Sabtu, 06 Desember 2014

Mengenang Preklinik Fk Atmajaya (2): Objective Structural Clinical Examination, Student Oral Case Analysis, dan Karya Tulis Ilmiah

Inilah tiga ujian besar yang dihadapi oleh anak FK Atma. Ujian skill yang disingkat OSCE, diadakan tiap semester. Dan ujian teori lisan yaitu SOCA, diadakan tiap tahun pada semester genap. Khusus semester 7, diadakan ujian gabungan OSCE dan SOCA yang dinamakan OSCA. Satu lagi, karya tulis ilmiah alias KTI alias skripsi.
OSCE menguji skill yang telah dipelajari di skill lab selama 1 semester yang telah dipilihkan oleh tim penguji. Khusus semester 7, OSCE menguji skill selama 7 semester (namun sekali lagi, tidak semua).
Sistem OSCE ini berupa pos-pos. Satu pos menguji satu skill dengan waktu 5 menit atau 10 menit tergantung skillnya. Ketika saya semester 6, peraturan ini diubah menjadi satu pos waktunya 10 menit, dan dalam 1 pos dapat ada 1-2 skill. Jadi kita tidak bisa menebak berapa skill yang diujikan.
Sebelum ujian, peserta dikumpulkan di ruang karantina dan kemudian dipanggil sesuai kloter. Peserta dalam satu kloter dapat ujian di 4 lokasi berbeda yang dibagi menurut absen. Kemudian, peserta pun masuk ke lokasi dan menempati pos masing-masing, untuk kemudian melakukan skill yang diujikan di pos tersebut. Setelah bel berbunyi, peserta wajib pindah ke pos berikutnya, selesai atau tidak.
Ujian OSCE ini sebenarnya menurut saya 80% skill dan 20% keberuntungan, khususnya untuk skill dengan manekin. Misalnya, ada manekin yang sangat mudah untuk dilakukan skill tertentu, dan sebaliknya. Karenanya, sebelum ujian, sebaiknya kita berdoa semoga mendapatkan manekin yang mudah, dan penguji yang baik serta ketenangan melakukan skill, pastinya.
SOCA-lah yang menurut saya 60% keberuntungan dan 40% skill. Teknisnya, beberapa minggu sebelum ujian, peserta diberikan clue gejala-gejala keluhan utama yang akan muncul (contoh: demam), sekitar 8-13 gejala. Gejala-gejala ini nantinya menjadi pegangan bagi kita untuk mempelajari sebanyak mungkin penyakit dengan gejala tersebut.
Pada saat ujian, peserta dikumpulkan di ruang karantina dan dipanggil menurut kloter, dimana 1 kloter 20 orang. Kemudian, masing-masing peserta mengambil undian, dan pergi menuju meja yang sudah dinomori sesuai di undian. Di sinilah keberuntungan pertama harus bekerja, karena di atas meja terdapat spidol, beberapa lembar kertas buram ukuran besar, dan ... soal ujian berupa kasus disertai sejumlah pertanyaan. Banyak-banyak berharaplah agar soal ujiannya mudah dan kita sudah mempelajarinya. Peserta diberi waktu menuliskan jawaban soal di kertas flipchart.
Setelah itu, keberuntungan kedua bekerja. Peserta memasuki ruangan sesuai dengan nomor undian tadi. Satu ruangan berisi 2 dosen. Setiap dosen memiliki preferensi berbeda-beda dalam menilai, sehingga berharaplah mendapat dosen yang royal nilai pada peserta terutama jika keberuntungan pertamamu tidak bekerja dengan baik. Di ruangan ini, para peserta mempresentasikan jawaban mereka yang sudah ditulis tadi. Kemudian, dosen menanyakan beberapa pertanyaan untuk mengklarifikasi jawaban peserta. Barulah peserta diumumkan kelulusannya.
OSCE dan SOCA sama-sama menggembirakan ketika diumumkan lulus. Namun, meski biaya remedialnya lebih murah, euforia lulus SOCA lebih terasa. Mungkin karena persiapannya yang lebih lama dan matang.
Namun, diantara semuanya, KTI-lah yang menjadi penyebab terbanyak tertundanya kelulusan mahasiswa. Mulai semester 4, tiap mahasiswa sudah diberikan satu pembimbing utama untuk membuat KTI, yang dapat dipilih secara acak atapun menurut preferensi mahasiswa tersebut, tergantung pembimbing. Dan layaknya di fakultas atau universitas lain, faktor mahasiswa dan faktor pembimbing ini sama-sama menjadi penentu kelancaran KTI. Solusi yang mungkin bisa saya sarankan adalah berusaha rajin sedini mungkin, agar tidak terlambat menyelesaikan KTI nantinya.

Kamis, 27 November 2014

Mengenang Preklinik FK Atmajaya (1): Problem Based Learning dan Skill Lab

Dikarenakan traffic blog saya terhadap keyword "FK Atmajaya" cukup tinggi, akhirnya saya iseng bikin ginian. Lumayan untuk mengenang masa preklinik berhubung saya hampir menyelesaikannya.
Jadi, di FK Atma itu selain ada kuliah biasa, juga ada Problem Based Learning(PBL) dan Skill Lab (SL). Apakah itu?
PBL, atau mungkin di tempat lain disebut diskusi atau tutorial, adalah suatu studi kasus yang dilakukan secara berkelompok. Di FK Atma, PBL menggunakan metode seven steps dan terdiri atas 2 kali pertemuan, dengan rincian:
Pertemuan 1:
1. Klarifikasi istilah yang kurang jelas atau kurang dimengerti
2. Menentukan masalah dalam skenario
3. Brainstorming untuk menjawab masalah menggunakan prior knowledge
4. Diskusi terhadap hasil brainstorming dan membuat skema diskusi hari itu
5. Menentukan learning objective, yaitu apa yang harus dipelajari lagi hari itu dan untuk pertemuan 2
Pertemuan 2:
6. Belajar mandiri
7. Memaparkan hasil yang sudah dipelajari dari belajar mandiri sebelum pertemuan 2
Dalam PBL, 1 kelompok terdiri atas 11-15 orang dan dibagi dalam 16 kelompok. Kelompok ini diacak tiap semesternya. Jadi berharaplah mendapat teman sesuai keinginanmu.
PBL asalah kegiatan yang wajib dihadiri, dan semua anggota wajib aktif. Setidaknya tiap step berpartisipasi dan disesuaikan dengan skenario. Jadi ngomongnya gak ngawur-ngawur amat.
Penilaian tergantung dosen, ada dosen yang menilai menurut berapa kali seorang ngomong dalam 1 PBL, ada dosen yang ngomong secukupnya tak apa asal sesuai skenario, dsb. Tergantung nanti dapat dosen yang mana. Yang penting aktif saja, karena nilai PBL kita harus >45.
Sedangkan SL adalah latihan keterampilan kedokteran. Latihan ini diadakan di ruangan kecil berisi tempat tidur pasien dan beberapa kursi dan meja, dimana dilakukan dengan teman sekelompok PBL dan seorang tutor. SL juga terdiri atas 2 pertemuan. Pertemuan 1, tutor akan memperagakan cara melakukan skill yang diajarkan pada hari itu, dan pada pertemuan 2 kita melakukan skill yang diajarkan, entah pada teman sekelompok, pada manekin, atau pada pasien simulasi. Setiap skill akan diberikan checklist. Cara paling aman adalah mengikuti checklist sebaik-baiknya. Namun untuk prakteknya, kadang ada beberapa skill yang tak harus sesuai urutan. Yang penting semuanya dilakukan dengan sempurna.
Di angkatan saya, SL tidak dinilai. Tapi, di angkatan 2012 dan seterusnya, SL dinilai. Jadi, persiapkan diri untuk pertemuan 2 dengan baik, ya!

Rabu, 12 November 2014

Tur Korea (4): Keliling Seoul

Pagi ini, saya sarapan di restoran hotel yang kecil, dengan makanan yang biasa saja. Dalam hati, saya bersyukur pesawat dibatalkan waktu itu. Setidaknya saya tak perlu menginap di sini 2 hari.
Hari keempat saya di Korea adalah tur keliling kota Seoul. Kami mengawali hari kami dengan tur ke pabrik ginseng. Ginseng Korea memiliki keistimewaan yaitu bersifat netral, tidak seperti ginseng China yang bersifat panas atau ginseng Amerika yang bersifat dingin, sehingga bisa dimakan oleh penderita penyakit apapun.
Di pabrik ginseng yang terletak sebelah showroom mobil itu, kami diberikan penjelasan mengenai ginseng dan diberikan minum teh ginseng. Ternyata, harga ginseng itu sangat mahal, lebih mahal dari tablet yang saya pakai untuk menulis entri ini. Namun, karena khasiatnya yang sudah terkenal, akhirnya masing-masing peserta tur membeli ginseng.

Pabrik ginseng

Perjalanan kami dilanjutkan ke sebuah toko kosmetik. Di perjalanan, saya melihat iklan Gary dari Running Man mengiklankan produk Mizuno. Dia terlihat lebih keren daripada biasanya. Saat kami sampai di toko kosmetik, kami diberikan demo beberapa produk, seperti pelembab, BB cream, dan sebagainya. Namun, saya tidak membeli apa-apa di toko kosmetik tersebut.
Setelah itu, kami makan siang. Makan siang kali ini sangat enak. Seporsi besar bulgogi dihidangkan di meja kami masing-masing. Rasanya enak sekali, sampai saya menghabiskan 2 porsi bulgogi bersama dengan 2 anggota keluarga saya yang semeja dengan saya. Setelah makan, saya mencoba susu rasa pisang yang dibeli ayah saya. Karena rasanya sangat enak, saya pun membeli sebotol susu tersebut.
Kami kemudian ke toko obat-obatan berikutnya. Obat kali ini adalah obat herbal bernama Hominia dulcis yang diklaim bisa membuat AST dan ALT dari seseorang tetap dalam batas normal. Karena masih butuh penelitian lebih lanjut, akhirnya kami semua tak ada yang membeli obat tersebut. Di luar toko, saya melihat sebuah minimarket dengan di depannya terpampang iklan Coca Cola yang dibintangi oleh Yoo Jae-suk. Wah, orang ini terkenal sekali ternyata.

Pemandangan kota dan sungai Han
Pulang dari toko obat, kami ke wilayah bagian selatan Seoul. Di peta yang saya dapatkan, Seoul dibagi menjadi 2 bagian besar, bagian utara dan bagian selatan, yang dibatasi oleh sungai Han. Bagian utara dan selatan itu dapat dibagi lagi menjadi bagian timur dan barat, yang akan saya bahas lagi dalam beberapa entri ke depan.

Pabrik amethyst
Kami berhenti di pabrik amethyst, namun karena saya tak menyukai perhiasan, saya tak membelinya. Sebagai gantinya, saya dan keluarga saya berfoto-foto dengan latar belakang gedung tinggi di sekitar.

Kami kembali lagi ke bagian utara Seoul, tepatnya ke daerah Hongdae. Di sana, kami menonton Wedding Show, salah satu pertunjukan teatrikal baru yang menarik di kota Seoul, selain Nanta Show yang sudah lebih dulu terkenal. Pemain di show itu hanya berjumlah 7 orang, namun semuanya sangat multitalenta. Mereka menyanyi, menari, dan juga bermain aneka alat musik. Lagu tema utamanya adalah Bruno Mars - Marry You, tapi mereka juga membawakan banyak lagu lainnya dalam pertunjukan teatrikal tersebut. Salah satu lagu lain yang paling saya ingat adalah Tsubasa o Kudasai yang saya kenal dibawakan Houkago Tea Time di anime K-On.
Selesai menonton, kami pergi ke Myeongdong Market. Di sana, kami mengunjungi sebuah restoran dan mengonsumsi ayam dengan saus yang saya lupa saus apa, tapi rasanya agak asin-asin asam namun lumayan enak. Porsi ayam tersebut sangat besar sehingga kami semua tak sanggup menghabiskannya.
Kekenyangan, kami keluar restoran dan menuju Myeongdong Market untuk belanja. Pasar ini suasananya mirip Passer Baroe di Jakarta, hanya saja barang yang dijual mayoritas adalah kosmetik. Di sini banyak dijual kosmetik merek asal Korea dengan harga yang jauh lebih murah daripada di Jakarta. Saya membeli kuteks berbagai warna dengan harga hanya sekitar 30 ribu rupiah, dimana di Jakarta harganya untuk jenis dan merk sama adalah 60-75 ribu rupiah.
Suasana Myeongdong

Malam semakin larut. Saya kembali ke meeting point. Di sini saya baru menyadari bahwa Kim Soo Hyun amat sangat terkenal di sini sampai ada museumnya yang terletak di seberang meeting point saya.
Kami kembali ke bus, lalu berangkat menuju hotel. Hotel kami hari ini adalah hotel Kyungnam yang lumayan besar dan luas kamarnya. Kami tidak sarapan di hotel untuk pagi terakhir kami di Korea esoknya, jadi kami memesan McD. Usai mendapat kunci kamar, kami masuk ke kamar dan membereskan barang bawaan untuk bersiap pulang esok hari.

Kamis, 06 November 2014

Tur Korea (3): T-Express dan Running Man

Hari itu benar-benar menjadi puncak dari rasa cinta saya pada variety show yang satu ini, dimana bahasan mengenai variety show ini akan saya bahas kemudian di blog ini.
Pagi hari saya lalui dengan mandi di kamar mandi hotel yang sangat besar. Hotel ini memiliki bathtub DAN shower di dua tempat terpisah, serta toilet dengan berbagai macam pengaturan canggih dalam huruf Hangul yang mirip seperti toilet di Jepang. Bisa dibayangkan betapa bagusnya hotel ini, bukan?
Kemudian, saya sarapan di lantai atas hotel dekat jendela setelah sebelumnya sempat menonton Running Man di kamar hotel, walau tidak full 1 episode. Tak seperti Boutique 9, wifi hotel ini hanya ada di restoran dan lobi. Namun, hotel ini tetap sangat bagus. Sarapan hari itu sangat enak, dimulai dari sarapan ala Amerika seperti bacon, sosis, ham, omelet, potato wedges, dan lainnya; sarapan ala Jepang seperti udon; Cina seperti siomay, dan lainnya saya lupa saking banyaknya. Sambil sarapan, kita bisa browsing dengan wifi yang lumayan cepat dan juga melihat pemandangan dari lantai teratas hotel. Pemandangan daerah sekitar yang ternyata dekat dengan laut perbatasan antara Korea Utara dengan Korea Selatan.
Kenyang makan, kami bersiap-siap berangkat meninggalkan Mt. Sorak menuju Everland. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 3 jam. Selama perjalanan, kami menonton film "200 Pounds Beauty" dari TV di bus. Perjalanan berjalan menyenangkan walau cuaca gerimis. Hal yang saya perhatikan, selama perjalanan 3 hari ini supir busnya memiliki driving skill yang sangat bagus. Bus kami selalu melaju di jalur kiri (seperti jalur kanan kalau di Indonesia), dengan kecepatan sangat tinggi, tapi tidak membuat deg-degan atau semacamnya karena cara menyetirnya sangat enak, tidak ngerem mendadak atau sejenisnya.
Akhirnya, kami sampai di Everland, dengan cuaca yang mendung tapi tak hujan, cocok untuk bermain di luar seperti ini. Everland adalah taman bermain dengan dekorasi menarik dan warna-warni, terbesar di Korea Selatan. Everland dibagi dalam 3 bagian besar, yaitu zona petualangan, zona kebun binatang, dan satu lagi spot untuk foto-foto. Atraksi utama di sini adalah T Express, roller coaster kayu dengan ketinggian 56 meter yang kemiringannya lebih dari 80 derajat dan dinobatkan menjadi roller coaster kayu tercuram di dunia. Sekadar info, tidak sampai 1 minggu setelah saya ke Everland, beberapa member Running Man dan para tamu berkunjung ke sini untuk syuting. Sudah menontonkah kalian?
T Express

Masuk ke Everland, kami berjalan menuju semacam kereta layang yang bergerak menurun dari tempat kami yang lebih tinggi ke daerah T Express yang lebih rendah. Kami naik kereta tersebut. Perjalanan terasa sangat menyenangkan, apalagi dari kejauhan terlihat T Express berdiri megah, membuat saya ingin segera menaiki wahana tersebut.

T Express dilihat dari kereta layang
Rombongan kami pun berpencar. Saya dan beberapa lainnya memutuskan pergi ke T Express. Walau antriannya diperkirakan mencapai 1 jam, kenyataannya tak selama yang diperkirakan. Setelah menitipkan sepatu dan tas kami di loker yang tersedia, kami pun menaiki kereta. Kereta di T Express ada 3 buah dan semua berangkat selisih beberapa menit, karena waktu atraksi ini sendiri lama yaitu sekitar 3 menit.
Kami memakai sabuk pengaman, dan kereta bergerak perlahan. Saya masih ingat betul sensasi menaiki kereta ini. Kereta yang awalnya naik, lalu mendatar dan berbelok sejenak sebelum sampai ke turunan curam yang membuat semuanya berteriak dan susah menahan diri untuk tetap membuka mata. Dilanjutkan dengan berbagai tanjakan, turunan, dan belokan yang seakan tiada ujung. Namun, saat kereta melambat, perasaan takut pun berganti perasaan senang. "Kepengen lagi", intinya.
Setelah itu, saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke arah kebun binatang. Sebenarnya di kebun binatang ini kita dapat menaiki bus, namun saya memutuskan untuk berjalan kaki. Di sana ada kawasan khusus yang menampilkan berbagai macam binatang, tapi saya tidak jadi masuk ke sana. Saya pun melintasi jalan biasa dan melihat hewan-hewan seperti beruang kutub, harimau, dan sebagainya. Harimau dan singa di taman tersebut diletakkan berdampingan, namun di daratan terpisah.
Saya berkeliling zona lainnya dari Everland. Mainan di sini ternyata menurut saya tidak terlalu seru dibanding di Dufan, kecuali T Express. Namun, saya tetap mencoba satu wahana lagi, yaitu semacam roller coaster dengan rel di atas air. Jadi, harus sedikit basah-basahan. Karena saya tak membawa baju ganti, saya melindungi baju saya dari cipratan air arah depan dengan cara memakai tas ransel saya di depan. Tapi tetap saja, roller coaster ini cukup seru dan menyenangkan.
Sebagai penutup, saya mencoba menaiki gondola yang mirip dengan gondola di Ancol atau TMII, hanya saja lebih pendek. Kebetulan saya sudah lama sekali tidak naik gondola seperti ini, jadi pengalaman ini cukup seru.
Waktu kami di Everland sudah hampir habis. Saya kembali ke bagian depan Everland dimana terdapat banyak spot untuk berfoto walau cuaca gerimis. Ada wahana Pororo, wahana konser K-Pop hologram, dan sebagainya. Banyak yang bilang wahana hologram K-Pop ini merupakan salah satu daya tarik utama Everland selain T Express karena kita bisa mendapat pengalaman menonton konser artis K-Pop secara hologram layaknya konser Hatsune Miku (?), namun karena saya tak terlalu tertarik K-Pop dan bukan penggemar dari artis yang ada, saya pun tak mencoba wahana ini.

Pororo!

K-Pop hologram

Walau waktu saya di Everland singkat, saya cukup menikmati saat di sini. Mengantri wahana pun terasa menyenangkan dengan mendengarkan mereka berbicara bahasa yang hampir tidak saya mengerti mengingat saya baru familiar dengan bahasa ini mulai awal tahun 2014. Kira-kira mirip dengan saya di Hongkong Disneyland 2 tahun lalu, ketika saya familiar dengan bahasa Mandarin tapi hampir tidak saya mengerti artinya kecuali ungkapan-ungkapan sederhana.
Hari sudah malam. Perjalanan di tengah hujan dilanjutkan ke sebuah restoran sederhana. Menurut guide kami, restoran ini menyajikan sup ayam ginseng yang sangat enak. Tapi, ginseng yang ada di sana hanya seruas jari saja alias yang masih kecil. Setidaknya, kita bisa tahu rasa ginseng seperti apa.
Sup sudah ada di atas meja ketika kami tiba di restoran. Sup ini berukuran besar dengan satu ekor ayam kecil utuh disajikan per porsinya. Setelah menambahkan bumbu secukupnya, saya mulai makan.
Ayamnya lumayan enak, seperti ayam tim yang sering saya makan di rumah. Kuahnya sangat enak. Apalagi, di dalam ayam ini ada nasi putih dan ginseng, yang saya tidak tahu bagaimana mereka bisa memasukkan nasi dan ginseng ke dalam ayam itu. Ginseng ternyata enak sekali, dan entah saya beruntung atau apa, saya menemukan dua ruas ginseng di dalam sup saya sedangkan adik saya tidak mendapat seruas pun ginseng di dalam supnya. Hahaha.

Sup ayam ginseng. Enak!
Setelah kenyang, kami berangkat ke Dongdaemun Market. Kami langsung dibawa ke daerah mall di daerah yang khusus diperuntukkan untuk turis asal Indonesia, karena pegawainya bisa bahasa Indonesia. Sayangnya, saya tak bisa ke daerah pasar di Dongdaemun, hanya di mallnya saja, padahal saya sempat browsing dan katanya pasar di Dongdaemun harga suvenirnya lebih murah.
Kami membeli banyak rumput laut kering di sana, dan juga beberapa bungkus rice cake aneka rasa yang sangat enak. Selain itu, saya juga membeli barang untuk teman saya dan aksesori lainnya, seperti bolpoin, kipas, dan botol parfum. Tapi, hal yang menggoda saya adalah kaos Running Man, yang saya langsung beli di situ. Sayangnya kaos itu sepertinya bukan official, tapi tak apalah karena harganya cukup murah. Di toko itu, dijual juga pernak-pernik K-Pop dan Running Man mulai dari kalender, notebook, dan sebagainya. Ternyata Running Man lumayan terkenal juga sampai banyak merchandisenya, pikir saya waktu itu, karena memang di Korea Selatan rating Running Man sedang rendah-rendahnya.
Salah satu sudut toko suvenir di Dongdaemun Market
Malam itu, saya menginap di hotel Golden Forest, hotel yang cukup kecil di dekat Dongdaemun Market. Kamar tempat saya menginap tak sampai setengah dari kamar di The Class 300, tapi tetap nyaman untuk ditinggali. Apalagi ada wifi yang lumayan kencang.
Hari itu berakhir, dan dilanjutkan pada hari keempat.

Senin, 13 Oktober 2014

Tur Korea (2): Pohon, Pohon, dan Pohon

Pagi hari tiba. Saya, yang tidur paling jauh dari telepon dibandingkan yang lain di kamar itu, dibangunkan oleh suara telepon. Ternyata dari tour guide kami, yang berkata agar kami berkumpul secepatnya. Saya pun cepat-cepat mandi, lalu membangunkan keluarga saya yang lain.
Sementara yang lain mandi, saya menuju ke restoran untuk sarapan. Ternyata, sarapan yang ada sangat minimalis. Roti, ham, bacon, telur mata sapi, dan susu. Saya mengambil semuanya masing-masing satu dan sarapan di restoran yang lebih mirip kafe yang sangat nyaman itu.

Setelah semua peserta siap, kami berangkat. Perjalanan hari itu menuju Nami Island yang terletak cukup jauh dari Kota Seoul. Setelah menjelaskan singkat mengenai Nami Island, guide lokal kami memutarkan MV-MV berbagai macam lagu dari artis-artis KPop, mulai dari Psy, Miss A, Apink, JYJ, dan lain-lain saya lupa, karena saya terlalu sibuk melihat-lihat jalanan, mencari dimana Petite France berada, berhubung perjalanan ke Nami Island dari Seoul seharusnya melewati Petite France.
Kami akhirnya sampai di tempat parkir menuju Nami Island. Di tempat parkir ini, terdapat peta dari Nami Island dan juga tiket perahu. Setelah membeli tiket, kami masuk ke gerbang dan menuju perahu yang membawa pergi kami menuju Nami Island. Perahu ini memiliki 2 lantai, dek di bagian atas dan bawah, serta ruang indoor di bagian bawah. Perjalanan menuju Nami Island sangat menyenangkan walaupun sebentar. Kami disuguhi pemandangan indah.

Pemandangan dari bus menuju Nami Island

Pemandangan dari kapal Nami Island (saat perjalanan pulang)

Sampai di Nami Island, pemandangan tak kalah indah. Deretan pohon di kiri dan kanan jalan sejauh mata memandang, sejajar dan linier. Kabarnya, pulau ini menawarkan empat keindahan berbeda di empat musim. Musim panas, dimana pohon-pohon berdaun hijau, pun indah dipandang,walau pohon berdaun hijau merupakan hal biasa di Indonesia.
Pemandangan di bagian depan Nami Island berupa pohon-pohon dihiasi lentera, yang mungkin akan lebih indah di malam hari. Di salah satu sisi kanan jalan, pohon-pohon berdaun merah, kuning, dan hijau tegak berdiri, membuat saya bisa membayangkan betapa indahnya pohon-pohon di sini di musim gugur.

Pohon dengan lentera

Kami sampai di pertengahan pulau. Di sisi kanan jalan, terdapat toko suvenir berbentuk rumah dengan dinding kayu. Di depan, ada pohon besar dengan papan penunjuk jalan di depannya. Di dekat kawasan itu, ada juga poster besar bergambar Winter Sonata, drama Korea yang mengambil setting di pulau ini. Di sebelah kiri poster tersebut, terdapat semacam plat-plat kayu yang ditandatangani pengunjung serta di bawah plat kayu tersebut, daun-daun kering dikumpulkan berbentuk hati.

Pemandangan Nami Island

Setelah itu, kami berkeliling Nami Island. Ada panggung besar dengan bentuk mirip atap Keong Mas lengkap dengan pondok jerami di sisi kanannya. Patung berbentuk hati. Semacam rumah lengkap dengan jembatannya. Patung-patung lainnya. Deretan pohon indah yang menghadap lautan.

Pemandangan Nami Island
Selesai puas mengambil foto-foto, kami berkumpul di gerbang. Saya baru menyadari bahwa di depan gerbang Nami Island ini ada sepasang patung boneka salju. Saya pun berfoto bersama patung tersebut sembari menunggu kapal berangkat.

Patung boneka salju

Kapal datang, dan saya mengambil tempat di dek atas. Saya mengambil foto-foto kembali. Sampai di tempat parkir, kami makan di restoran barbeque yang terletak di dekat tempat parkir. Ada daging ayam dan juga kue beras berbumbu yang bisa kita bakar di sini, dihidangkan dengan nasi dan air putih dingin. Semuanya sangat enak.

Makan!

Kenyang dengan makanan, kami kembali ke bus dan berangkat menuju Mount Seorak. Perjalanan cukup lama, sekitar 3 jam, dengan berhenti sementara di tempat peristirahatan. Mayoritas penumpang memilih tidur.
Mount Seorak merupakan pegunungan kapur yang pemandangannya tak kalah dengan Nami Island. Saat di tempat parkir, pegunungan tersebut sudah terlihat.

Mt. Sorak dari bus
Kami naik ke kawasan wisata. Di depan, ada patung maskot Mt. Seorak menyambut kami. Kami memutuskan berfoto di situ setelah pulang saja. Kemudian, setelah membeli tiket cable car, tour guide kami memberi kesempatan untuk peserta beragama Buddha beribadah di depan patung Buddha di tempat itu, dimana patung tersebut lumayan besar.


Patung Buddha di Mt. Sorak
Setelah itu, kami menuju stasiun cable car yang berada di lantai 2. Stasiun cable car ini menyediakan toko suvenir dan makanan serta minuman. Saya menghabiskan waktu menunggu cable car sambil melihat-lihat suvenir yang ada.
Beberapa menit kemudian, kami berangkat. Cable car ini ada 2 buah, dimana setiap cable car bertugas melayani penumpang yang akan naik ke stasiun atas dan turun ke stasiun bawah bergantian. Saya mendapat tempat strategis dekat jendela, dan mulai memotret. Cable car bergerak naik, dengan pemandangan gunung dan sungai yang sangat indah di bawah.

Cable car

Pemandangan dari cable car
Kami akhirnya sampai di stasiun atas yang terdiri atas 3 lantai. Di sini, pemandangannya benar-benar indah. Stasiun ini juga menyediakan toko minuman dan makanan. Selain itu, kita bisa melihat pemandangan dengan teropong berbayar seperti di Monas, pergi ke kuil yang aksesnya harus menuruni beberapa tangga berbatu, demikian juga jika ke toilet kita harus menuruni tangga itu. Selain itu, kita juga dapat mendaki ke tempat yang lebih tinggi yang dapat ditempuh minimal 30 menit berjalan kaki. Awalnya saya ingin ikut menyusuri ke tempat yang lebih tinggi tersebut, namun kondisi jalannya makin lama makin berbatu. Saya pun akhirnya tak jadi, dan memilih menunggu di stasiun atas.

Pemandangan dari stasiun atas
Puas melihat pemandangan, kami pun menaiki cable car untuk turun ke stasiun bawah. Kemudian, kami kembali ke tempat parkir, menuju ke bus kami dengan membawa oleh-oleh segudang foto pemandangan indah.
Bus kami bergerak menuju sebuah restoran. Restoran itu hanya dilengkapi meja rendah dan beberapa bantal untuk lesehan, dengan lantai bambu. Sebelum masuk restoran, kita harus melepas sepatu. Kesan tradisional sangat terasa.
Menu utama restoran itu adalah ikan bakar. Selain itu, ada juga menu lainnya yang tak kalah enak, seperti ubi manis dan rumput laut. Seperti biasa, kimchi menjadi "sambal" pelengkap makanan selama di Korea Selatan.
Perut kenyang, hati senang. Kami menuju ke hotel. Ini hotel yang saya paling ingat sampai sekarang. Nama hotel itu Class 300. Kamarnya sangat luas dan sangat bagus, seperti kamar contoh yang ada di kantor pemasaran apartemen-apartemen mewah yang beberapa kali saya pernah kunjungi. Karena kamar saya ada 3 orang, jadi kamar saya sangat besar lengkap dengan ruang tamu dengan televisi yang besar. Dari jendela, kita bisa melihat pemandangan yang cukup indah. Singkatnya, hotel terbagus yang pernah saya inapi.
Sayang, saya tak sempat memotret kamar hotel ini dan tak ada foto mewakili.

Tur Korea (Part 1) - Welcome to Incheon

Naik Singapore Airlines membawa berkah tersendiri. Kebetulan, ibu saya selalu senang naik pesawat dari maskapai ini karena pelayanannya yang memuaskan dan jarang mengalami penundaan. Saya pribadi sebenarnya tak masalah apapun maskapai yang saya gunakan, namun saya cukup menikmati perjalanan Jakarta-Singapura pagi itu. Karena waktu perjalanan yang hanya 1 jam 20 menit, saya memutuskan untuk mendengarkan lagu-lagu dari pesawat saja. Kebetulan lagu-lagu Jepang di pesawat itu oke-oke. Saya bahkan sempat memfotonya dengan harapan bisa mengunduhnya dan memutar lagu tersebut di rumah untuk kenang-kenangan.


List sebagian lagu Jepang di in-flight entertainment Singapore Airlines, 4 Agustus 2014

Ada 1 lagu yang iseng-iseng saya putar saat di pesawat itu. Lagu tersebut lumayan sering diputar di radio yang memutarkan lagu Korea saat itu. Can't Stop dari CN Blue, yang saya sempat putar 2 kali sepanjang perjalanan.
***
Setelah menikmati makan pagi berupa pasta dengan ikan yang rasanya lumayan enak, kami turun dari pesawat yang sudah mendarat di Bandara Changi, Singapura. Rasanya kangen dengan bandara ini, walaupun saya baru saja ke sana tahun lalu. (Nanti saya akan mencoba menuliskannya berdasarkan ingatan saya)


View jalanan daerah bandara Changi dilihat dari MRT yang membawa kami dari terminal 2 ke terminal 3


Berfoto di bandara Changi

Di bandara Changi, kami membeli tiger balm dan karena kami tak membawa dolar Singapura, kami menggunakan kartu kredit. Kami juga berfoto di beberapa spot di bandara Changi, dan kemudian menghabiskan waktu menunggu pesawat ke Incheon dengan mengobrol dengan peserta tur lainnya.
Sekitar jam setengah 2 siang, pesawat kami berangkat. Saya sangat menikmati sekitar 5,5 jam perjalanan yang ada mulai dari menonton film, mendengarkan lagu, makan makanan yang ada mulai dari makanan pembuka yaitu kacang dalam kemasan, main course berupa steak yang sangat enak, dan makanan penutup berupa es krim semacam Magnum dan buah. Selain itu, saya juga mencoba berbagai minuman mulai dari berbagai macam jenis teh, sampai jus jeruk dan apel. Tak lupa, karena kebetulan saya duduk di daerah jendela sebelah kiri yang memperlihatkan pemandangan matahari tenggelam, saya menyempatkan diri memotret pemandangan sunset dari atas awan tersebut.


Pemandangan sunset dari ketinggian lebih dari 8000 meter di atas permukaan laut

Ada kejadian yang cukup tak terlupakan dalam perjalanan ini. Saat sebelum memotret sunset, pesawat sempat mengalami turbulensi selama kira-kira 15 menit. Baru kali ini saya berada di pesawat dalam kondisi turbulensi yang cukup lama itu. Pesawat berguncang-guncang, naik dan turun dengan kemiringan yang cukup tinggi, sampai ada penumpang yang berkata "Astaghfirullah". Lorong diantara bangku penumpang sangat sepi, tak ada satupun pramugari yang melintas. Untung in-flight entertainment masih menyala, sehingga saya langsung mengubah lagu yang sedang saya putar dari "Art of Life - X Japan" menjadi "Koisuru Fortune Cookie - AKB48" yang unyu-unyu. Syukurlah turbulensi tersebut bisa dilewati dan perjalanan menjadi menyenangkan kembali.
***
Kami sampai di Incheon sekitar hampir jam 10 malam waktu Korea Selatan. Bandara Incheon ternyata lumayan mewah, walau kesan pertama yang saya tangkap adalah "tak semewah yang saya lihat di Running Man".
Bandara Incheon. Untuk pertama kalinya mendengar bahasa Korea di mana-mana, yang biasanya hanya saya dengar hanya di lagu atau di Running Man.

Foto sebuah pesawat dengan dekorasi yang menarik.

Berfoto di depan banner "Welcome to Korea". Coba tebak siapa artis yang ada dalam banner tersebut! :D

Kami mengambil bawaan dan kemudian bertemu guide lokal kami. dan di bandara itu, kami mengetahui kenyataan bahwa pesawat Asiana yang kemarin masih di-cancel penerbangannya. Dalam hati kami bersyukur, kalau kami masih memilih Asiana tadi pagi, mungkin kami akan batal berangkat ke Korea.
Setelah itu, kami para peserta tur dan para guide menuju ke bus. Bus kami berkapasitas sekitar 40 orang dengan setir kiri. Kami melewati jalan tol, dimana papan penunjuk jalan ditulis dengan huruf Hangul dan huruf Latin. Setelah beberapa lama, kami sampai di kota Seoul. Di sana, kami dikabari bahwa esok hari kami akan ke Nami Island dan Mount Seorak, yang artinya jadwal kami di-extend.
Bus kami sampai di hotel Boutique 9 di dekat Dongdaemun Market. Bangunan hotel ini kecil namun memiliki kamar yang artsy, membuat saya ingin memiliki kamar seperti itu. Yang menyenangkan, setiap hotel di kamar ini memiliki router WiFi sendiri-sendiri, dan juga dilengkapi dengan 1 buah PC tiap kamar. Semua fasilitas tersebut bisa digunakan dengan gratis. Peralatan mandi yang ada juga amat sangat lengkap, mulai dari yang standar seperti sabun dan sampo, sampai kondom. Yang saya paling ingat, kamar mandi di hotel ini memiliki pintu geser antara toilet dan shower. Jadi saat kita akan mandi, kita tinggal menggeser pintu tersebut ke ruang shower dan artinya ruang toilet akan terbuka, dan sebaliknya.
Televisi di ruangan hotel ini sangat besar, lebih besar dari yang saya punya di rumah, kira-kira 35 inci. Saat saya sedang mengutak-atik channel televisi, muncul re-run acara Running Man episode 206 yang Selasa minggu sebelumnya saya sudah tonton. (Ngomong-ngomong, mengenai Running Man, saya akan membahasnya secara khusus di entri baru lain nanti). Extra bed yang ada juga sangat nyaman, tak kalah nyaman dengan ranjang utamanya. Setelah perjalanan hari itu, saya tidur dan bersiap menuju hari kedua.

Senin, 29 September 2014

Tur Korea (Pengantar) - Di-PHP Asiana Airlines

Rencananya akan menulis sejumlah entri mengenai tur Korea, kemudian menulis mengenai review anime, album, dan buku, yang sudah lama tak ditulis.
Baiklah kita mulai dengan tur Korea. Karena di tab saya tidak ada foto, maka foto akan diupload menyusul.

Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga berkesempatan untuk mengunjungi Korea Selatan. Persiapannya cenderung singkat, yaitu 3 minggu sudah termasuk waktu pengurusan visa. Saya telah mengunjungi sejumlah agen perjalanan, namun ternyata hanya satu agen yang bersedia membuatkan visa Korea dengan waktu yang tersisa.
Singkat cerita, administrasi sudah diurus, uang tur sudah dibayar. Kemudian, 2 minggu sebelum tur, saya bermimpi aneh. Saya sedang menaiki Asiana Airlines perjalanan Jakarta ke Incheon. Suasana waktu itu malam hari, persis seperti yang akan saya bayangkan saat akan pergi, yang memang dijadwalkan menggunakan Asiana. Namun, ternyata di tengah perjalanan, pesawat kami rusak dan tiba-tiba semuanya gelap. Saya pun terbangun.

2 minggu berlalu, dan tibalah tanggal 3 Agustus 2014.
Malam hari, setelah menggeluti hobi baru saya yaitu membuat kartu pos, saya berangkat ke bandara kira-kira jam 7 malam. Sebelumnya, ada insiden, yaitu koper milik ayah saya terkunci dan tak bisa dibuka, sehingga kami harus mengganti koper baru. Namun, berkat lalu lintas yang lancar, akhirnya kami sampai juga di Bandara Soekarno-Hatta sekitar jam 8 malam. Pertama, kami menuju daerah dekat ATM BCA untuk bertemu tour leader kami. Setelah itu, kami pamit makan.


Bandara di malam hari

Saat saya menuju lounge untuk makan malam, sebenarnya saya mulai berfirasat tidak enak karena teringat mimpi 2 minggu sebelumnya. Kebetulan, makan malam di lounge saat itu juga tak seenak saat terakhir kali saya ke sana. Saya pun memutuskan untuk makan kue saja, yang rasanya sebenarnya biasa saja karena saya memang tak suka kue.
Jam setengah sepuluh, setelah cukup kenyang, saya dan keluarga yang sudah selesai makan malam di lounge pun menuju ruang tunggu bandara. Kami pun hendak masuk ke ruang tunggu, sebelum akhirnya bertemu tour leader kami. Ia mengabarkan bahwa pesawat kami, Asiana Airlines, kemungkinan akan ditunda keberangkatannya dari semula jam 11 malam, karena mengalami masalah. Dalam hati, saya mulai merasa mimpi saya dapat mungkin terwujud. Masuk ke ruang tunggu, saya menuju toilet dan di sana saya berdoa dalam hati semoga mimpi saya tak terwujud.
Kemudian saya masuk ke ruang tunggu dan menunggu. Ibu saya, yang memang pernah hampir mengalami kecelakaan pesawat, mulai panik. Saya mencoba menenangkan diri dengan membaca buku fanfiction Running Man.
Pukul 11 malam tiba. Belum ada tanda-tanda pesawat berangkat. Sekitar jam setengah dua belas malam, saya, adik saya dan ayah saya menghampiri pilot dan kopilot Asiana tersebut, yang sedang berbicara dengan seorang Indonesia. Kami menanyakan perihal pesawat yang tak kunjung berangkat. Karena bahasa Korea saya amat sangat terbatas sekali, kami menggunakan bahasa Inggris. Dari situ kami mendapat info bahwa roda depan pesawat mengalami masalah, dan jika dipaksakan berangkat maka bukannya tak mungkin akan terjadi masalah saat pendaratan. Dan dari situ pula, kami mengetahui bahwa orang Indonesia yang sedang bercakap dengan pilot dan kopilot Asiana tersebut adalah pilot Asiana yang akan kembali ke Korea Selatan untuk bekerja setelah menghabiskan waktunya di Indonesia untuk libur Lebaran. Beliau pernah bekerja di Garuda Indonesia juga sebelum di Asiana. Lalu, beliau dalam bahasa Indonesia menjelaskan pada kami mengenai keselamatan dalam penerbangan. Mungkin dikiranya kami belum pernah naik pesawat? Hehe.
Beberapa menit kemudian, pilot dan kopilot Asiana beserta pramugarinya berjalan ke pesawat. Dan tak lama setelah itu, pihak Asiana memberikan kami selimut (yang kemudian salah satu diantara selimut tersebut terbawa oleh saya sampai kembali ke rumah :p).
Kira-kira satu jam berlalu, para penumpang Asiana dipanggil berkumpul di meja depan ruang tunggu. Kami disediakan kue dan minuman (teh hangat, jus jeruk, air mineral), dan kami dijelaskan bahwa kami diberikan 2 pilihan: naik pesawat Asiana penerbangan yang sama esok malamnya dan diberi penginapan gratis semalam, atau naik pesawat Korea Air yang akan berangkat besok pagi tanpa penginapan. Setelah berdiskusi dengan seluruh peserta tur, akhirnya tour leader kami memutuskan akan pergi naik Korea Air besok paginya dengan konsekuensi ada acara yang dipotong (sebelumnya ia sempat menawarkan ke kami alternatif untuk berbelanja di Myeongdong dan ke Lotte World, bukannya Dongdaemun dan Everland seperti yang tercantum di buku tur).
Sekitar jam 1 pagi atau 2 pagi saya agak lupa, kami pergi meninggalkan ruang tunggu dan kami yang naik Korea Air ditempatkan di beberapa lounge terpisah. Rombongan tur kami, pilot Asiana yang orang Indonesia, dan beberapa lainnya ditempatkan di lounge di bawah Batik Keris. Saat berjalan menuju lounge, saya menemukan pemandangan menarik.


Pemandangan bandara dini hari. Sepi, ya?

Kami mencari tempat yang nyaman di lounge tersebut. Lounge itu tidak terlalu besar, nyaman, namun memang tak ditakdirkan menjadi tempat untuk tidur. Kami disediakan makanan dan minuman mulai dari yang instan seperti Pop Mie dan Milo, sampai makanan seperti bakso atau nasi.
Setelah menghabiskan beberapa makanan dan minuman, saya mengambil beberapa bangku dan tidur, setelah sebelumnya menerima surat pembatalan penerbangan. Saya menitipkan tablet saya pada petugas lounge untuk dicharge. Jam setengah 5 pagi atau jam 5 pagi saya agak lupa, saya terbangun karena suara pengumuman panggilan boarding call pesawat. Saya naik ke Batik Keris, hendak melihat pemandangan bandara subuh-subuh. Dan saat itu saya melihat dari kejauhan pilot, kopilot, dan pramugari pesawat Asiana yang saya tumpangi berjalan melewati Batik Keris menuju pintu keluar. Dalam hati, saya lega. Mimpi buruk saya tak terjadi hari itu.



Surat pembatalan penerbangan

Pagi hari tiba. Kami yang ditempatkan di lounge berjalan ke pintu keluar imigrasi. Pihak Asiana menjelaskan dalam bahasa Korea kepada penumpang asal Korea yang sayangnya saya belum mengerti. Barulah di saat check-in Korea Air, apa yang dijelaskan tadi terjawab. Intinya, tak semua penumpang yang direncanakan naik Korea Air pagi itu bisa terangkut semua. Sontak terjadilah keributan antara warga Indonesia yang menginap di lounge, yang tak mengerti bahasa Korea, dengan pihak Asiana. Salah satu rombongan Indonesia bahkan merupakan perwakilan dari pertukaran budaya Korea-Indonesia dan akan tampil di Korea Senin malam itu. Namun, setelah perdebatan yang alot, kami pun diberikan 2 alternatif oleh tour leader kami: naik Asiana nanti malamnya dan tour-nya di-extend 1 hari, atau naik Singapore Airlines jam 9 pagi, sampai malam hari karena transit lebih dahulu di Singapore, dan tour tidak di-extend. Karena takut ditunda lagi, akhirnya kami, para peserta tur, memilih pilihan kedua. Setelah sarapan singkat di lounge, kami menuju ruang tunggu dan kemudian berangkat.


Pemandangan dari pesawat

(Bersambung ke part 1)

Minggu, 28 September 2014

Memulai Nulis Blog Lagi!

Baru install aplikasi Blogspot di tab saya, dan sepertinya lumayan useful. Setidaknya, saya bisa update blog sering-sering lagi seperti dulu. Nantikan, ya!