Kamis, 02 Agustus 2012

Angkatan 2012 Itu ....

Angkatan 2012. Angkatan pertama yang jadi junior saya. Tentu saya penasaran seperti apa mereka, seperti apa ospek yang mereka lakukan. Karenanya, saya diam-diam mencari mereka di sebuah jejaring sosial dan mengikuti keseharian beberapa diantara mereka dari hari ke hari. Tidak ada yang terlalu istimewa dari anak-anak yang saya ikuti ini. Kelihatannya tugas mereka lebih parah daripada tahun saya. Hmm.
Puncaknya adalah kemarin, saya menjaga stand Medical Nihon Club, klub Jepang di kampus saya, untuk promosi ke anak-anak angkatan 2012 yang sedang ospek hari ketiga. Sebagai angkatan 2011, ini pertama kalinya saya disebut sebagai senior oleh manusia di kampus saya. Tugas saya kemarin memang tidak dominan, hanya sebagai operator yang bekerja di balik layar laptop menyetel video promosi, karena saya punya masalah administrasi yang harus saya selesaikan. (Padahal tadinya mau pakai yukata, hiks ...).
Tapi, di balik itu semua, saya menemukan satu hal menarik. Di kloter terakhir yang datang ke stand MNC, ada seorang yang bertanya, "ada cosplayer di MNC?". Sontak, semuanya menoleh ke arah saya. Kemudian, anak itu bertanya pada saya apakah saya akan datang ke event Anime Festival Asia Indonesia yang diadakan 1-2 September 2012 mendatang. Dia pun berjanji dengan saya akan bergabung dengan MNC dan datang ke AFA bersama-sama.
Kemudian, malamnya, saat memantau akun jejaring sosial yang sama, saya menemukan satu anak pengarang novel, satu otaku, dan satu orang yang temannya adalah kameko idola saya. Sekarang, saat entri ini ditulis, saya sedang mengobrol dengan dua otaku yang saya temui dari hari kemarin. Adakah otaku berikutnya di angkatan 2012? Adakah penulis berikutnya? Semoga saja ada. Amin.

Tur Hongkong+Cina Selatan (7): Fun Hours on Airplane



Kami bangun agak siang lagi, karena kami diminta berkumpul di lobi hotel jam 3 sore. Selesai sarapan, kami berjalan-jalan di sekitar hotel dan pergi ke Miramar Shopping Centre, mal di sekitar hotel yang menjual barang bermerk. Akhirnya, disana ada Wi-fi dan saya pun bisa kontak dengan teman-teman saya di Jakarta kembali. Setelah itu, kami pergi ke mal di seberangnya, yang sangat sepi.
Dalam perjalanan kembali ke hotel, kami mampir lagi di Sevel. Disana, saya kembali melihat majalah Aniwave. Ternyata disana ada majalah game juga, tapi saya lupa namanya. Ada 2 majalah game dengan harga masing-masing hanya 10 HK$. Majalah game ini kira-kira menggunakan kertas yang sama dengan majalah Hotgame, dan salah satu diantara mereka bahkan menyertakan bonus buklet yang membahas anime seperti Fate/Zero season 2 dan lain-lain. Satunya lagi menyertakan poster ukuran besar dari salah satu game. Majalah game ini cukup menarik, ada berbagai macam bahasan yang umum seperti review game, walkthrough, sampai bahasan konser Miku di HK, galeri cosplay, dan review nendo dan figma. Saat itu, yang dibahas adalah nendoroid Kuma, tokoh favorit saya dari anime Persona 4, dan figma Kuroyukihime, tokoh perempuan utama Accel World.
Kami akhirnya kembali ke hotel, lalu bersiap ke bandara. Jam 7.30 malam waktu HK, pesawat kami berangkat. Berada di dalam pesawat ini ternyata lebih menyenangkan dari saat pergi. Kursinya lebih besar, makanannya lebih enak, dan hiburannya banyak. Ada bermacam-macam film dan juga radio serta album dimana kita bisa memilih lagu dari radio dan album itu untuk dijadikan playlist. Saya menonton The Hunger Games karena waktu itu kebetulan saya sedang membaca Catching Fire, sekuel The Hunger Games. Kemudian, saya mendengarkan sejumlah lagu-lagu yang ada di daftar lagu disana, dan serasa sekejap sudah diumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat. Benar-benar 4 jam yang menyenangkan dan tidak terasa.
Kami pulang ke rumah, membawa berbagai macam kenangan yang tak terlupakan.

Tur Cina Selatan + Hongkong (6): Disneyland!


Pagi ini, kami bangun agak siang karena kami diminta kumpul di lobi hotel jam 11. Jam setengah sembilan, kami sarapan pagi. Sarapan kali ini cukup enak. Sesudah itu, kami membereskan barang-barang dan menuju lobi hotel.

Hari ini adalah hari yang cukup istimewa karena kami akan berangkat ke Disneyland Hongkong. Kata tour guide kami yang pernah ke sana, Disneyland Hongkong mainannya tak terlalu menyeramkan, dan luasnya kira-kira se-Universal Studio Singapore. Ada 4 zona, Adventure, Fantasy, Tomorrow, dan Toy Story Land.
Pertama, kami menaiki Jungle River Cruise di Adventure Land, yaitu menaiki perahu kayu yang memutari sungai ukuran kecil. Di sungai itu, ada berbagai macam kejutan seperti "gajah" yang menyemburkan air dari belalainya dan api yang muncul dari gua. Tentu saja hewan yang ada adalah mainan (namun sangat mirip asli), begitu pula apinya. Karena setelah itu ada parade, maka kami berkumpul di tempat terdekat jalur parade. Ternyata paradenya adalah kereta-keretaan diiringi badut karakter Disney yang menari.
Setelah itu, kami mengantri untuk menaiki The Adventures of Winnie the Pooh di Fantasy Land. Ini adalah sebuah wahana dimana kita menaiki kereta berjalan berbentuk gentong madu warna ungu. Kereta ini berjalan menyusuri ruangan yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh dari Winnie the Pooh seperti Pooh, Piglet, dan lain-lain. Sangat lucu dan menyenangkan.
Puas melihat Piglet dan kawan-kawan, kami masuk ke wahana Teater Mickey 4D yang masih di Fantasy Land. Teater ini menayangkan film Disney. Film ini harus ditonton dengan kacamata 3D, dan ada berbagai macam efek seperti cipratan air dan hembusan angin.
Wahana selanjutnya yang kami naiki adalah mainan parasut yang terdapat di Toy Story Land. Parasut ini merupakan mainan baru di Disneyland HK. Kira-kira mirip mainan parasut yang ada di Dufan, dimana kita dibawa naik turun beberapa kali dengan cepat.
Setelah itu, saya berjalan menuju zona Tomorrow Land untuk mengantri fast pass, semacam akses instan, di Space Mountain. Space Mountain ini kabarnya adalah semacam jet coaster di dalam ruangan. Dalam perjalanan kembali ke Toy Story Land, saya melihat parade kedua. Kali ini paradenya adalah parade basah, dimana ada kereta yang dilengkapi mesin penyemprot air dan ada tokoh-tokoh Disney di sana. Sementara itu, adik saya bermain semacam Kora-kora di Dufan yang terdapat di Toy Story Land.
Puas menyambangi Toy Story Land, kami makan siang. Untuk mendapat makan siang hari itu, kita harus menukar dengan kupon. Saya makan cheese burger dengan ukuran cukup besar, jagung rebus, kentang goreng, dan ice lemon tea.
Setelah makan siang, kami bermaksud menaiki Space Mountain, tapi ternyata ada maintenance. Akhirnya kami menaiki Autopia, wahana dimana kita bisa merasakan menyetir mobil seperti bom-bom car, hanya saja ini ada jalurnya. Jadi yang ditabrak bukan mobil lain, melainkan pinggiran jalurnya yang sangat berkelok-kelok dan penuh tanjakan dan turunan.
Karena Space Mountain masih maintenance, jadi kami pun mencoba mainan lain lagi. Kali ini adalah mainan semacam Perang Bintang di Dufan yang menampilkan tokoh Buzz Lightyear dari Toy Story. Kami bermain beberapa kali karena adik saya sangat suka permainan ini.

Selesai bermain, kami pun menaiki Space Mountain yang sudah selesai di-maintenance. Ternyata Space Mountain tak sekadar jet coaster dalam ruangan. Ruangan tempat jet coaster melintas ini gelap gulita jadi kita tidak bisa menebak lintasannya apakah akan naik, turun, atau berbelok. Di akhir perjalanan, ada cahaya yang sangat terang setelah beberapa saat gelap gulita, sepertinya semacam cahaya blitz. Walau lintasannya tak seekstrem Halilintar di Dufan, namun pengalaman naik jet coaster di tengah kegelapan seru juga.
Disneyland akan segera ditutup, dan massa berkumpul di depan Sleeping Beauty Castle tempat atraksi spektakuler terakhir akan dilaksanakan, yaitu kembang api! Kembang api yang ada cukup spektakuler, diiringi lagu-lagu Disney.
Kami pun kembali ke hotel, lalu pergi ke Ladies Market. Disana kami makan mie dengan topping bermacam-macam dengan harga yang cukup murah. Setelah itu kami kembali lagi ke hotel.

Tur Cina Selatan + Hongkong (5): City of Otaku?


Kami mengawali hari kelima dengan sarapan pagi yang cukup enak, lalu berangkat ke pelabuhan Macau. Dari sana, kami naik ferry menuju Hongkong. Saya yang baru pertama kali naik ferry menemukan bahwa naik ferry itu sangat menyenangkan. Kira-kira interiornya seperti pesawat tapi tempat duduknya lebih banyak dalam satu baris. Namun, menjelang sampai Hongkong, ferry bergoyang cukup kencang sehingga membuat saya nyaris mabuk laut. Untungnya, saya tidak kenapa-napa.


Di Hongkong, guide lokalnya juga pandai berbahasa Indonesia. Rupanya ia pernah tinggal di Jakarta 4 tahun. Tempat pertama yang kami kunjungi di Hongkong adalah Avenue of Stars yang terletak di pinggir laut. Ini adalah semacam tempat dimana di sepanjang jalannya ada tapak tangan bintang film Hongkong, kira-kira seperti di Hollywood. Satu hal yang menarik: pemandangan kota di sana sangat indah, dan ada perahu naga berjejer di sana ketika saya mengunjunginya, memberi kesan tradisional sekaligus modern yang unik.
Sesudah itu, kami makan siang. Makan siang kali ini adalah makanan Thailand yang cukup enak, dari sate, tomyam, sampai puding kacang merah. Setelah itu, kami mampir sebentar ke toko perhiasan yang menjual antara lain kalung berbentuk unik yaitu wheel of fortune yang bisa berputar jika digoyangkan, dan gelang magnetik. Kami pun pergi ke toko coklat yang menjual berbagai jenis coklat dari berbagai negara seperti Malaysia dan Belgia.
Kami pun akhirnya menuju ke tempat tertinggi di Hongkong yaitu Victoria Peak. Di tempat ini, ada semacam mal, dimana di mal ini terdapat Museum Lilin Madame Tussauds. Museum ini memiliki beberapa cabang di berbagai belahan dunia, salah satunya di Hongkong. Ada berbagai macam patung lilin di Madame Tussauds, semuanya lengkap dengan pakaian dan aksesori. Tokoh yang ditampilkan mulai dari tokoh terkenal di Cina dan Hongkong seperti Teresa Teng (penyanyi zaman dulu) atau Yao Ming (pemain basket Cina), sampai tokoh dunia seperti Lady Gaga, Mozart, dan Shakespeare. Namun diantara semua, yang paling menarik perhatian saya adalah Yoshiki Hayashi, drummer X-Japan, band terkenal Jepang yang dulu pernah saya amat sukai. Selain Museum Madame Tussauds, di Victoria Peak juga terdapat tempat yang memungkinkan kita melihat seluruh penjuru kota dari ketinggian.

Sesudah dari Victoria Peak, kami turun lagi dan menuju ke  Golden Bauhinia Square, monumen kota Hongkong. Lalu kami ke Ladies Market. Ini adalah pusat perbelanjaan yang terdiri atas lapak-lapak dan toko. Yang dijual macam-macam, mulai dari oleh-oleh seperti T-Shirt kota Hongkong, gantungan kunci. Lalu ada lagi barang-barang seperti tas bermerek palsu maupun asli, barang elektronik beserta aksesorinya, dan pakaian bermerek yang semua dijual dengan harga relatif lebih terjangkau dari di Indonesia. Namun, yang paling membuat saya kaget adalah adanya dua toko yang menjual pernak-pernik anime! Satu toko tidak terlalu lengkap, hanya menjual poster kain dari anime terkenal seperti Naruto atau Bleach. Satu toko lagi membuat saya speechless karena sampai menjual barang-barang anime yang "unik" seperti dakimakura dan oppaipad. Satu-satunya jualan yang normal di lapak itu hanyalah aksesori ponsel. Rasanya melihat lapak itu mengingatkan saya pada toko pernak-pernik anime di Indonesia.

Karena malam itu kami tidak diberikan makan malam, maka kami mencari makan malam sendiri. Karena ada masalah dengan hotel, seperti hotel yang tiba-tiba pindah lokasi dan kekurangan kamar, akhirnya kami baru bisa mencari makanan saat sudah jam 9.
Kami pun mengelilingi lokasi sekitar hotel dan berharap menemukan restoran yang masih buka. Akhirnya, setelah beberapa lama mencari, kami menemukan restoran Korea yang cukup ramai dan penuh anak muda, sehingga kami yakin harga makanannya tak terlalu mahal. Kami pun makan di restoran itu. Makanannya lumayan enak.
Pulang ke hotel, kami memutuskan untuk membeli air minum karena tak ada air yang disediakan di hotel. Kami pun membeli air di 7-Eleven (Sevel). Ternyata! Di Sevel saya menemukan hal menarik. Bukan hanya tak adanya tempat duduk untuk nongkrong seperti halnya Sevel di Jakarta, atau menunya yang berbeda dengan Sevel Jakarta, atau produknya yang unik-unik. Itu semua memang menarik, tapi saat saya berjalan menuju konter majalah, saya menemukan sebuah majalah anime! Aniwave namanya, dengan cover Kuroyukihime-senpai, karakter dari anime Accel World. Saya tak bisa berbahasa Mandarin, jadi saya melihat-lihat gambarnya saja. Ternyata Aniwave cukup lengkap, selain ada bahasan anime ternyata ada juga rubrik lain seperti rubrik yang memajang foto cosplay, mengingatkan saya pada majalah Cosmagz di Indonesia. Harga majalahnya pun tak mahal, 15 HK$, lebih murah dari majalah Animonstar.
Malam itu, saya kembali ke hotel kami, Hotel Kimberley, dengan perasaan bahagia. Setelah beberapa lama tidak menyentuh hal-hal terkait anime, akhirnya saya menemukan dua hal terkait anime sekaligus di Hongkong dalam sehari! Benar-benar kejadian tak terduga.

Tur Cina Selatan + Hongkong (4): The Power of Casino(s)


Hari keempat, kami pergi menuju kota yang terkenal dengan kasinonya, Macau. Sebenarnya Macau mempunyai banyak objek untuk dilihat, tapi sayangnya kami hanya mempunyai waktu sehari di sini.
Tour guide kami di Macau adalah yang paling berkesan menurut saya. Namanya Alan dan dia berasal dari Boyolali. Karena ada PP No. 10 tahun berapa saya lupa, dia bersama sebagian anggota keluarganya pindah ke Macau. Setiap beberapa tahun dia pulang ke Indonesia. Bahasa Indonesianya paling lancar diantara semua tour guide, bahkan mungkin lebih lancar daripada bahasa Indonesia beberapa orang Indonesia keturunan Cina yang pernah saya temui.

Sampai di Macau, kami makan di daerah Fisherman’s Wharf. Makanannya berupa buffet dan semuanya sangat enak, bisa dibilang ini adalah makanan terenak selama kami tur. Setelah itu, kami memulai city tour kami. Kami melewati Macau Tower yang merupakan ikon Macau. Disana, ada bungee jumping maupun memanjat tower, setidaknya begitulah kata buku panduan yang kami ambil gratis dari hotel malam harinya. Pertama, kami ke A-Ma Temple. Ini adalah kuil yang diyakini sebagai kuil dimana pertama kali penjajah Portugis datang. Dari kuil ini juga terdapat asal kata “Macau”, yakni nama dewi laut yang menjadi kepercayaan di sana, semacam Nyi Roro Kidul di Indonesia. Kami berfoto-foto sebentar di kuil itu, lalu pergi ke toko kue. Di sana kami membeli semacam semprong ala Macau. Toko kue pun selesai didatangi dan kami menuju reruntuhan gereja Sao Paulo. Gereja ini pernah terbakar beberapa kali, sebelum akhirnya dirapikan dan dijadikan tempat wisata. Di sana, kami menuruni anak tangga sejumlah 48 buah dan menuju semacam alun-alun. Kami mencoba eggtart, kue khas Macau, disana. Enak rasanya, mirip sus.
Kami pun berjalan kaki menuju Senado Square yang terletak tak jauh dari reruntuhan gereja Sao Paulo. Di sepanjang perjalanan ada toko-toko yang mengingatkan saya pada Pasar Baru di Jakarta. Di Senado Square ada berbagai macam tempat, seperti gedung parlemen dan gereja yang dipakai sekarang.
Kami kemudian naik lagi ke bus dan menuju hotel Hard Rock untuk menikmati pertunjukan di City of Dreams. Menikmati perjalanan di Macau merupakan salah satu hal yang menarik. Nama jalan di Macau memakai dua bahasa, Portugis dan Mandarin. Ini yang membuatnya unik dibanding daerah lain di Cina. Selain itu, hotel-hotel yang ada juga sangat bagus dan mewah, hampir semuanya berbintang 4 dan 5 (bahkan ada beberapa hotel yang berbintang 10 atau 15 karena 2 atau 3 hotel bintang 5 digabung jadi satu), dan satu hal lagi: terdapat kasino.
Kami sampai di City of Dreams, area pertunjukan yang berbentuk seperti telur. Kami bertanya-tanya mengapa bentuknya seperti itu, sampai akhirnya kami masuk dan melihat shownya.
Show yang ada sangat keren, walau hanya 10 menit, saya bertanya-tanya apa hotel di Indonesia ada yang bisa membuat show seperti ini. Show yang memakai permainan cahaya, efek 3D dan elemen lain seperti air terjun menari. Berbeda dengan show pada umumnya, atap untuk area ini seperti kubah, dan di bawah lantainya pun seperti kubah terbalik, seolah-olah kita berada di pertengahan “telur”. Show ini memakai seluruh area atap itu untuk menampilkan permainan cahayanya dan bagian poros “telur” untuk air terjun menari. Jadi, kita seperti diajak untuk mengarahkan kepala kesana kemari demi mengikuti show ini secara keseluruhan.
Sesudah itu, kami menuju Venetian Resort, hotel terbesar di Macau dengan ribuan kamar. Hotel ini juga memiliki mal yang di dalamnya terdapat berbagai butik barang-barang ternama dan ada area khusus di mal yang atapnya merupakan langit buatan dengan adanya sungai buatan lengkap dengan gondolanya. Pengunjung bisa berperahu dengan gondola itu, menyusuri sungai buatan dalam mal. Selain itu, hotel ini memiliki kasino yang cukup besar. Karena umur saya sudah mencukupi, maka saya dan orangtua saya mengunjungi kasino tersebut, sekadar melihat-lihat kasino itu seperti apa, mengingat Macau sangat terkenal dengan kasinonya, bahkan 75% pendapatan pemerintah Macau didapat dari kasino. Namun, kami tidak bermain di kasino tersebut, apalagi kemudian ada petugas yang bertanya kepada saya apakah umur saya sudah mencukupi atau belum untuk masuk kasino. Mungkin karena tampang saya yang awet muda?
Pulang dari Venetian Resort, kami diajak ke bandara Macau dan makan di salah satu restoran di sana, yang memiliki pemandangan langsung ke bandara. Sembari makan, saya melihat pemandangan pesawat yang take-off maupun landing di bandara tersebut dengan latar langit senja. Saya, yang menganggap bandara adalah salah satu tempat favorit saya, tentu menganggap hal tersebut sebagai pemandangan tak terlupakan.
City tour di Macau pun sudah selesai. Kami check-in di hotel kami, yaitu Taipa Square. Karena tak ada wi-fi dan saya juga agak tak enak badan, akhirnya saya tidur saja. Padahal, rencananya kami akan melihat air mancur menari di salah satu hotel disana. Namun, akhirnya keinginan melihat air mancur menari itu dapat dituntaskan dengan melihatnya di Grand Indonesia pada hari Minggu setelah kami pulang.