Kamis, 27 November 2014

Mengenang Preklinik FK Atmajaya (1): Problem Based Learning dan Skill Lab

Dikarenakan traffic blog saya terhadap keyword "FK Atmajaya" cukup tinggi, akhirnya saya iseng bikin ginian. Lumayan untuk mengenang masa preklinik berhubung saya hampir menyelesaikannya.
Jadi, di FK Atma itu selain ada kuliah biasa, juga ada Problem Based Learning(PBL) dan Skill Lab (SL). Apakah itu?
PBL, atau mungkin di tempat lain disebut diskusi atau tutorial, adalah suatu studi kasus yang dilakukan secara berkelompok. Di FK Atma, PBL menggunakan metode seven steps dan terdiri atas 2 kali pertemuan, dengan rincian:
Pertemuan 1:
1. Klarifikasi istilah yang kurang jelas atau kurang dimengerti
2. Menentukan masalah dalam skenario
3. Brainstorming untuk menjawab masalah menggunakan prior knowledge
4. Diskusi terhadap hasil brainstorming dan membuat skema diskusi hari itu
5. Menentukan learning objective, yaitu apa yang harus dipelajari lagi hari itu dan untuk pertemuan 2
Pertemuan 2:
6. Belajar mandiri
7. Memaparkan hasil yang sudah dipelajari dari belajar mandiri sebelum pertemuan 2
Dalam PBL, 1 kelompok terdiri atas 11-15 orang dan dibagi dalam 16 kelompok. Kelompok ini diacak tiap semesternya. Jadi berharaplah mendapat teman sesuai keinginanmu.
PBL asalah kegiatan yang wajib dihadiri, dan semua anggota wajib aktif. Setidaknya tiap step berpartisipasi dan disesuaikan dengan skenario. Jadi ngomongnya gak ngawur-ngawur amat.
Penilaian tergantung dosen, ada dosen yang menilai menurut berapa kali seorang ngomong dalam 1 PBL, ada dosen yang ngomong secukupnya tak apa asal sesuai skenario, dsb. Tergantung nanti dapat dosen yang mana. Yang penting aktif saja, karena nilai PBL kita harus >45.
Sedangkan SL adalah latihan keterampilan kedokteran. Latihan ini diadakan di ruangan kecil berisi tempat tidur pasien dan beberapa kursi dan meja, dimana dilakukan dengan teman sekelompok PBL dan seorang tutor. SL juga terdiri atas 2 pertemuan. Pertemuan 1, tutor akan memperagakan cara melakukan skill yang diajarkan pada hari itu, dan pada pertemuan 2 kita melakukan skill yang diajarkan, entah pada teman sekelompok, pada manekin, atau pada pasien simulasi. Setiap skill akan diberikan checklist. Cara paling aman adalah mengikuti checklist sebaik-baiknya. Namun untuk prakteknya, kadang ada beberapa skill yang tak harus sesuai urutan. Yang penting semuanya dilakukan dengan sempurna.
Di angkatan saya, SL tidak dinilai. Tapi, di angkatan 2012 dan seterusnya, SL dinilai. Jadi, persiapkan diri untuk pertemuan 2 dengan baik, ya!

Rabu, 12 November 2014

Tur Korea (4): Keliling Seoul

Pagi ini, saya sarapan di restoran hotel yang kecil, dengan makanan yang biasa saja. Dalam hati, saya bersyukur pesawat dibatalkan waktu itu. Setidaknya saya tak perlu menginap di sini 2 hari.
Hari keempat saya di Korea adalah tur keliling kota Seoul. Kami mengawali hari kami dengan tur ke pabrik ginseng. Ginseng Korea memiliki keistimewaan yaitu bersifat netral, tidak seperti ginseng China yang bersifat panas atau ginseng Amerika yang bersifat dingin, sehingga bisa dimakan oleh penderita penyakit apapun.
Di pabrik ginseng yang terletak sebelah showroom mobil itu, kami diberikan penjelasan mengenai ginseng dan diberikan minum teh ginseng. Ternyata, harga ginseng itu sangat mahal, lebih mahal dari tablet yang saya pakai untuk menulis entri ini. Namun, karena khasiatnya yang sudah terkenal, akhirnya masing-masing peserta tur membeli ginseng.

Pabrik ginseng

Perjalanan kami dilanjutkan ke sebuah toko kosmetik. Di perjalanan, saya melihat iklan Gary dari Running Man mengiklankan produk Mizuno. Dia terlihat lebih keren daripada biasanya. Saat kami sampai di toko kosmetik, kami diberikan demo beberapa produk, seperti pelembab, BB cream, dan sebagainya. Namun, saya tidak membeli apa-apa di toko kosmetik tersebut.
Setelah itu, kami makan siang. Makan siang kali ini sangat enak. Seporsi besar bulgogi dihidangkan di meja kami masing-masing. Rasanya enak sekali, sampai saya menghabiskan 2 porsi bulgogi bersama dengan 2 anggota keluarga saya yang semeja dengan saya. Setelah makan, saya mencoba susu rasa pisang yang dibeli ayah saya. Karena rasanya sangat enak, saya pun membeli sebotol susu tersebut.
Kami kemudian ke toko obat-obatan berikutnya. Obat kali ini adalah obat herbal bernama Hominia dulcis yang diklaim bisa membuat AST dan ALT dari seseorang tetap dalam batas normal. Karena masih butuh penelitian lebih lanjut, akhirnya kami semua tak ada yang membeli obat tersebut. Di luar toko, saya melihat sebuah minimarket dengan di depannya terpampang iklan Coca Cola yang dibintangi oleh Yoo Jae-suk. Wah, orang ini terkenal sekali ternyata.

Pemandangan kota dan sungai Han
Pulang dari toko obat, kami ke wilayah bagian selatan Seoul. Di peta yang saya dapatkan, Seoul dibagi menjadi 2 bagian besar, bagian utara dan bagian selatan, yang dibatasi oleh sungai Han. Bagian utara dan selatan itu dapat dibagi lagi menjadi bagian timur dan barat, yang akan saya bahas lagi dalam beberapa entri ke depan.

Pabrik amethyst
Kami berhenti di pabrik amethyst, namun karena saya tak menyukai perhiasan, saya tak membelinya. Sebagai gantinya, saya dan keluarga saya berfoto-foto dengan latar belakang gedung tinggi di sekitar.

Kami kembali lagi ke bagian utara Seoul, tepatnya ke daerah Hongdae. Di sana, kami menonton Wedding Show, salah satu pertunjukan teatrikal baru yang menarik di kota Seoul, selain Nanta Show yang sudah lebih dulu terkenal. Pemain di show itu hanya berjumlah 7 orang, namun semuanya sangat multitalenta. Mereka menyanyi, menari, dan juga bermain aneka alat musik. Lagu tema utamanya adalah Bruno Mars - Marry You, tapi mereka juga membawakan banyak lagu lainnya dalam pertunjukan teatrikal tersebut. Salah satu lagu lain yang paling saya ingat adalah Tsubasa o Kudasai yang saya kenal dibawakan Houkago Tea Time di anime K-On.
Selesai menonton, kami pergi ke Myeongdong Market. Di sana, kami mengunjungi sebuah restoran dan mengonsumsi ayam dengan saus yang saya lupa saus apa, tapi rasanya agak asin-asin asam namun lumayan enak. Porsi ayam tersebut sangat besar sehingga kami semua tak sanggup menghabiskannya.
Kekenyangan, kami keluar restoran dan menuju Myeongdong Market untuk belanja. Pasar ini suasananya mirip Passer Baroe di Jakarta, hanya saja barang yang dijual mayoritas adalah kosmetik. Di sini banyak dijual kosmetik merek asal Korea dengan harga yang jauh lebih murah daripada di Jakarta. Saya membeli kuteks berbagai warna dengan harga hanya sekitar 30 ribu rupiah, dimana di Jakarta harganya untuk jenis dan merk sama adalah 60-75 ribu rupiah.
Suasana Myeongdong

Malam semakin larut. Saya kembali ke meeting point. Di sini saya baru menyadari bahwa Kim Soo Hyun amat sangat terkenal di sini sampai ada museumnya yang terletak di seberang meeting point saya.
Kami kembali ke bus, lalu berangkat menuju hotel. Hotel kami hari ini adalah hotel Kyungnam yang lumayan besar dan luas kamarnya. Kami tidak sarapan di hotel untuk pagi terakhir kami di Korea esoknya, jadi kami memesan McD. Usai mendapat kunci kamar, kami masuk ke kamar dan membereskan barang bawaan untuk bersiap pulang esok hari.

Kamis, 06 November 2014

Tur Korea (3): T-Express dan Running Man

Hari itu benar-benar menjadi puncak dari rasa cinta saya pada variety show yang satu ini, dimana bahasan mengenai variety show ini akan saya bahas kemudian di blog ini.
Pagi hari saya lalui dengan mandi di kamar mandi hotel yang sangat besar. Hotel ini memiliki bathtub DAN shower di dua tempat terpisah, serta toilet dengan berbagai macam pengaturan canggih dalam huruf Hangul yang mirip seperti toilet di Jepang. Bisa dibayangkan betapa bagusnya hotel ini, bukan?
Kemudian, saya sarapan di lantai atas hotel dekat jendela setelah sebelumnya sempat menonton Running Man di kamar hotel, walau tidak full 1 episode. Tak seperti Boutique 9, wifi hotel ini hanya ada di restoran dan lobi. Namun, hotel ini tetap sangat bagus. Sarapan hari itu sangat enak, dimulai dari sarapan ala Amerika seperti bacon, sosis, ham, omelet, potato wedges, dan lainnya; sarapan ala Jepang seperti udon; Cina seperti siomay, dan lainnya saya lupa saking banyaknya. Sambil sarapan, kita bisa browsing dengan wifi yang lumayan cepat dan juga melihat pemandangan dari lantai teratas hotel. Pemandangan daerah sekitar yang ternyata dekat dengan laut perbatasan antara Korea Utara dengan Korea Selatan.
Kenyang makan, kami bersiap-siap berangkat meninggalkan Mt. Sorak menuju Everland. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 3 jam. Selama perjalanan, kami menonton film "200 Pounds Beauty" dari TV di bus. Perjalanan berjalan menyenangkan walau cuaca gerimis. Hal yang saya perhatikan, selama perjalanan 3 hari ini supir busnya memiliki driving skill yang sangat bagus. Bus kami selalu melaju di jalur kiri (seperti jalur kanan kalau di Indonesia), dengan kecepatan sangat tinggi, tapi tidak membuat deg-degan atau semacamnya karena cara menyetirnya sangat enak, tidak ngerem mendadak atau sejenisnya.
Akhirnya, kami sampai di Everland, dengan cuaca yang mendung tapi tak hujan, cocok untuk bermain di luar seperti ini. Everland adalah taman bermain dengan dekorasi menarik dan warna-warni, terbesar di Korea Selatan. Everland dibagi dalam 3 bagian besar, yaitu zona petualangan, zona kebun binatang, dan satu lagi spot untuk foto-foto. Atraksi utama di sini adalah T Express, roller coaster kayu dengan ketinggian 56 meter yang kemiringannya lebih dari 80 derajat dan dinobatkan menjadi roller coaster kayu tercuram di dunia. Sekadar info, tidak sampai 1 minggu setelah saya ke Everland, beberapa member Running Man dan para tamu berkunjung ke sini untuk syuting. Sudah menontonkah kalian?
T Express

Masuk ke Everland, kami berjalan menuju semacam kereta layang yang bergerak menurun dari tempat kami yang lebih tinggi ke daerah T Express yang lebih rendah. Kami naik kereta tersebut. Perjalanan terasa sangat menyenangkan, apalagi dari kejauhan terlihat T Express berdiri megah, membuat saya ingin segera menaiki wahana tersebut.

T Express dilihat dari kereta layang
Rombongan kami pun berpencar. Saya dan beberapa lainnya memutuskan pergi ke T Express. Walau antriannya diperkirakan mencapai 1 jam, kenyataannya tak selama yang diperkirakan. Setelah menitipkan sepatu dan tas kami di loker yang tersedia, kami pun menaiki kereta. Kereta di T Express ada 3 buah dan semua berangkat selisih beberapa menit, karena waktu atraksi ini sendiri lama yaitu sekitar 3 menit.
Kami memakai sabuk pengaman, dan kereta bergerak perlahan. Saya masih ingat betul sensasi menaiki kereta ini. Kereta yang awalnya naik, lalu mendatar dan berbelok sejenak sebelum sampai ke turunan curam yang membuat semuanya berteriak dan susah menahan diri untuk tetap membuka mata. Dilanjutkan dengan berbagai tanjakan, turunan, dan belokan yang seakan tiada ujung. Namun, saat kereta melambat, perasaan takut pun berganti perasaan senang. "Kepengen lagi", intinya.
Setelah itu, saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke arah kebun binatang. Sebenarnya di kebun binatang ini kita dapat menaiki bus, namun saya memutuskan untuk berjalan kaki. Di sana ada kawasan khusus yang menampilkan berbagai macam binatang, tapi saya tidak jadi masuk ke sana. Saya pun melintasi jalan biasa dan melihat hewan-hewan seperti beruang kutub, harimau, dan sebagainya. Harimau dan singa di taman tersebut diletakkan berdampingan, namun di daratan terpisah.
Saya berkeliling zona lainnya dari Everland. Mainan di sini ternyata menurut saya tidak terlalu seru dibanding di Dufan, kecuali T Express. Namun, saya tetap mencoba satu wahana lagi, yaitu semacam roller coaster dengan rel di atas air. Jadi, harus sedikit basah-basahan. Karena saya tak membawa baju ganti, saya melindungi baju saya dari cipratan air arah depan dengan cara memakai tas ransel saya di depan. Tapi tetap saja, roller coaster ini cukup seru dan menyenangkan.
Sebagai penutup, saya mencoba menaiki gondola yang mirip dengan gondola di Ancol atau TMII, hanya saja lebih pendek. Kebetulan saya sudah lama sekali tidak naik gondola seperti ini, jadi pengalaman ini cukup seru.
Waktu kami di Everland sudah hampir habis. Saya kembali ke bagian depan Everland dimana terdapat banyak spot untuk berfoto walau cuaca gerimis. Ada wahana Pororo, wahana konser K-Pop hologram, dan sebagainya. Banyak yang bilang wahana hologram K-Pop ini merupakan salah satu daya tarik utama Everland selain T Express karena kita bisa mendapat pengalaman menonton konser artis K-Pop secara hologram layaknya konser Hatsune Miku (?), namun karena saya tak terlalu tertarik K-Pop dan bukan penggemar dari artis yang ada, saya pun tak mencoba wahana ini.

Pororo!

K-Pop hologram

Walau waktu saya di Everland singkat, saya cukup menikmati saat di sini. Mengantri wahana pun terasa menyenangkan dengan mendengarkan mereka berbicara bahasa yang hampir tidak saya mengerti mengingat saya baru familiar dengan bahasa ini mulai awal tahun 2014. Kira-kira mirip dengan saya di Hongkong Disneyland 2 tahun lalu, ketika saya familiar dengan bahasa Mandarin tapi hampir tidak saya mengerti artinya kecuali ungkapan-ungkapan sederhana.
Hari sudah malam. Perjalanan di tengah hujan dilanjutkan ke sebuah restoran sederhana. Menurut guide kami, restoran ini menyajikan sup ayam ginseng yang sangat enak. Tapi, ginseng yang ada di sana hanya seruas jari saja alias yang masih kecil. Setidaknya, kita bisa tahu rasa ginseng seperti apa.
Sup sudah ada di atas meja ketika kami tiba di restoran. Sup ini berukuran besar dengan satu ekor ayam kecil utuh disajikan per porsinya. Setelah menambahkan bumbu secukupnya, saya mulai makan.
Ayamnya lumayan enak, seperti ayam tim yang sering saya makan di rumah. Kuahnya sangat enak. Apalagi, di dalam ayam ini ada nasi putih dan ginseng, yang saya tidak tahu bagaimana mereka bisa memasukkan nasi dan ginseng ke dalam ayam itu. Ginseng ternyata enak sekali, dan entah saya beruntung atau apa, saya menemukan dua ruas ginseng di dalam sup saya sedangkan adik saya tidak mendapat seruas pun ginseng di dalam supnya. Hahaha.

Sup ayam ginseng. Enak!
Setelah kenyang, kami berangkat ke Dongdaemun Market. Kami langsung dibawa ke daerah mall di daerah yang khusus diperuntukkan untuk turis asal Indonesia, karena pegawainya bisa bahasa Indonesia. Sayangnya, saya tak bisa ke daerah pasar di Dongdaemun, hanya di mallnya saja, padahal saya sempat browsing dan katanya pasar di Dongdaemun harga suvenirnya lebih murah.
Kami membeli banyak rumput laut kering di sana, dan juga beberapa bungkus rice cake aneka rasa yang sangat enak. Selain itu, saya juga membeli barang untuk teman saya dan aksesori lainnya, seperti bolpoin, kipas, dan botol parfum. Tapi, hal yang menggoda saya adalah kaos Running Man, yang saya langsung beli di situ. Sayangnya kaos itu sepertinya bukan official, tapi tak apalah karena harganya cukup murah. Di toko itu, dijual juga pernak-pernik K-Pop dan Running Man mulai dari kalender, notebook, dan sebagainya. Ternyata Running Man lumayan terkenal juga sampai banyak merchandisenya, pikir saya waktu itu, karena memang di Korea Selatan rating Running Man sedang rendah-rendahnya.
Salah satu sudut toko suvenir di Dongdaemun Market
Malam itu, saya menginap di hotel Golden Forest, hotel yang cukup kecil di dekat Dongdaemun Market. Kamar tempat saya menginap tak sampai setengah dari kamar di The Class 300, tapi tetap nyaman untuk ditinggali. Apalagi ada wifi yang lumayan kencang.
Hari itu berakhir, dan dilanjutkan pada hari keempat.