Rabu, 15 Juli 2009

A Trip to Singapore Part 3

2 Juli
Hari ultah “that special person”. Saya meng-SMS selamat ultah malam sebelumnya, sekitar jam 23.00 WIB, walau sudah mengucapkannya sejak 3 hari sebelumnya. Dan ternyata 1 SMS habis Rp 4000 dengan XL!!! Padahal biasanya hanya 150 rupiah saja. Saya hanya mengucapkan 3 kalimat *isi dirahasiakan*. Dan waktu itu dia merespon dengan lumayan baik setelah sebelumnya kami sempat bertengkar (bahkan sampai sekarang).
Back to the topic, hari itu kami tak melakukan sesuatu yang special, hanya seharian ini kami jalan2 ke pusat oleh2 China Town. China Town kalau di Indonesia kira2 mirip dengan Kampung Cina di Kota Wisata Cibubur (kalau saya tak salah ingat). Pokoknya, banyak ruko2 berarsitektur oriental, yang menjual berbagai macam barang, tak cuma barang berbau oriental saja. Justru yang paling banyak ditemui di sini adalah souvenir Singapore, seperti gantungan kunci Merlion, tas bertuliskan Singapore (dan berlambang Merlion juga), dan sebagainya. Ada juga yang menjual barang elektronik (laptop, PSP, dan sebagainya), dengan harga yang hampir sama dengan harga barang elektronik itu di Mangga Dua. Ada juga semacam pusat jajanan dengan harga yang beragam dan makanan yang bervariasi, yang kalau malam tiba, jalan2 di sekitar sana ditutup dan digelar meja dan kursi (jadi semacam Gading Food City yang terletak di dekat MKG begitu). Namun yang menarik perhatian saya adalah plush yang lucu2, dari yang bentuknya bola sepak sampai yang menurut saya paling lucu yaitu lumba2 pink (bisa dijadikan souvenir di Dolphin Lagoon X3). Saya ingin mencarinya di Jakarta. Kira2 ada tidak ya?

3 Juli
Hari terakhir kami di Singapore. Pagi2 kami bangun sekitar jam 5 waktu setempat, dan berangkat dengan taksi yang sudah dipesan dari hari sebelumnya pukul 6. Kami melewati jalan2 Singapore yang masih gelap. Namun, mungkin karena rutenya berbeda atau apa (saya tak tahu karena selama di Singapore kami naik MRT), kalau pas dari bandara ke hotel kami melewati Singapore Flyer (semacam bianglala raksasa yang menjadi landmark Singapore, katanya kalau dari sana kita bisa melihat pemandangan seluruh Singapore seperti sky tower di Sentosa Island).
Sampai di Changi Airport pun ternyata belum banyak toko yang buka. Sehingga kami memutuskan untuk berjalan2 saja, melihat2 stasiun MRT dan sebagainya.
Penerbangan ke Jakarta adalah jam 9 waktu setempat. Dan dengan demikian berakhirlah perjalanan saya selama 3 hari di Singapore.

A Trip to Singapore Part 2

1 Juli

Hari ini kami bangun agak siang, sekitar jam 10-an waktu setempat. Hari itu rencananya kami akan pergi ke Sentosa Island.
Kami makan pagi di Food Court di bawah Ngee Ann City/Dept Store Takashimaya. Harga makanan di sini relative murah untuk ukuran di Singapore, sekitar 3-6 S$. Hari itu saya memesan Beef Noodles with Sauce seharga 5S$.
Kemudian kami pergi ke Supermarket di dekat food court tersebut, dan menemukan bahwa air minum di sana jauh lebih murah. Kami membeli air minum seharga 0.65 S$ saja atau sekitar 4 ribu rupiah. Jadi hanya 2 kali lebih mahal dibandingkan air minum di sini.
Lalu kami pulang ke hotel untuk menaruh barang2 belanjaan kami di supermarket tersebut. Setelah itu, sekitar jam 1 siang waktu setempat kami berjalan menuju stasiun MRT Orchard (belakangan kami mengetahui bahwa stasiun MRT yang paling dekat dengan hotel adalah Somerset dan bukannya Orchard).
Kami membeli tiket MRT di mesin khusus seperti vending machine. Lalu kami mendapatkan tiket yang berupa kartu, dan hanya dengan menempelkannya di mesin pembuka pintu, pintu akan terbuka dengan sendirinya. (kalau mau curang bisa saja kita merangkak dari kolong pintu XP).
Karena baru pertama kali naik MRT, kami tak mengetahui bahwa kami harus turun ke bawah tanah dengan escalator. Alhasil kami malah keluar lagi dan tidak bisa masuk karena tiket hanya bisa digunakan untuk 1 kali perjalanan. Kami pun meminta bantuan petugas agar mengizinkan kami masuk tanpa harus mengulang membayar tiket. Untungnya kami diizinkan petugas itu.
Kami pun turun ke bawah tanah dan menaiki MRT. Ternyata banyak yang menggunakan MRT, terutama karyawan kantor dan anak sekolah (walaupun di Indonesia sedang musim liburan sekolah, namun di Singapore tidak). Kami menaiki MRT dan kemudian turun di stasiun Dobby Ghaut Interchange.
Sampai di sana, ternyata stasiun Dobby Ghaut lebih besar daripada stasiun Orchard. Lalu kami menanyakan arah ke Harbour Front pada petugas, dan kami pun naik MRT ke arah Harbour Front. Saya jadi berpikir kalau seandainya ada MRT di Jakarta saja (tak usahdi seluruh Indonesia, cukup Jakarta saja misalnya), saya akan menaikinya untuk pergi-pulang dari rumah ke sekolah. Selain harganya murah, keretanya juga nyaman karena ber-AC, tak boleh ada yang merokok, serta sangat cepat sampai tujuan.
Kami turun di stasiun Harbour Front. Ternyata stasiun ini terletak di dekat mall yaitu Vivo City, yang menurut buku panduan merupakan mall terbesar di Singapore. Dari mall ini kami dapat melihat skylift yang nantinya akan membawa kami menyebrang ke Sentosa Island.
Sebenarnya ada 3 pilihan kendaraan menuju Sentosa, mau naik bus, naik ferry atau skylift. Namun kami memilih menaiki Skylift saja. Kami memilih paket tur seharga 700 ribu per orang, ke 3 tujuan wisata + naik skylift pulang-pergi.
Kami pun naik ke lantai 15 gedung tiket skylift, kemudian skylift kami menuju ke Sentosa Island. Pemandangan dari sekitar ketinggian 15 lantai pada sore hari sangat indah. Dari skylift kita dapat melihat laut, pelabuhan, dan patung Merlion dari jauh. Walaupun adik saya menyumpahi bahwa skylift kami akan jatuh ke laut, tapi akhirnya skylift tiba di Pulau Sentosa dengan selamat.
Sampai di sana, kami diajak oleh pemandu tur berkeliling ke beberapa tempat wisata yang ada. Namun sebelumnya, kami boleh berjalan2 di sekitar kawasan stasiun skylift untuk melihat2 wahana. Ada semacam sky tower dimana pengunjung akan dibawa naik sampai kira2 setinggi gedung 20-30 lantai. Katanya, jika langit cerah, pengunjung dapat pula melihat daratan Malaysia dan beberapa pulau di utara Indonesia.
Ada pula Museum Nasional Singapore (yang sayangnya sudah tutup). Dan masih banyak lagi wahana menarik yang ada di Pulau tersebut.
Jam 5 sore, tur dimulai. Pertama, kami menuju Dolphin Lagoon. Ini mirip Gelanggang Samudra di Ancol, tepatnya di bagian wahana lumba2. Namun, bedanya, lumba2 disini warnanya pink >w< (entah karena dicat atau memang aslinya warnanya pink). Lokasinya juga bukan di dalam arena tertutup, melainkan di pinggir pantai. Jadi, sangat alami. Pemandu acara dan pelatih lumba2nya memakai Bahasa Inggris. Dan yang paling istimewa, kalau di Ancol kita (tepatnya anak2) hanya dapat menaiki perahu karet didorong lumba2, di sini kita dapat bermain secara langsung dengan lumba2 pink itu, dan kita terjun langsung ke dalam air. Pesertanya juga bukan hanya anak2 saja.
Kemudian kami naik bus lagi (antar tempat wisata perjalanan ditempuh menggunakan bus) menuju tempat wisata berikutnya. Kami melewati patung Merlion yang ternyata sangat besar (namun lebih besar Monas sepertinya). Karena bus melaju cepat, dan saya duduk di sebelah kanan (sementara Merlion di sebelah kiri), jadi saya tak bisa memotret lambang dari Singapore tersebut.
Kedua, kami menuju ke Underwater World. Tempat ini secara umum mirip dengan Seaworld Ancol, hanya saja 5 kali lebih bagus. Menurut daftar harga tiket, memang di sini inilah yang paling mahal tiket masuknya. Tapi, pengalaman di sana memang benar2 menyenangkan. Kita dapat melihat berbagai jenis hewan laut, dari ikan arwana yang besar seukuran lumba2 (yang katanya kalau dijual harganya bisa sampai 2 milyar), angel fish yang kecil dan memancarkan cahaya kemerahan, sampai ubur2 yang transparan.Yang paling berbeda dengan Seaworld adalah, seingat saya Seaworld kurang dalam hal pencahayaan sehingga menimbulkan kesan misterius *halah*,sedangkan di sini menyenangkan kesannya karena lampunya berwarna-warni (meski didominasi biru). Di tengah2 wahana, tepatnya dekat pintu masuk, juga ada akuarium besar sekali, berbentuk tabung memanjang dari lantai pintu masuk sampai lantai dasar wahana itu.(yang terletak di bawah tanah). Semoga Seaworld nantinya bisa sebagus Underwater World (karena saya terakhir kali ke Seaworld beberapa tahun lalu pas SMP, tak ada perubahan berarti dibandingkan ketika saya ke tempat yang sama pas 2 SD).
Ketiga sekaligus terakhir adalah Cineblast. Secara keseluruhan tak ada yang istimewa dengan ini, karena merupakan sinema 4 dimensi saja, hanya bedanya menggunakan Bahasa Inggris. Mungkin ini sama saja seperti Sinema 4 Dimensi di Ancol (saya bilang MUNGKIN karena saya sendiri belum pernah ke sana karena tiket masuknya yang katanya sangat mahal). Yah, kira2 mungkin mirip dengan permainan Discovery Wings di Dufan, lah…
Kemudian, karena katanya ada pertunjukan Songs of the Sea di daerah pantai, kami pun naik bus Sentosa Island (yang tiketnya GRATIS) untuk menuju pantai(kawasan Beach Station). Ternyata acaranya sudah mulai, dan tiket masuknya 10 S$. Akhirnya untuk mengirit biaya (?) kami memutuskan untuk mencari tempat dimana saya bisa menonton acara itu secara gratis. Ternyata, setelah saya lihat, acaranya biasa saja, hanya semacam permainan cahaya serta ombak yang dimainkan menjadi semacam air mancur menari. Ada juga kembang apinya. Sebenarnya di bagian akhir permainan cahaya, ombak, dan kembang apinya lumayan menarik sih, namun saat itu saya hanya membawa HP berkamera VGA dan tak membawa digicam sehingga saya tak bisa mengabadikannya.
Setelah itu, kami kembali lagi ke Stasiun Skylift untuk kemudian kembali lagi ke Harbour Front. Sebenarnya, kami boleh saja naik Skylift ke daerah Mount Faber, namun kami tak tahu jalan sehingga kami memutuskan untuk sampai di Harbour Front saja.
Pemandangan malam Singapore ternyata lebih indah dibandingkan sore hari. Lampu kota bergemerlapan, persis jika kalian melihat kota Jakarta dari puncak gedung tinggi pada malam hari.Namun bedanya, karena dekat pelabuhan, ini ditambah lagi dengan pemandangan kapal2 pesiar. Kami sempat melihat dan memotret kapal Superstar Virgo yang terkenal itu. (Jadi ingin naik kapal pesiar XD).
Lalu kami makan malam lagi2 di foodcourt Vivo City, kemudian kami menuju Stasiun MRT Harbour Front dan kembali ke hotel.

A Trip to Singapore (PART 1)

Di tengah berbagai masalah yang melanda (terutama dengan “seseorang yang kini telah meninggalkanku tanpa alasan jelas” itu)… Saya memutuskan untuk membuat cerita tentang perjalanan saya ke Singapore 1 minggu lalu.

Perjalanan berlangsung dari hari Selasa, 30 Juni sampai dengan Jumat, 3 Juli.

30 Juni

Karena mendapatkan tiket pesawat sore hari, tepatnya jam 17.00, maka pada hari itu seperti biasa saya mengawali pagi hari dengan bermain internet.
Kemudian, menjelang siang, barulah kegiatan beres-beres dimulai, dan singkat cerita, kami sekeluarga berangkat dari rumah menuju bandara jam 2 siang.
Perjalanan menuju bandara agak macet, sehingga kami hampir telat ke bandara.
Sampai di bandara, kami mengurus bagasi, mengisi formulir kedatangan dan keberangkatan, sementara itu orangtua saya mengurus NPWP (karena katanya bagi yang memiliki NPWP akan diberikan keringanan fiscal, CMIIW).
Akhirnya, kami melewati lorong menuju ruang tunggu pesawat. Karena saya baru pertama kali ke luar negeri, maka saya baru menyadari bahwa di bandara Soekarno-Hatta ada toko2 (semacam butik) begitu juga…. (hehehehehehehe)
Tak lama setelah menunggu, penumpang pun dipanggil untuk naik ke pesawat. Kami menaiki pesawat Singapore Airlines, tapi hanya yang kelas ekonomi. Meski demikian tetap saja saya senang karena baru pertama kali saya menaiki pesawat besar dengan 9 tempat duduk di tiap barisnya (karena sebelumnya saya hanya pernah menaiki pesawat2 dari Air Asia dan Mandala Airlines, yang hanya 6 tempat duduk di tiap barisnya). Waktu pergi kali ini kebetulan saya mendapatkan tempat duduk di barisan tengah, bukan dekat jendela.
Di pesawat saya mendengarkan music dari HP. Dan tak lama kemudian, saya ditawari makanan oleh pramugari (dalam bahasa Inggris tentunya). Saya memilih chicken pasta dan rasanya ternyata lumayan enak. Kemudian, saya mendapati ada semacam remote control di samping tempat duduk dan ketika saya utak-atik ternyata di layar yang ada di tempat duduk depannya ada video, games, dan lainnya (beginilah orang yang baru pertama kali naik pesawat ke luar negeri XP).

Menjelang pesawat mendarat, saya melihat keluar jendela dan mendapati bahwa langit pada sore itu sangat indah, karena matahari hampir terbenam. Saya menyesal tak datang lebih awal ke bandara sehingga saya tak mendapatkan tempat duduk yang dekat jendela, padahal saya ingin memotret langit sore itu.
Sampai di Bandara Changi, waktu setempat telah menunjukkan pukul 19:30. Tapi menurut saya, dilihat dari letak geografis Singapore yang bisa dilihat di peta, dan dari pengamatan saya, sebenarnya tak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Singapore. Keduanya sama2 terletak di wilayah +7.00 GMT. Namun, pemerintah setempatlah yang membuat perbedaan waktu tersebut. Buktinya, saat pukul 7 malam waktu Singapore, langit masih terang seperti jam 6 sore di Jakarta. Sedangkan pada pukul 6 pagi waktu Singapore, langit masih gelap seperti jam 5 subuh di Jakarta.
Kemudian, kami berlima memutuskan untuk memakai taksi. Sayangnya, kata petugas, taksi yang dinaiki maksimal 4 orang penumpang dalam 1 taksi. Sehingga kami memutuskan untuk menyewa taksi besar (pakai mobil minibus Mercy) saja. Dan karena hari sudah malam, maka tarif taksi dimahalkan. Kami harus membayar 50 dollar Singapore hanya untuk taksi dari Changi Airport ke hotel kami menginap, yaitu Meritus Mandarin yang terletak di Orchard Road.
Kami sampai di hotel. Dan ternyata kami mendapati bahwa kamar kami terletak di kawasan “smoking” (hotel ini mempunyai 2 kawasan, yaitu “non smoking”yang terletak di lantai 1-14 dan “smoking” yang terletak di lantai 15-terakhir, kami menginap di lantai 18).
Ketika kami membuka pintu kamar, ternyata hotel ini bagusnya tak jauh berbeda dengan hotel-hotel berbintang 5 di Jakarta. Sayangnya, hotel ini pada saat kami menginap tidak mempunyai kolam renang karena sedang direnovasi.
Kemudian kami berjalan2 di sepanjang Orchard Road dan mendapati bahwa di kawasan ini seperti kawasan Sudirman-Thamrin di Jakarta, hanya saja jalannya lebih lebar. Karena belum makan malam dan pada saat itusudah menunjukkan sekitar jam 10 malam, kami makan di McDonalds. Harga makanan di McD sini sekitar 2-3 kali lebih mahal dibandingkan di Indonesia. Misalnya, McFlurry yang di sini harganya Rp 5.500,- di sana harganya 2 S$ (sekitar Rp 14.000,-).
Kami juga membeli air minum untuk minum kami sepanjang sisa hari itu. Kami membelinya di Minimarket Seven Eleven yang ada di stasiun MRT Orchard. Air minum di minimarket itu sekitar 1-6 S$ tergantung merknya, jadi lebih mahal disbanding air minum di sini.

Bersambung ke hari berikutnya