Kamis, 03 Februari 2011

Small Things for Big Thing

Time to write my opinion again...

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis masalah ini: tentang lingkungan hidup. Tapi lupa melulu karena sibuk, hehe... Dan sekarang saya diingatkan lagi dengan adanya
kompetisi blog yang mewajibkan untuk menulis entri lingkungan hidup.


Setiap pulang sekolah, saya selalu melintasi Kali Ciliwung yang tampak kehitaman dan penuh sampah. Setiap kali melihatnya, saya jadi teringat akan cerita ibu saya yang
berkata bahwa di zaman dia sekolah dulu, Kali Ciliwung itu bersih dan orang-orang bisa berenang di sana. Kalau sekarang, siapa coba yang berani berenang di Kali
Ciliwung?


entah kenapa jadi kangen kesini lagi, hehe..

Juga, kawasan Puncak yang semakin hari semakin menghangat (Jakarta sih udah ga usah ditanya lagi... XD). Pas pertama kali saya ke Puncak umur 3 tahun, rasanya Puncak
itu sangat sejuk, baik di pagi, siang, sore, ataupun malam. 14 tahun kemudian, ketika berkunjung ke Puncak lagi, saya merasakan perbedaan bahwa Puncak makin lama makin
berubah. Bukan hanya makin macet, Puncak juga makin panas, terutama di siang hari.
Lingkungan kita mulai berubah. Sebelum makin bertambah parah, ada banyak langkah yang bisa kita lakukan untuk mencegah supaya Bumi ini ga makin parah oleh pemanasan
global. Mungkin saya bukan orang paling peduli lingkungan sedunia, tapi setidaknya, langkah-langkah sederhana yang saya sarankan di bawah (dan sudah saya praktekkan)
bisa membantu kalian yang tergerak untuk menyelamatkan lingkungan kita. ^^


jangan pikirkan mereknya... XP


Pertama, mengurangi penggunaan plastik dan kertas.
Saya pernah baca di sebuah majalah tentang pengalaman seorang ibu yang berbelanja menggunakan kantong plastik yang selalu dibawanya dari rumah, jadi ia tidak perlu
lagi meminta pegawai memberikan kantong plastik lagi untuk belanjanya. Hal ini memberikan inspirasi bagi saya untuk meniru hal yang dilakukan oleh ibu itu, namun
dengan cara yang sedikit berbeda. Saya berusaha tidak meminta kantong plastik jika saya membeli barang-barang yang memang tidak perlu dibungkus kantong plastik,
seperti buku dan alat tulis. Apalagi saya membawa tas sendiri.
Begitu halnya dengan kertas. Kalau mau mencetak tugas atau lainnya, saya berusaha mencetak bolak-balik atau memakai mode hemat kertas (kalau di printer saya, sih,
settingannya ada 2 halaman per lembar atau 4 halaman per lembar). Selain itu, saya juga selalu menggambar di kertas bekas yang halaman depannya ada bekas cetakannya,
apalagi jika itu traditional art.
Sampah plastik dan kertas itu cenderung susah untuk diurai. Namun bersyukurlah sekarang ada jenis plastik yang lebih mudah diurai, yang ada logo hijau di plastiknya.
Tapi apa salahnya jika kita juga mencoba berhemat?




Kedua, membuang sampah di tempat sampah (BUKAN DI TEMPATNYA!).
Saya cukup beruntung karena di sekolah saya selalu disosialisasikan tentang hal ini. Di sekolah pun, dibuat 3 jenis tempat sampah, mengingatkan saya pada tempat sampah
seperti di Jepang: sampah organik (yang bisa diurai), sampah anorganik (yang tak gampang diurai), dan sampah kertas. Kebiasaan ini lambat laun tumbuh dalam diri saya,
yang tergerak untuk selalu membuang sampah di tempat sampah. Sekarang efeknya sudah jelas. Saya menjadi merasa agak aneh kalau ada orang buang sampah seenaknya, atau
membuang sampah di jalanan dari jendela mobil. Kalaupun di mobil, seharusnya sediakan tempat sampah, atau setidaknya simpan sampah itu dan buang ketika turun.



Ketiga, ikut organisasi sosial seperti Greenpeace.
Saya pernah menghadiri acara seminar lingkungan hidup yang dibawakan Solar Generation, salah satu subbagian dari Greenpeace. Melihatnya, saya jadi ikut tertarik untuk bergabung. Dan setelah saya mencari-cari info mengenai Greenpeace, ternyata untuk bergabungnya tak sesulit yang dibayangkan, kok. Tinggal kirim data diri lewat online, sama gampangnya seperti bergabung di milis atau forum Internet. Bahkan, Greenpeace juga punya sejenis aktivis online, jika misalnya kita tidak diijinkan orangtua untuk berpanas-panas demo di Bundaran HI menyuarakan pentingnya melestarikan lingkungan hidup, atau tinggal di luar kota yang tidak ada aktivisnya.


Keempat, kurangi penggunaan listrik dan air
Selain menghemat iuran listrik, alat elektronik di sini masih memakai pembangkit listrik yang energinya tidak ramah lingkungan (rata2 pakai energi batubara). Selain
itu, penggunaan air juga harus dihemat, karena ketersediaan air bersih makin lama makin berkurang. Misalnya, lebih memilih mandi dengan pancuran/shower dibandingkan
mandi memakai air bak yang diciduk dengan gayung. Saya pernah baca, 1 menit mandi pakai shower itu sama dengan air 1 gayung saja loh..



Kelima, tanam pohon di rumah!!
Mungkin ada yang bertanya "Ah, saya kan tinggal di apartemen, harus tanam pohon dimana coba?" atau "Rumah saya ga ada halamannya...". Tanaman dalam pot atau tanaman
yang digantung bisa membantu. Selain membantu melestarikan penghijauan, rumah kalian juga akan terlihat lebih indah! (Lebih bagus lagi kalo nanem pohon buah-buahan,
kan enak kalo udah berbuah bisa sekalian panen dah... XD)



Hmm... mungkin itu sebagian kecil dari cara-cara yang bisa dilakukan buat menyelamatkan lingkungan hidup kita.
Yang penting satu: JANGAN PEDULI APA KATA ORANG!
Saya pernah diejek gara-gara dianggap terlalu cinta lingkungan. Katanya, "Orang lain juga buang sampah sembarangan!", "Orang lain juga pakai kertas boros-boros!", dan seterusnya.
Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau bertindak?
Save our Earth!



Bulan-bulan Penyiksaan


Dimana pemandangan kertas jawaban seperti ini menjadi pemandangan yang terlalu biasa.


Februari, Maret, April, Mei.
Bulan penuh godaan dan juga penyiksaan.
Ingin menonton The World God Only Knows season 2 tapi harus belajar buat UAN...
Ingin mengikuti gath YUI-Indo di Blitz Megaplex Mall of Indonesia tapi harus mempersiapkan diri untuk ujian praktek...
Ingin mengikuti launching buku dari nulisbuku.com tapi banyak ulangan...
Ingin mengulik lagu untuk band saya tapi harus belajar semua pelajaran yang di ujian sekolah-kan...
Ingin membaca manga yaoi incest tapi hard disk kena virus...
Ingin membeli BlackBerry Pearl atau Xperia Arc tapi harus keterima SNMPTN dulu...
Bersyukurlah, setidaknya saya (dan para pelajar kelas 6 SD, 9 SMP, atau 12 SMA lainnya) tidak menjadi gila karenanya.
Karena libur panjang 3 bulan telah menanti di depan mata.
Yippi!