur Water Park jauh lebih kecil dari itu.
Di taman air ini "hanya" terdapat 3 buah kolam, yaitu kolam dengan papan luncur yang tingginya kira-kira 10 m, kolam renang anak, dan kolam renang dewasa. Ada dua papan luncur, yang mengingatkan saya akan Gelanggang Renang. (Cuma yang ini sepertinya lebih pendek). Satu papan luncur langsung lurus ke bawah, sedangkan satunya lagi ada satu putaran.
Kolam renang anak ada dua papan luncur ukuran biasa. Sedangkan kolam renang dewasa sama seperti kolam renang pada umumnya, yang tak terlalu luas.
Walaupun tidak terlalu luas, namun saya lumayan senang karena sudah lama sekali sejak saya terakhir kali berenang.
Sayang saya hanya punya 1 buah foto taman renang ini:
[IMG]http://img638.imageshack.us/img638/7526/img0477t.jpg[/IMG]

Negeri 5 Menara



Pengarang: Ahmad Fuadi
Penerbit: Gramedia
Tebal buku: 422 halaman
Tahun terbit: 2009

Alif Fikri, yang tinggal di Bayur, sebuah kampung kecil dekat Danau Maninjau, tamat dari SMP. Ia ingin sekali melanjutkan SMA ke SMA negeri ternama di Bukittinggi, seperti temannya sekaligus saingannya, Randai. Namun apa daya, ibunya menginginkan agar dia masuk pondok. Dia akhirnya mengikuti keinginan ibunya dengan masuk ke Pondok Madani (PM) yang terletak di Jawa Timur.
Di PM, Alif mendapat teman-teman yang menyenangkan, yaitu Raja yang berasal dari Medan, Said (Surabaya), Dulmajid (Sumenep), Atang (Bandung), dan Baso (Gowa). Mereka menamakan diri mereka Sahibul Menara, dikarenakan kebiasaan mereka yang suka berkumpul di bawah menara masjid. Bersama mereka menjalani kehidupan mereka di PM.
Dengan gaya penulisan mirip Totto-chan dan tema mirip dengan Laskar Pelangi, buku ini mengusung mantera "man jadda wajada", siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan sukses.

Kelebihan: Gaya bahasa menarik, inti cerita bagus dan sangat mudah dimengerti. Ceritanya sederhana tapi sangat menyentuh. Patut dibaca, baik oleh umat Muslim maupun non-Muslim. Buku ini juga akan segera difilmkan, membuat saya tidak sabar menunggu filmnya.
Kekurangan: Ada beberapa kutipan bahasa Arab yang tidak diterjemahkan.

Nilai: 9,8/10

Perombakan Blog (Lagi)

Karena banyaknya permintaan dari beberapa pembaca (sebenarnya sudah lama sih...) yang bilang kalau blog saya isinya kebanyakan wall of text, jadi mulai entri berikutnya saya akan berusaha menampilkan gambar, walau mungkin tak banyak.
Jujur, saya akui, mungkin ini sebenarnya agak merepotkan, mengingat proses menulis entri di blog ini yang lain daripada yang lain. Kebanyakan blogger mungkin menuliskan entri langsung pada hari itu juga. Saya berbeda, ketika menulis blog, saya terlebih dahulu mengetiknya di Notepad di laptop saya, kemudian disimpan di flashdisk dan di-post-kan sekaligus beberapa entri ketika saya online di PC memakai browser Chr*me. Hal ini disebabkan karena komputer saya sangatlah lemot, dan Chr*me memakan lebih banyak memory usage daripada Op*ra, browser yang biasanya saya pakai. Op*ra saya entah kenapa error, tidak bisa membuka Blogger.
Sekian pengumumannya dan terima kasih~

Perombakan Blog (Lagi)

Karena banyaknya permintaan dari beberapa pembaca (sebenarnya sudah lama sih...) yang bilang kalau blog saya isinya kebanyakan wall of text, jadi mulai entri berikutnya saya akan berusaha menampilkan gambar, walau mungkin tak banyak.
Jujur, saya akui, mungkin ini sebenarnya agak merepotkan, mengingat proses menulis entri di blog ini yang lain daripada yang lain. Kebanyakan blogger mungkin menuliskan entri langsung pada hari itu juga. Saya berbeda, ketika menulis blog, saya terlebih dahulu mengetiknya di Notepad di laptop saya, kemudian disimpan di flashdisk dan di-post-kan sekaligus beberapa entri ketika saya online di PC memakai browser Chr*me. Hal ini disebabkan karena komputer saya sangatlah lemot, dan Chr*me memakan lebih banyak memory usage daripada Op*ra, browser yang biasanya saya pakai. Op*ra saya entah kenapa error, tidak bisa membuka Blogger.
Sekian pengumumannya dan terima kasih~

Buku Kedua Saya (?)

Saya lupa bilang, kalau entri live in yang saya sudah buat itu, rencananya akan dibukukan! Walau saya tak tahu apa akan dikirim ke penerbit atau tidak...
Dengan sedikit editan tentunya.
Hmm.. yang jadi masalah, dengar-dengar kalau entri blog sudah diterbitkan, artinya entri itu harus dihapus, kan?
Semoga saja dengan editan itu, entri saya masih diperbolehkan ada di blog ini...

Kamis, 10 Juni 2010

Live In (8): Conclusion

Live in selama seminggu di Krekah sangatlah menyenangkan. Kegiatan-kegiatan yang ada sangat bermanfaat, dan tentu saja banyak pelajaran yang dapat diambil dari live in kali ini.
Pertama, belajar hidup sederhana. Di Jakarta saya adalah salah satu orang yang cukup “technology-addicted”, sangat bergantung pada teknologi, terutama HP. Di sana, kami diminta untuk meninggalkan semua itu. Dan ternyata, saya bisa juga hidup tanpa HP, laptop, dan barang elektronik lainnya.
Kedua, belajar mandiri. Live in menurut saya mirip dengan homestay, hanya lokasinya yang berbeda. Di live in kita juga dapat mempelajari budaya setempat, dan juga belajar mandiri. Mencuci piring sendiri, mencuci baju sendiri, dan sebagainya. Saya rasa ini penting juga untuk masa depan, karena jika misalnya kita kuliah di luar negeri/kota, mau tidak mau kita harus kost/asrama, dimana kita dituntut untuk mandiri.
Dan masih banyak lagi hal-hal berharga lainnya yang saya dapatkan selama live in.
Hal-hal yang membuat saya takjub pertama-tama karena rumah di sana, terutama desa Krekah, tidak seburuk perkiraan saya. Saya kira rumah yang saya tinggali terbuat dari anyaman bambu dengan atap seng, lantai tanah, dan lain sebagainya. Tak tahunya, seperti yang sudah saya bilang, rumah yang saya tinggali cukup besar dan bagus.
Lalu soal biaya hidup. Biaya hidup di sana sangat rendah dibandingkan di Jakarta. Misalnya bubur seharga 500 rupiah. Pulang dari Parangtritis kami juga sempat menyantap mi ayam lengkap dengan bakso, yang hanya dihargai Rp 5000,00 saja, padahal tempatnya sendiri berada di semacam ruko. Ini berbeda dengan di Jakarta. Sebagai perbandingan, di Jakarta, mie ayam yang berada di ruko harganya paling tidak Rp 10000,00, itupun tanpa bakso.
Soal kebudayaan, masyarakat sana mempunyai beberapa hal yang cukup unik. Salah satunya adalah tentang arah. Kalau di Jakarta, biasanya kalau kita bertanya arah suatu tempat, kita mengenal kata-kata seperti “lurus, belok kiri, di perempatan terus belok kanan”. Di sana, mereka menggunakan arah mata angin, jadi misalnya “ke arah timur, nanti di perempatan belok ke selatan”. Di sana juga sepeda onthel menjadi sesuatu yang amat sangat umum. Rasanya, akan aneh jika mengetahui bahwa orang asal Jogja tapi tak bisa naik sepeda, mengingat Jogja sudah seperti kota sepeda. Di Jakarta, sepeda onthel sudah amat sangat langka.
Sekarang kita membahas soal peranan ibu dalam keluarga, yang menjadi topik utama renungan live in tahun ini. Menurut saya, peranan ibu angkat saya di dalam keluarga angkat saya selama live in cukup mendominasi, mengingat bapak angkat saya selama di sana cukup sibuk, dan jarang pulang ke rumah karena sedang menyelesaikan proyek pembangunan mesjid yang terletak di dekat rumah kami selama di desa. Walaupun di rumah itu mereka hanya tinggal bertiga (ibu angkat, bapak angkat, dan nenek angkat saya), tapi mereka semua mempunyai peran masing-masing yang penting dalam ekonomi keluarga. Ibu angkat saya adalah ibu rumah tangga, yang walaupun hidupnya cenderung santai karena mempunyai penyakit jantung (jadi tak boleh terlalu lelah), tapi tetap bisa mengerjakan tugasnya dengan baik. Walaupun dia berkata dia tak bisa masak, tapi buktinya masakannya enak. Nenek angkat saya setiap harinya bekerja membuat makanan ternak. (Oh ya, saya lupa mengatakan kalau di rumah itu terdapat 4 kucing, 1 anjing, banyak sapi, ayam, dan kambing). Bapak angkat saya adalah seorang ketua RT, tapi peranannya saya kira tidak terlalu dominan, setidaknya selama saya live in di sana.

Live In (7): Bye-bye, Jogja!

Pagi hari, kami pergi membeli oleh-oleh lagi. Sebelumnya kami membantu ibu angkat kami menggoreng tempe koro. Kemudian saya diantarkan ibu angkat saya ke kota Bantul untuk membeli oleh-oleh gudeg. Ternyata Bantul benar-benar kota sepeda! Mobil amat sangat jarang di sana, bahkan di depan lampu merah. Sepeda onthel dan motor sangat mendominasi.
Selesai dari sana, saya menunggu jam 12 siang, waktu ketika kami akan meninggalkan desa itu, dengan berbincang-bincang dengan ibu angkat saya.
Setelah makan siang, kami berfoto bersama untuk kenang-kenangan. Jam 12 siang kami ke rumah kepala desa dan berpamitan pada semuanya.
Menggunakan sepur mini, kami berkumpul di balai kelurahan. Setelah mengucapkan kata perpisahan, kami semua kembali ke bus masing-masing dan berangkat ke Malioboro. Di Malioboro, saya membeli beberapa barang. Tas laptop motif batik, sarung HP motif batik, coklat merek “Monggo” (ternyata 1 bungkusnya harganya mahal, Rp 20.700,00), dan juga… Mc Flurry. (Ini saya beli karena di Jakarta, McD sudah langka…)
Setelah menunggu 2 teman sebus kami yang tertinggal, bus pun akhirnya berangkat. Sekitar jam 8 malam, bus berhenti di rest area dan restoran. Kami pun makan sebentar, dan kemudian berangkat lagi untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Live In (6): Mask Painting

Hari ini pun tak kalah menyenangkannya dengan hari-hari sebelumnya. Pagi hari, ibu angkat saya mengajak kami ke pasar. Di sana kami membeli sayur-sayuran, dan oleh-oleh tempe bacem. Tempe ini ibu angkat saya sendiri yang membuat, dengan menggunakan tempe koro.
Kemudian, ibu angkat saya mengantarkan kami ke pabrik bapia untuk membeli oleh-oleh bapia di sana. Ibu saya di Jakarta memang meminta saya untuk membawakan sejumlah oleh-oleh, seperti taplak meja, bapia, gudeg, tempe bacem, dan coklat merek “Monggo”.
Tak terasa hari telah beranjak siang, dan setelah kami makan siang, kami bergegas ke rumah kepala desa yang tak berapa jauh dari rumah kami. Seperti yang sudah diduga, kami harus menunggu lama lagi untuk sepur mini yang entah kenapa datangnya memang selalu ngaret itu.
Sanggar Giri Gino Guno ternyata tak seberapa jauh dari desa kami. Sampai di sana, banyak anak-anak dari sekolah kami yang berasal dari desa lain sudah berkumpul. Di sana, kami semua dibagi berdasarkan kelompok desa, melakukan berbagai macam kegiatan. Pertama, kami mencoba untuk bermain gamelan Jawa. Beberapa anak waktu itu memang sudah pernah mencoba gamelan Jawa, baik di kegiatan sekolah maupun pada hari ke-2 di desa. Namun, buat saya yang baru pertama kali mencoba, ternyata bermain gamelan Jawa itu gampang-gampang susah karena tangga nadanya yang berbeda dengan tangga nada pada alat musik modern, misalnya piano.
Kegiatan kedua adalah kerajinan janur. Kami, kelompok dari desa Krekah, hanya diajarkan satu kerajinan janur, mungkin karena keterbatasan waktu. Tapi ada beberapa anak dari kelompok desa lain yang diajarkan lebih dari satu bentuk anyaman janur. Namun tak apalah, yang penting saya sudah lumayan bisa membuatnya (walau hasilnya tak lumayan sesuai harapan).
Setelah itu, kami makan snack dan teh manis sebelum menuju ke pos ketiga yaitu kerajinan topeng. Ini adalah kegiatan pilihan. Siapa yang ingin mengecat topeng dapat membayar Rp 17.500,00. Agak mahal memang, tapi semua peralatan sudah disediakan, mulai dari topeng itu sendiri, cat akrilik, sampai pilox dan gantungan topeng. Untuk topeng ini saya lumayan bisa mengerjakannya, tapi tetap saja menurut saya masih agak berantakan (mungkin kapan-kapan saya harus belajar lagi untuk mengembangkan pewarnaan di bidang cat, tidak hanya di bidang pensil warna dan digital saja…).
Pulang dari sana hari sudah sore, dan kami melihat matahari terbenam dari sepur mini. Saya menyadari bahwa itulah sore terakhir saya berada di desa…
Sepur mini berhenti di depan rumah kepala desa, dan tibalah saat yang menggembirakan. HP dibagikan kembali! Dan ketika itu saya baru menyadari, bahwa ternyata saya bisa juga tidak menjadi “cellphone-addicted”.

Live In (5): Parangtritis Beach

Hari Jumat telah tiba, dan hari ini saya diajak pergi oleh ibu angkat saya di desa ke pantai paling terkenal di Jogjakarta yaitu Pantai Parangtritis. Saya pergi bersama teman serumah saya dan juga 2 orang teman kami yang berada di rumah lain menggunakan 4 buah motor. Mulanya, kami mengira bahwa kami tidak boleh berjalan-jalan ke luar desa begini, apalagi perginya ke tempat wisata. Namun, kemudian kami bertanya pada guru pembimbing kami, dan mereka mengatakan bahwa sebenarnya kami boleh pergi ke tempat wisata, kalau orangtua angkat kami yang mengajak.
Pantai Parangtritis ternyata jauh lebih indah daripada Pantai Waru. Di Pantai Waru, ombaknya sangat besar dan pantainya juga terjal sehingga kami tak boleh dekat-dekat ke laut. Sebaliknya di Parangtritis, walau ombaknya juga besar (ibu angkat kami mengatakan kalau dari pantai ini, daratan yang terdekat adalah Australia), tapi pantainya lebih landai sehingga kami boleh bermain di laut (tentu saja tidak boleh terlalu jauh ke laut atau kami akan ditelan ombak yang besar itu). Pantai ini juga berbatasan dengan pegunungan sehingga menghasilkan suatu kombinasi yang sangat indah, dan di pertengahan pantai ada semacam aliran air yang dangkal, yang saya kira merupakan hilir sungai.
Di pantai ini banyak terdapat delman yang dapat membawa kita berkeliling pantai. Sayangnya harga yang ditawarkan cukup mahal, Rp 20.000,00 untuk setengah pantai, bolak-balik. Untuk bolak-balik sepanjang pantai, kami harus membayar Rp 40.000,00. Menurut teman yang sudah pernah ke sana, di ujung pantai di dekat pegunungan ada air terjun. Sayang, kami tak sempat melihat air terjun itu.
Ada pengalaman menarik yang saya dapatkan ketika saya sedang naik delman untuk kembali dari pertengahan pantai menuju tempat asal kami berangkat. Air laut pasang ketika itu, sedangkan kuda delman masih berada di tengah lautan, jadi kuda itu diam saja dan tidak mau berjalan. Kami sempat cemas akan terbawa arus laut, untungnya hal itu tak terjadi.
Pulang dari sana, kami mandi, dan setelah itu kami makan. Lalu setelah itu kami bersama-sama menuju rumah teman kami yang kemarin. Ternyata saat itu mereka sedang membuat susu kacang untuk dijual keliling. Kami kemudian membantu mereka menuangkan susu kacang ke dalam kantung plastik kecil, dan juga membantu mereka membuat pisang bakar. Kemudian kami juga ikut berkeliling kampung untuk menjual susu kacang dan pisang bakar itu. Tak diduga ternyata semua dagangan itu laku terjual.
Kami sempat mampir sebentar di rumah kepala desa, dan di sana saya membeli taplak meja batik yang dijual oleh ibu kepala desa. Di sana, guru pembimbing saya yang notabene juga ada di sana memberitahukan kepada kami bahwa hari Sabtu pukul 1 siang kami diminta untuk berkumpul di depan rumah kepala desa untuk bersama-sama ke Sanggar Giri Gino Guno naik sepur mini.
Tak terasa hari sudah sore, dan kami pun pulang ke rumah kami selama kami di desa. Kami mandi, makan malam, dilanjutkan dengan menonton TV, dan tidur.

Live In (4): Ganjuran Church Is Even Better Than Lembah Karmel, IMO!

Hari ini kami bangun sangat pagi, karena jam 5 pagi rencananya kami berkumpul di rumah kepala desa untuk pergi ke pantai dengan naik sepur mini, yang sudah direncanakan dari hari sebelumnya. Untuk itu, kami harus membayar 15 ribu per orang. Tapi sepur mini itu terlambat datang, sehingga niat kami untuk melihat sunrise dari pantai terlambat sudah. Pantai yang kami kunjungi adalah Pantai Waru. Sebenarnya kami mau ke Pantai Samas, tapi tak jadi.
Pantai Samas adalah pantai yang lumayan indah. Ombaknya sangat besar, dan angin lautnya sangat kencang. Jam 9 kami kembali ke Krekah, dan makan siang. Kemudian kami berjalan-jalan ke rumah teman dan ikut makan bareng disana. Di rumah itu ternyata ada 5 orang teman kami yang di sana. Sebenarnya teman yang akan tinggal hanya ada 3 orang, cuma karena di rumah sebelahnya ada ular, jadi 2 orang lagi dipindahkan ke rumah itu.
Setelah makan siang bareng, kami menuju ke sawah karena 5 teman kami itu juga ingin turun ke sawah. Pulang dari sawah, kami mandi dan makan karena kami harus segera ke gereja Ganjuran naik sepur mini.
Ternyata sepur mini terlambat datang lagi. Kami sudah berkumpul dari jam 17.00 namun sekitar pukul 18.15 kami dijemput, karena sepur mininya ternyata rusak. Untung, sampai di sana misa belum dimulai.
Gereja Ganjuran ternyata adalah gereja yang sangat amat bagus, bahkan lebih bagus dari Lembah Karmel yang berada di daerah Puncak, menurut saya. Gereja Ganjuran terdiri dari bangunan terbuka yang sangat luas dan indah. Misa sendiri diadakan di depan Candi Ganjuran. Berbeda dengan candi pada umumnya, Candi Ganjuran merupakan candi dimana di dalam candi itu terdapat patung Bunda Maria. Di dekat candi ada sejumlah pancuran air yang katanya kalau minum air pancuran tersebut, bisa menyembuhkan berbagai penyakit.
Misa di gereja tersebut menggunakan bahasa dan adat Jawa. Karena banyak dari kami yang tak mendapat teksnya, maka ketika umat lain bernyanyi, kami tidak bernyanyi karena tidak tahu lagunya. Namun, untungnya untuk cerita-cerita menggunakan bahasa Indonesia.
Saat misa berakhir, ada tradisi selendang emas. Tradisi ini berupa arak-arakan yang dimulai dengan anak kecil di bagian depan, kemudian di belakangnya ada orang yang memakai selendang emas. Selendang emas itu dicium-cium oleh umat, yang katanya, kalau tidak salah, selendang itu mengandung "kekuatan" tertentu. Di belakang orang dengan selendang emas itu, ada sejumlah pria berbaju adat Jawa yang menyiprat-nyipratkan air ke umat. Di tempat air yang dibawa juga ada kelopak bunga yang dibagikan ke umat. Katanya, kalau disimpan kelopaknya, akan mendapat berkat. Beruntung saya mendapat kesempatan untuk mendapatkan kelopak bunga itu, akan tetapi sekarang kelopak itu sudah hilang entah kemana....
Selesai misa, kami harus menunggu sangat lama karena ada teman dari kelompok desa kami yang hilang. Angkutan yang ada juga sangat terbatas. Alhasil, kami pulang termasuk paling akhir, dan diantar sampai ke rumah masing-masing (seperti mobil jemputan saja...)

Live In (3): Javanese Gamelan and BTS Tower

Awalnya, saya merasa saya tidak akan betah di tempat live in. Apalagi HP dikumpulkan di hari kedua, sedangkan saya termasuk tipe orang yang, kalau boleh jujur, menganut paham "I can't live without my cellphone on my side~". Namun dugaan saya ternyata tak benar. Tiap harinya adalah hari yang spesial, penuh dengan kegiatan yang menyenangkan. Termasuk hari ketiga ini.
Pagi harinya, jam 06.30 saya bangun. Agak kesiangan mungkin, mengingat malamnya di depan rumah dinyalakan radio. Saya tak bisa tidur nyenyak karena radio itu, tapi sekitar jam 05.00 radio dimatikan, dan saya pun bisa tidur lebih nyenyak.
Makan pagi hari ini adalah bubur sayur yang katanya harganya hanya 500 rupiah saja. Walaupun murah, tapi buburnya sangat enak. Hari ini kami berangkat ke sawah untuk mencabuti rumput liar. Setelah itu, teman serumah saya belajar naik sepeda onthel. Karena saya tak bisa naik sepeda, jadi saya menunggu saja.
Setelah hari beranjak siang, kami pun menyantap nasi dengan sate ayam. Kemudian jam 1 siang kami berkumpul di rumah Pak Sartono karena katanya ada latihan gamelan Jawa. Kebetulan teman serumah saya ikut ekskul gamelan Jawa di sekolah, jadi kami pun ke sana.
Selesai bermain gamelan Jawa, anak-anak memutuskan untuk pergi ke BTS Tower (menara yang biasanya dibangun untuk memperkuat sinyal telepon genggam, menurut definisi bebas saya...) yang terletak di desa Depok. Katanya, dari sana kita bisa melihat pemandangan seluruh Bantul. Dan memang benar, walaupun perjalanannya sangat menanjak dan jalannya berbatu-batu, tapi pemandangan dari sana sangat indah.
Pulang dari sana, kami melihat ada 2 orang teman kami yang menempati rumah di desa Depok. Ternyata desa Depok berada di daerah pegunungan, dan saya membayangkan bagaimana caranya membawa tas mereka dari jalanan utama ke rumah itu, mengingat jalannya cukup menanjak dan berbatu-batu. Mereka sudah pasti susah untuk berjalan-jalan ke desa lain. Diam-diam saya lumayan bersyukur karena tinggal di desa Krekah yang rumahnya bisa dibilang cukup bagus (sayang rumahnya tidak dicat dan diberi keramik serta plafon karena katanya belum selesai, kalau tidak, mungkin bisa lebih bagus dari rumah saya di Jakarta XD).
Dalam perjalanan pulang, kami bertemu kepala sekolah yang melakukan kunjungan ke sana. Kemudian saat sampai di rumah, kami mandi, makan malam, menonton TV lagi, dan tidur.

Live In (2): Welcome to The Village~

Jujur, di bus saya selalu tak bisa tidur. Kenapa? Karena saat pergi maupun pulang, saya selalu duduk di barisan depan, dimana kaca bus sangat besar sehingga cahaya lampu dari mobil yang lewat menyorot sangat jelas. Selain itu, AC di dalam bus juga sangat amat dingin. Saya menyesal kenapa saya tidak membawa jaket YI yang paling hangat.... T.T
Sudah tanggal 1 Juni. Jam 3, bus berhenti di daerah Kebumen. Di sana bus berhenti selama 1 jam lebih, karena banyak anak-anak yang selain ke toilet, mereka juga makan pop mie dan semacamnya.
Jam 6.15, ketika saya bangun lagi, ternyata bus sudah berhenti di daerah Jogja. Bus berhenti di tepi jalan karena banyak anak yang ingin ke toilet.
Kemudian, setelah melanjutkan perjalanan, akhirnya jam 8 pagi bus berhenti di depan balai kelurahan Gilangharjo. Ternyata sudah banyak anak-anak lain yang berkumpul. Di sana diberikan sambutan sampai jam 8.15. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sarapan gudeg dan teh manis sampai pukul 9. Kemudian HP dikumpulkan...
Kami pun diberangkatkan satu-persatu ke desa masing-masing menggunakan sepur mini. Ini adalah semacam kereta wisata yang biasa ada di tempat-tempat seperti Taman Mini Indonesia Indah, Gelanggang Samudra Ancol, dll, hanya tak ada relnya. Kami naik sepur mini sampai ke rumah kepala desa, lalu dari sana kami berkumpul sebentar untuk diantarkan satu-persatu ke tempat tinggal kami selama berada di desa.
Ibu tempat saya tinggal bernama Bu Tuti dan mempunyai suami yang bernama Pak Mulyono. Ternyata beliau sudah menyiapkan makanan untuk kami, saya dan teman sekamar saya. Jadi karena merasa tak enak pada beliau, kami makan makanan itu.
Setelah itu kami mandi. Mulanya kami mengira kalau kamar mandi yang ada baknya sangat kecil dan terdapat kloset duduk, ternyata dugaan kami salah, karena kamar mandinya sebenarnya ada di sebelahnya. Tempat yang kami kira kamar mandi sebenarnya adalah WC.
Setelah mandi, kami berjalan-jalan berkeliling-keliling ke tempat tinggal sementara untuk teman kami yang lain. Pulang dari sana, kami tidur siang. Dan sorenya, 2 orang teman kami mengajak kami untuk mengajar anak-anak di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini, semacam TK).
Pulangnya kami pun makan malam. Setelah makan malam, kami menonton TV, hal yang amat sangat jarang dilakukan oleh saya. (Dulu saya sempat nonton TV hanya untuk menonton Indonesian Idol, tapi sekarang sudah sangat jarang...) Jam 20.00, setelah acara selesai, kami berangkat tidur. Gara-gara di sana tidur selalu sekitar jam 19.30-20.00, paling malam jam 20.30, sekarang saya jadi punya kebiasaan tidur pagi di Jakarta. Biasanya saya selalu tidur diatas pukul 23.00, tapi sekarang jam 22.00 saja saya sudah ingin tidur. XD

Live In (1): I'm (Almost) Late!

Seperti yang sudah saya janjikan, saya akan membuat tulisan tentang live in yang saya alami dari tanggal 31 Mei 2010-7 Juni 2010. Live in ini berlokasi di Kelurahan Gilangharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta. Di desa ini, peserta live in, yang merupakan satu angkatan dari sekolah saya, dibagi dalam 7 kelompok yang masing-masing menempati 7 desa, yaitu Ngaran, Karanggede, Tegallurung, Banjarwaru, Gunting, Depok, dan Krekah. Saya sendiri menempati desa Krekah. Tiap desa terdapat guru pembimbing, biasanya jumlahnya sekitar 2 sampai 3 guru.
Selama beberapa bulan sebelumnya, setiap hari Rabu jam pelajaran ke-8, kami peserta live in dikumpulkan di aula untuk mendengarkan pengarahan. Kemudian, pada hari Rabu tanggal 26 Mei, di papan pengumuman ditempelkan siapa menempati desa mana, rumah keluarga mana yang ditempati, dan serumah dengan siapa. Di papan itu, saya jadi mengetahui kalau tiap rumah terdiri dari 2 orang, kecuali ada 1 rumah yang ditempati 3 orang, karena jumlah muridnya ganjil.
Tanggal 27 Mei, setelah selesai ulangan umum, kami diberikan pengarahan tentang barang-barang apa saja yang harus disiapkan untuk live in, dan lain sebagainya. Kami juga diberikan buku panduan live in yang isinya jadwal kegiatan selama live in, nomor telepon guru pembimbing, dan sebagainya. Tanggal 29 Mei, hari Sabtu, kami masuk kembali. Kali ini kami dikumpulkan dalam kelompok menurut desa yang akan kami tinggali, dan diberikan pengarahan oleh guru pembimbing. Kami pun diajak untuk bertemu dengan teman serumah kami dan mendiskusikan apa oleh-oleh yang akan dibawa untuk diberikan pada keluarga angkat kami di sana.
31 Mei pun tiba, dan kami seharusnya diwajibkan sampai di sana paling lambat pukul 15.00. Namun karena satu dan lain hal, saya datang terlambat, pukul 15.30. Untungnya saya tak ketinggalan bus, karena saat saya akan menuju aula, ternyata anak-anak yang lain sudah hendak berangkat menuju ke bus.
Jam 16.00 bus berangkat, dan jam 18.15 bus berhenti sebentar untuk mengisi bensin di tol Cipularang. Jam 20.00 bus berhenti di sebuah restoran Sunda di daerah Rancaekek. Kami makan secara prasmanan di sana.
Perjalanan pun dilanjutkan kembali...

Rookiez is Punk'D-Complication


Single yang baru diluncurkan tanggal 2 Juni ini memang salah satu single yang paling ditunggu saya. Dan ternyata, dari kesan pertama, memang single ini tak mengecewakan! Setahu saya, ada 2 versi untuk cover single ini, yaitu cover edisi biasa dan cover edisi Durarara!, anime dimana lagu ini menjadi salah satu OSTnya.

1. Complication
Lagu utama untuk single ini. Memang bagus, sih... Ada bagian instrumental di awal-awal dan lalu baru masuk ke lagu... Di tengah-tengah lagu, ada rap-nya.. Secara keseluruhan lagu ini termasuk lagu yang paling saya suka saat ini...

2. Fortune
Awal-awal lagu sangat mengingatkan saya pada FLOW, salah satu artis Jepang juga.. tapi di akhir lumayan bagus...

3. BUMP ON da STYLE
Bagus sih... tak mirip lagi dengan FLOW... tapi nuansa rap nya lebih terasa...

4. Complication-TV Size Opening Ver
Lagu yang pertama kali saya dengar di Durarara!, hehe.. Kalau yang ini no comment lah...

5. Complication- TV Size Long Ver
Bedanya dengan nomor 4, ada background musicnya kalau di sini... sama persissss seperti di anime.. *tapi kadang saya suka tak dengar karena terlalu sibuk nonton klipnya, haha...*

Nilai : 8/10

YUI-To Mother (Single)


Single terbaru dari YUI, "to mother"...
Dari covernya saja kita bisa menebak ada sesuatu yang spesial di album ini. Ya, YUI bermain piano dari awal lagu sampai akhir lagu! Tapi entah kenapa di cover single ini YUI kelihatan jauh lebih tua daripada penampilan yang biasanya... T_T

1. to mother
Lagu ini sudah saya dengarkan.. ehm... berkali-kali (saya tak hitung berapa kali). Seperti yang tadi sudah dikatakan, di lagu ini YUI bermain piano dari awal sampai akhir, membuat lagu ini menjadi salah satu lagu yang khas diantara lagu-lagu YUI yang lain, yang permainan pianonya cuma sedikit.
Lirik lagu ini sungguh penuh makna... Salah satu lagu YUI yang paling saya suka sekarang~

2. tonight
Ternyata lagunya pendek juga... lagu ke-3 terpendek YUI sepertinya, setelah No Way dan Ruido... Durasinya hanya 2 menit 39 detik...
Nuansanya rock...

3. Gloria (Acoustic Ver)
Versi akustik dari Gloria. Lumayan juga, walau saya lebih suka versi aslinya...

4. to mother (Instrumental)
Instrumental dari to mother. Membuat saya ingin cepat-cepat mengulik lagu ini segera!~

Nilai: 8/10

Top Sites that I Like to Visit Recently

I'll tell you about sites that i like to visit recently. This is my first entry which is written in English, I think... So I'm apologize if there are some mispelling or grammatical errors, because I know that I'm not really good in English... ==

1. facebook.com
Hmm... I think all of you have known bout this site. This site is social-networking site, which is very popular among Indonesian nowadays. We can contact our friends (new friends, our friends at school, or even our old friends) with this site, by sending message, wall, etc. to them.

2. twitter.com
I rarely use Twitter although I have it, but since I want to ask Gramedia about how to send my novel to that publisher, I often updating my tweet.

3. matibeku.com
In this blog, you can find MANY entries that I've written about this site. I like this online riddle game very much! (maybe because some of the levels contain my favourite animes? XD)

4. yui-indo.net
I have told about this forum in this blog.. Please check that entry, which I've posted... hmmm... several months ago.

5. kaskus.us
-idem with no 4-

6. kaorinusantara.web.id
I've joined this forum since March 2010. This is forum for anime and manga lover. There are so many forums like Kaori, but I like to post, post, and post in Kaori so much~

7. cyber12.com
Site for downloading animes. I'm always downloading animes at this site, because this is the only site which provide anime with low quality (about 50 mb).