Kamis, 28 April 2011

New Template

I just changed my blogs' templates! (this blog, Japanism, and my stories blog)
I made the templates myself, using template generator and photoshop...

Do you like this blog's template?
It's transformated enough, isn't it? From cute pinky Piglet template to plain black-and-white template. Very simple, even I made the banner only less than 3 minutes. Just cropped base image that I've got from Internet, and add the text.

Ah, hope these template better than old templates..

Minggu, 10 April 2011

Kisah Sedih (?) di Hari Sabtu (3)

Pagi hari, setelah SMS kabar kehadiran teman saya itu, saya langsung meng-SMS Benaya dan berkata agar dia mengambil sumbangan panitia dan tugas dari Astari untuk saya di depan sekolah saya, jam 06.45. Alasannya, karena dia bilang dia tinggal di Kemayoran, jadi kalau ke bundaran HI kemungkinan lewat sekolah saya. Ternyata dia mengalami kendala sehingga singkat cerita uang dan tugas itu tidak bisa diantarkan.
Jam 9, sekolah bubar. Tak ada jemputan yang biasa saya naiki (syukurlah (?)), karena kelas 10 dan 11 pulang jam 11. Akhirnya saya pun akan pulang naik taksi. Di benak saya terbentuk sebuah ide. Nekat ke bundaran HI, meski tanpa kostum dan mengenakan baju sekolah, untuk mengantarkan uang panitia dan tugas dari Astari. Saya berpikir, mending naik transjakarta atau taksi. Akhirnya pilihan jatuh pada taksi, karena kalau transjakarta, bisa-bisa saya lupa waktu saat di bundaran HI karena keasikan memotret (walau cuma pakai kamera HP) para cosplayer yang ada setelah menyerahkan dua barang itu. Kalau taksi kan time is money, jadi gak akan lupa waktu. Soalnya kalau kelamaan, bisa dicurigai orangtua saya, apalagi saya dengan bodohnya (tindakan yang saya sesali) memberitahukan bahwa saya sudah pulang jam 9.

Taksi pun melaju ke bundaran HI. Sampai di depan hotel Nikko, saya bertemu dengan sosok rambut hijau yang ternyata adalah Shiho Sasaki, teman saya di forum. Ada pula Anggi dan satu lagi yang saya ga tau namanya. Saya pun bertanya kepada mereka dimana Benaya sebagai penanggung jawab pelaksana, sehingga saya bisa memberikan dua barang itu.
Singkatnya, transaksi pun selesai dengan sangat sukses. Saya kembali ke taksi dan melihat acara itu satu persatu. Rasanya senang sekali kalau benar-benar bisa ikut acara itu, sayangnya tak jadi. Saya cuma bisa memandang mereka dari kaca jendela taksi.
Supir taksi yang kebingungan kemudian bertanya pada saya, "Itu acara apaan sih Dek?"
Saya menjawab, "Oh, acara minta sumbangan pakai kostum gitu Pak.. kostum ala Jepang *berusaha menjelaskan dengan bahasa yang dimengerti awam*"
Dan kemudian terjadilah percakapan diantara kami sembari memutari bundaran HI.
"Yang adain siapa dek?"
"Klub Jepang gitu pak... Saya kebetulan ikut..."
"Oh, situ kok ga pake kostum?"
"Saya sekolah sih... *males curhat* Eh bentar ya Pak, berhenti di depan situ tuh *nunjuk ke arah sekumpulan orang yang pake kostum Bleach di depan gedung Indosat kalau ga salah inget*"

Percakapan pun berganti ke saya dan 3 atau 4 cosplayer itu.
Shii (S): *lambaikan tangan* Boleh minta pamfletnya gak?
Cosplayer ga tau namanya 1 (C1): *kasih pamflet*
C1, C2, C3: Makasih dek..
C2: Boleh minta sumbangan juga dek? Buat gempa Jepang..
S: *lol lol lol mereka ga tau saya panitia rupanya XP* Saya Shii... *berharap mereka tau*
C3: Siapa?
S: Shii..
C1, C2, C3: Oh Shii...
C... lupa: Iya inget2 kok...
S: Makasih yah! *lupa, harusnya bilang "Ganbatte" juga...* *tutup kaca jendela*

Kemudian saya pun melihat pamflet yang 69%nya dibuat oleh saya itu dan sisanya diedit lagi. LOL NAMA SAYA MASIH SALAH KETIK! Ya sudahlah...
Saya pun akhirnya mengobrol lagi dengan supir taksi, dari event barusan sampai ke pembicaraan lainnya. Saya membolak-balik pamflet itu berulang kali. Ah, setidaknya ini jadi bukti kalau saya sempat kesana...
Taksi pun menuju rumah saya dengan selamat.

Acara hari pertama sudah berakhir, dan pada saat saya mengepost ini, mungkin acara hari kedua sedang berlangsung atau sudah berakhir, tanpa kehadiran saya.
Saya sudah memaafkan teman saya yang tak datang itu, walau agak kecewa juga karena kostum yang saya sudah siapkan terpaksa harus ditunda untuk diturunkan sampai event setelah UAN. *tau gitu saya bikin headphonenya abis UAN aja dah...*
Setidaknya saya bisa melihat event yang saya nantikan itu dengan mata kepala sendiri meski cuma sebentar, dan bertemu dengan beberapa dari yang saya kenal meski juga cuma sebentar.
Setidaknya, bayangan bahwa saya harus puas dengan hanya melihat foto-foto event itu hilang, dan berganti dengan rasa yang lebih puas dengan tidak melihatnya hanya dalam kamera.
10-15 menit yang sangat berharga dan tidak terlupakan. Ongkos taksi yang setara dengan uang jajan saya seminggu pun rasanya tak ada arti apa-apa dibanding kepuasan yang saya dapatkan.
Hanya bisa berharap, walau saya cuma sebentar hadir disana, semoga hari kedua lebih lancar dari hari pertama, dan lebih ramai!
Impian saya pun berhasil walau tak sepenuhnya...

Kisah Sedih (?) di Hari Sabtu (2)

Acara sudah tinggal menghitung hari. Izin pun akhirnya sudah turun dan dipegang Astari. Attending list 500 orang lebih, dan karena keterbatasan (max 50 peserta), maka yang mendaftar cuma boleh 30 orang sehari. Pendaftar pun berbondong-bondong walau tak seantusias di event FB.
Di saat itu, salah satu teman saya ingin ikut dalam acara tersebut. Saya pun berkata pada orangtua saya bahwa dia ingin ikut event tersebut. Akhirnya orangtua saya percaya dan mengizinkan saya ikut bersama teman saya itu...
Saya pun sangat senang. Mulailah saya bekerja untuk mewujudkan cosplay saya dalam waktu yang terbatas. Membuat properti, memadupadankan baju milik adik (crossdress saya...), dan lain-lain.
Pada saat pendaftaran dibuka, saya meminta teman saya mendaftar, tapi ternyata sampai akhir dia tidak ikut mendaftar. Sedangkan, H -1 saya sudah ditelpon panitia lainnya untuk melakukan ini itu. Saya pun bingung dan tenggelam dalam kekhawatiran. Bisa ikut gak ya? Saya pun menelpon Benaya dan akhirnya nama teman saya itu dimasukkan di dalam waiting list. Artinya, datang syukur, ga datang juga gapapa. Karena teman saya itu sepanjang H -1 benar-benar tak bisa dihubungi. Sekalinya jawab, lewat BBM dan saya tak menerima BBM-nya.

Hari H pun akhirnya tiba. Malam sebelumnya saya telah berkemas (dan sampai saat tulisan ini dibuat jam 11 malam, isi tas itu sama sekali belum saya bongkar), menyiapkan semuanya, mulai dari properti, kostum, sampai make-up. Rasanya senang, walau sedikit khawatir (karena teman saya kehadirannya tak jelas), impian saya akan terwujud hari ini. Impian yang sudah saya rencanakan sejak kurang lebih sebulan yang lalu. Belum lagi, SEHARUSNYA hari ini menjadi titik awal perjalanan cosplay saya yang sejak beberapa tahun belakangan stop sama sekali. First cosplay after several years past.
Saya masih berusaha menelpon teman saya itu, dan akhirnya saya menerima SMS jam setengah tujuh pagi, pas saya mau berangkat sekolah (sebelumnya saya rencanakan sekolah dulu hari ini, lalu pergi bersama teman saya itu) bahwa dia tak jadi ikut bersama saya.
Saya pun bingung, haruskah memberitahukan ini kepada orangtua saya? Awalnya, saya berencana nekat untuk tetap pergi dan berpura-pura teman saya ada disana. Namun, dengan pertimbangan "orang tua saya sudah berjanji akan menjemput saya di event tersebut, sehingga kalau ketahuan ga ada teman saya itu bisa2 saya ga boleh cosplay untuk selamanya" akhirnya saya pun dengan sangat amat terpaksa memberitahukan kabar buruk itu pada orangtua saya.
Orangtua saya sempat ingin mengantar saya ke TKP, tapi saya tolak, untuk alasan yang tidak bisa saya ceritakan (kalau saya ceritakan bisa-bisa blog ini dihack oleh pihak tertentu, dan saya masih sayang blog saya ini =w=).
Akhirnya, saya pun memulai hari saya seperti biasa. Berangkat ke sekolah, setelah sebelumnya sempat melihat status FB Kaname tentang acara kami yang membuat saya iri. Namun saya sadar, saya bagaimanapun tak ingin mengecewakan para panitia dan peserta. Saya mengirim SMS permohonan maaf ke panitia yang saya punya dan simpan nomornya (maaf bagi yang tidak menerima...) dan juga ke salah satu peserta yang merupakan teman forum. Dan saya, diam-diam telah merencanakan sesuatu di balik ini semua.
-bersambung ke part 3-

Kisah Sedih (?) di Hari Sabtu (1)

Curhatan lagi. Susah untuk menahan diri agar tidak menulis entri ini.
Well, sebenarnya bukan hari Sabtu aja sih. Semuanya berawal dari beberapa hari yang lalu ketika saya menulis ini (Sabtu, 9 April 2011).
Tentang event Jepang yang unik dan lain dari biasanya, bernama "Pray for Japan Tsunami and Nuclear Victims" yang diadakan 9-10 April 2011.
Tapi kok sedih (?), ya?
Bagaimana ceritanya? Ini dia!

Semenjak mendengar berita tentang gempa Jepang lewat twitter, saya tergerak untuk mengikuti perkembangan berita bencana tersebut, mengingat bencana tersebut sangat besar dan Jepang adalah negara kesukaan saya selain Indonesia tentunya. Namun, amat sangat disayangkan, waktu itu belum ada pihak yang berbaik hati membuka penyaluran bantuan untuk korban bencana gempa-tsunami-radiasi nuklir disana. Kalaupun ada, belum heboh-heboh amat seperti misalnya digembar-gemborkan di media online.
Nah, saat itu, saya berpikir, sebagai otaku tingkat menengah dan cosplayer tingkat awal, saya seharusnya berbuat sesuatu untuk membantu mereka. Apalagi kerugiannya sangat besar dan katanya, Jepang cuma mau menerima bantuan dari Indonesia dan Amerika Serikat. Lalu saya pun menemukan ide brilian! "Meminta sumbangan dari masyarakat untuk korban bencana gempa Jepang dengan kostum cosplay"!
Langsung saya menghubungi salah satu kameko yang lumayan sering kontak dengan saya yakni Pak Benaya Bonaventura. Saya pun menjelaskan ide yang menurut saya brilian itu. Dia setuju, dan kami pun mendiskusikan tentang acara tersebut.
Waktu berlalu. Saat saya iseng-iseng membuka beranda Facebook, mata saya tanpa sengaja menangkap wall to wall Anggi Damania dan Kaname Shouren. Setelah saya iseng-iseng membaca *dibunuh dua orang bersangkutan*, saya pun menyadari bahwa mereka sedang mendiskusikan acara yang nyaris serupa dengan yang saya dan Benaya diskusikan waktu itu. Langsunglah saya mengajak mereka merge project.
Dibuatlah note tentang acara itu. Panitia pun mendaftar satu persatu. Setelah diskusi sana-sini, dibuatlah keputusan bahwa acara diadakan antara 9 atau 10 April. Acaranya bernama "Pray for Japan Tsunami and Nuclear Victims". Lalu dibuatlah event FBnya oleh saya sendiri dan juga grupnya oleh salah satu panitia. Panitia pun makin bertambah.
Sejak saat itu kesibukan mulai terjadi. Mulai dari panitia humas yang minta izin sana-sini, dari kepolisian sampai Japan Foundation. Yang lain pun sibuk dengan tugasnya masing-masing. Membuat proposal, mengatur dana, dsb. Jika ada hal yang diperlukan, didiskusikan di grup FB. Sementara itu, attending list terus dan terus bertambah.
25 Maret, saya, Benaya, Kaname, Anggi, Astari, Kuro, Boman, Syd, dan panitia lainnya *plak* ikut rapat di GI. Sayang saya cuma bisa ikut sangat sebentar karena ada ujian. Namun ada beberapa hal yang bisa saya dapatkan dari sana. Yang penting: izin harus turun!
Dan sambil menunggu izin turun, kami pun terus mempersiapkan acara tersebut. Bagaimanakah kelanjutannya? Bersambung ke bagian kedua!