Selasa, 22 Desember 2009

Shii

Rasanya sudah setahun... ah, lebih, bahkan.. sejak saya menggunakan nama ini.
Pertama kali saya mengenal dunia maya, saya terkenal dengan nama pi-chan_kawaii. Tapi setelah ada kesamaan nama di salah satu forum, jadi saya mengubah nama saya menjadi shii_chan. Nama shii sendiri diperoleh dari ilham (?) saat saya iseng mengubah nama asli saya menjadi katakana.
Shii (terserah, mau disebutnya shi-i atau shi, tapi biasanya sih disebutnya shi), setelah dipikir-pikir, juga mengandung banyak arti:
-bagian nama asli saya (pastinya)
-bagian nama Jepang saya (yang dari nama asli juga): Yukiko Shirayama, jadi kalau ada yang bilang nama Jepang saya "Shii" itu salah...
-bagian dari 2 karakter saya yang juga dari nama asli: Shin Yurihara dan Yuriko Shirayama
*jangan kebalik ya antara nama Jepang dan nama karakter saya... saya juga sering kebalik sih XP*
-kalau disebut "shi", salah satu artinya adalah "syair"... (dalam bahasa Jepang), pas dengan saya yang memang suka all about literature.. dan arti yang lain adalah "4" dan "death"... 4 adalah angka yang entah kenapa sangat akrab dengan saya: keluarga saya anggotanya 4 orang, nomor rumah saya 34, blok C4, rumah nenek saya nomornya 4, dan seterusnya... sedangkan "death" adalah tema favorit saya terutama dalam membuat cerita...
-tak terlalu pasaran dibandingkan nama yang sebelumnya saya pikirkan: "Yuu" dan "Yuri".. lagian kalau pakai nama Yuri, tar saya dikira yuri(lesbi)... (?) *dihajar semua yang namanya Yuri*
-tak terlalu Jepang dibandingkan 2 nama yang saya sebutkan di point sebelumnya, jadi tak masalah mau di forum manapun... bahkan di forum non-Jepang
-nama salah satu boneka saya... dan bagian dari beberapa nama boneka saya *yang ini ga penting =="*
-bagian dari nama 2 artis Jepang favorit saya: Yui YoSHIoka dan YoSHIki HayaSHI.. *plak*
-bagian dari nama negara saya tercinta (kalau di-katakana-kan): IndoneSHIa *OK, ini rada maksa*
-dan beberapa arti lainnya

Entah kenapa, walau baru setahun, tapi nama ciptaan saya sendiri ini sudah mengakar dalam diri saya. Entah karena kalau disebutkan jadi mirip salah satu nama panggilan asli saya... atau bagaimana, ya... Yang pasti, di dunia maya saya selalu pakai nama ini... Dan saat gathering pun saya dipanggil "Shii", beberapa lainnya memanggil saya dengan nama asli.

Banyak yang bilang nama ini mirip nama cowok, memangnya benar, ya? Tapi banyak yang kira saya cowok, sih... Bahkan salah satu orang yang saya pernah kenal di dunia nyata pun pernah bilang kalau bahasa saya mirip bahasa cowok. (Sedangkan banyak cowok yang saya kenal yang ngomongnya pakai bahasa cewek *yang merasa, jangan tersinggung ^^*)

Kenapa saya pakai nama Shii dan bukannya Shi?
Karena menurut salah satu bab dalam pelajaran Bahasa Jepang, "shi" itu kadang di beberapa kata "i"nya dihilangkan, jadi biar tetap disebut "i"nya, maka jumlah "i"nya saya buat jadi 2...

Sekian...

Evaluasi Akhir Tahun: Harapan dan Resolusi

Saat saya menulis ini (22 Desember 2009), tak terasa tepat 10 hari lagi tahun 2009 yang penuh kenangan ini akan segera berakhir. Dan tahun depan saya akan menjadi bingung tentang penyingkatan tahun. Haruskah saya menuliskan '10? Agak aneh sepertinya, ya...
Tapi yang pasti, waktu makin cepat berlalu. Rasanya baru beberapa waktu yang lalu ketika tahun 2000 datang, eh, tak tahunya sekarang sudah hampir tahun 2010. Saya ingat sekali pas tahun 2000 dulu, saya membaca majalah Bobo, ada artikel di sana yang mengatakan "tahun 2010 akan ada robot untuk taksi", dan sekarang, menjelang tahun 2010, kita semua tahu bahwa yang dituliskan di artikel itu sudah ketinggalan zaman. Teknologi robot itu sudah ada entah dari tahun berapa. (Malah sekarang yang lagi "in" adalah menuliskan apa yang sedang kita pikirkan atau lakukan di status-status jejaring sosial...)
Nah, kembali ke topik utama. Rasanya baru sebulan setelah malam hari di sebuah hotel di Bandung, saya meng-SMS ucapan "Selamat Tahun Baru 2009" ke teman-teman saya. Sekarang, kejadian itu akan terulang lagi... Tapi tentunya di hotel yang berbeda~~


Apa saja ya yang sudah saya lakukan selama tahun ini? Hmm... banyak hal sepertinya... (Keterangan lengkap lihat entri-entri blog ini)
Mengalami banyak kemajuan dalam berbagai hal, misalnya:
-Dalam menggambar, saya belajar untuk menggambar dan mewarnai secara digital
-Menerbitkan buku di bulan Oktober lalu
-Membuat 3 blog (blog ini, blog resensi, dan blog tentang aspirasi saya)
-dan beberapa lainnya

Tapi tentu saja ada beberapa hal yang menyedihkan (kemunduran), misalnya:
-Nilai Bahasa Indonesia saya yang untuk pertama kalinya (dan semoga yang terakhir kalinya) remedial... (Padahal sebelumnya selalu diatas rata-rata, bahkan kerap kali menjadi yang tertinggi di kelas)
-dan beberapa lainnya

Ada beberapa hal baru yang saya temui, misalnya:
-Mengenal visual kei (bahkan ketika menulis entri ini saya sedang mendengarkan salah satu lagu dari salah satu band visual kei)
-Mengenal "Auchisuya"
-Pergi ke luar negeri
-Mendapatkan HP dan laptop baru
-dan beberapa lainnya

Ada beberapa hal yang menghilang namun ditemukan kembali, misalnya:
-2 orang yang sempat lost contact, namun berhubungan kembali dengan keduanya sekitar bulan Juli lalu... (Namun amat disayangkan, hubungan dengan salah satu dari mereka kini mulai mengendur kembali... semoga tidak lost contact lagi)
-Kembali belajar piano lagi mulai sejak setelah ulangan umum (tapi sekarang secara otodidak)
-dan beberapa lainnya

Penyesalan:
-Datang ke UNJ... yang benar-benar masih saya sesalkan sampai sekarang...
-Bertemu dengan "dia"... Yang benar-benar tak bisa diharapkan...
-Menuliskan penyesalan-penyesalan di sebuah buku... Sekarang saya bingung itu buku mau dikemanakan =="
Sebenarnya saya bukan tipe orang yang suka menyesal... Let it flow saja lah... Saya juga bingung, kenapa waktu itu saya menuliskan penyesalan-penyesalan di buku, ya =="
-Masuk IPA (?) -hmm hmm... kalau yang ini saya masih agak bingung, karena saya maunya masuk DKV... tapi kalau masuk IPS, saya maunya masuk Psikologi... Bahasa, saya mau masuk Sastra Jepang atau Sastra Indonesia... pilih yang mana ya... -
-dan sebagainya


Resolusi tahun depan (tidak urut):
-Bisa belajar piano lagi
-Rencana membentuk band terwujud
-Bisa menjalin hubungan dengan beberapa orang yang lost contact namun ingin saya hubungi lagi
-Bisa berpartisipasi dalam IYC (kalau bisa sebagai perwakilan provinsi, tapi kalau tak bisa, jadi panitia atau minimal datang, lah...)
-Bisa bertemu dengan "beberapa orang"...
-Lulus dengan nilai memuaskan
-Rata-rata Kimia HARUS diatas 9!!
-Bisa cosplay minimal 2x
-Menerbitkan buku ke-2
-Mendaftar ke jurusan DKV atau Psikologi atau Sastra Jepang atau Sastra Indonesia... atau Komputer (terserah, mau TI, SI, atau sebagainya) atau Teknik Kimia atau Arsitektur atau Ilmu Politik atau atau atau atau atau........ *buset ternyata banyak amat yang mau dimasukin*, apa aja deh, asal jangan KEDOKTERAN
-Membuat forum internet (ga puas cuma jadi staff)

Bagi Rapor

Akhirnya hari ini rapor dibagikan juga, artinya besok saya bisa libur sekolah seperti anak-anak lainnya XDDDD
Secara umum saya lumayan terheran-heran dengan rapor saya kali ini. Tidak menyangka bahwa Kimia saya, yang saya yakin rata-rata di rapor diatas 90, malah dapat 86 saja.
Beberapa nilai lainnya juga begitu. Ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah dari perkiraan.
Tapi yang saya tangkap adalah, mungkin saya harus belajar lebih baik lagi...
Walau ada nilai yang memuaskan, nilai yang tidak memuaskan, maupun nilai yang saya tidak menyangka hasilnya lebih tinggi dari perkiraan...
Yah, sekian ^^

Japan Douzei

Karena saya sudah lama tidak menulis tentang event-event yang saya ikuti (karena kebetulan memang sedang jarang ikut event), jadi saya memutuskan untuk menuliskan ini.
Jadi, pada tanggal 20 Desember 2009, ada event Jepang, yaitu Japan Douzei di GOR Pasar Minggu. (Info lengkap silakan cari sendiri ^^)
Nah, karena ajakan beberapa teman dunia maya yang ke sana, akhirnya pergilah saya ke sana. Rencananya saya akan tiba di sana sekitar jam 1 siang. Kebetulan hari ini saya punya banyak acara *halah*. Makan siang di Bandar Jakarta, kemudian ada undangan pernikahan saudara jam 7 malam. Nah, sisa waktu diantara itu yang rencananya akan digunakan saya pergi ke Japan Douzei.
Dua kejutan terjadi secara bersamaan pagi harinya. Beberapa orang yang ingin saya temui mendadak tidak jadi datang, sedangkan di saat bersamaan, seseorang yang tidak ingin saya temui malah datang. Saya jadi bingung, apa sebaiknya saya jadi datang atau tidak. Akhirnya saya mendiskusikan masalah ini dengan seseorang, dan dia bilang intinya "Ya sudah datang saja, kalau ketemu sama *beeeeppp* (nama orang yang tidak ingin saya temui), menghindar saja"
Saya melewati pagi hari dengan menonton DVD anime yang sebenarnya sudah sangat lama saya beli, namun karena tak ada waktu jadi saya belum menontonnya sampai sekarang: Lucky Star dan Kuroshitsuji. Setelah menonton 3 episode anime Lucky Star (saya baru tahu ternyata Lucky Star tak ada cerita intinya), dan Kuroshitsuji, tapi karena Kuroshitsujinya macet, jadi saya ingin mendownload animenya dari internet saja. Setelah itu saya mengecek FB saya sebentar, menyimpan beberapa nomor hape orang-orang yang saya ingin temui di Japan Douzei.
Sekitar jam 11, orangtua saya mengajak kami untuk makan di Bandar Jakarta. Kemudian, pergilah kami ke Bandar Jakarta, dan sampai di sana sekitar pukul 11.50. Selama itu, saya terus memantau lewat beberapa teman yang sudah sampai di GOR supaya saya bisa datang setelah orang yang tidak ingin saya temui itu pulang. Karena pesanan makanan datang amat sangat lama (sekitar lebih dari 30 menit), akhirnya kami baru keluar dari Bandar Jakarta sekitar jam 1 lewat, sedangkan pada saat itu seharusnya saya sudah sampai di GOR. Saya pun meminta maaf kepada teman saya karena pasti akan datang telat.
Kemudian saya pergi ke Pasar Minggu diantar orang tua (tadinya mau menumpang teman, tapi karena ada undangan pernikahan, jadi supaya cepat pulang, diantarlah dengan mobil), tapi lewat jalan biasa, karena kalau lewat jalan tol mereka tak tahu turunnya di Taman Mini atau di mana. Sebetulnya kami tidak tahu jalan menuju GOR Pasar Minggu, jadi saya menanyakan kepada teman saya jalan menuju ke sana. Dan setelah beberapa saat (sampai nyasar di daerah Ragunan), akhirnya kami tiba di tempat event sekitar jam 1/2 4 sore. Pertama kali tiba di tempat event, saya agak tak percaya. Tempatnya tidak terlalu ramai, dan menurut saya terlalu kecil untuk dijadikan tempat event ==". Tapi melihat banyak yang memakai kostum cosplay, dan ada spanduk kecil bertuliskan "Japan Douzei", akhirnya saya mencoba untuk melihat-lihat dulu. Saya meng-SMS teman-teman yang ingin saya temui (yah... kebetulan pulsa saya tinggal tersisa pulsa SMS saja). Ternyata banyak diantara mereka yang sudah mau pulang. Saya menunggu di depan, tempat tiket, sambil melongok ke dalam, mencoba melihat apa yang ada di dalam. Tapi yang saya lihat hanya panggung dengan penyanyinya, dan ada banyak orang berkumpul di dekat panggung (benar-benar seperti konser biasa). Saya tidak melihat (atau memang ada tapi saya tidak melihatnya ya?) stand-stand yang biasanya ada di J-Event. Karena saya merasa "Loh kok event Jepang ga ada standnya? Yang bener, nih? Masa cuma ada band doang?"Akhirnya saya memutuskan untuk tak masuk dan menunggu di luar saja. (Apalagi saya sedang krisis keuangan karena sedang menabung untuk cosplay, sedangkan untuk membeli tiket masuk saja dibutuhkan pengorbanan tidak jajan beberapa hari).
Karena orang-orang yang ditunggu tidak datang-datang, sedangkan waktu terus berjalan, dan sorenya ada acara, akhirnya saya pulang dengan tidak menemukan siapa-siapa.
Yah, begitulah ceritanya... Saya jadi belajar kalau "Ada event yang memakai tiket masuk, mending tidak usah datang, mending uangnya ditabung untuk cosplay di event yang gratisan..." *dihajar rame-rame*
Semoga para pembuat event Jepang berbaik hati sehingga semua event menjadi gratisan (banyak sponsor tidak apa) jadi saya bisa datang di semua event~~~ *maunya*

Rabu, 16 Desember 2009

Cosplay di Indonesia

Saya pernah menulis tentang ini belum, ya...

Cosplay atau kalau di-Jepang-kan menjadi "kosupure" berasal dari kata "costume play". Ini adalah sebutan untuk gaya berpakaian yang meniru tokoh anime, manga, atau game Jepang. Tapi, seiring dengan perkembangan zaman, cosplay juga ada yang original, dengan berbagai style tentunya, seperti gaya Harajuku, gothic lolita, dan sebagainya.
Di Indonesia, cosplay juga banyak digemari, tidak hanya di event-event Jepang saja. Beberapa event non-Jepang juga kerap kali mencantumkan cosplay sebagai acara mereka. Hal ini dikarenakan cosplay itu sangat menarik untuk sebagian besar orang.
Saya sendiri belum pernah cosplay, tapi beberapa bulan ke depan saya akan cosplay, makanya mau menabung dari sekarang. Dan untuk rencana itu juga, saya menanyakan tentang cosplay ke beberapa cosplayer, mulai dari yang biasa saja sampai yang profesional. Data-data itulah yang akan saya tulis di sini.
Menurut mereka, biaya rata-rata untuk membuat 1 kostum minimal 300 ribu, tergantung kerumitan kostum dan kualitas tentunya. Lama pembuatan juga bergantung pada kerumitan kostum, tapi biasanya 1-2 minggu juga sudah jadi. Untuk kostum yang rumit seperti kostum tokusatsu (robot-robot macam Power Rangers, Kura-kura Ninja, dll, tapi yang ada di Jepang, misal: Kamen Rider), biayanya lebih besar dan waktu pembuatannya lebih lama lagi.
Untuk aksesoris biasanya tergantung kreativitas masing-masing. Tentu saja disesuaikan dengan kondisi keuangan yang ada.
Sekarang saatnya memaparkan pengamatan saya terhadap cosplayer yang biasanya muncul di event-event Jepang yang saya hadiri.
Sebenarnya menurut saya, kalau kita punya kreativitas yang tinggi, baju biasa pun bisa jadi baju untuk cosplay. Tinggal ditambahkan aksesori saja, jadi lebih menghemat bahan. Apalagi untuk yang cosplay original.
Lalu saat memakai kostum yang ada, seperti drama, kita bisa berperan sesuai karakter yang kostumnya kita pakai untuk cosplay. Tak peduli aslinya kita sifatnya seperti apa. Waktu difoto pun, kita bisa menirukan gaya-gaya tokoh tersebut. Untuk itu, sebelum melakukan cosplay, kita dapat melakukan riset dari jauh-jauh hari terhadap karakter yang akan kita perankan. Menurut saya, akan lebih mudah apabila kita memerankan karakter ciptaan kita sendiri, karena sifatnya bisa sesuai keinginan kita. Kadang tak mudah untuk memerankan karakter yang sifatnya tak sesuai dengan kita. Biasanya cosplayer yang bagus dan menarik perhatian adalah cosplayer yang baik penampilan dan karakternya mirip dengan karakter yang diperankan. Semakin mirip, semakin baik. Walaupun kostumnya sudah dibuat sedemikian detail dan bagus, kalau penghayatan si cosplayer kurang, hasilnya pasti kurang bagus. Begitu pula sebaliknya.

Otaku di Indonesia

Otaku adalah sebutan untuk maniak tingkat tinggi terhadap sesuatu, biasanya terhadap anime, manga, atau game. Istilah otaku ini berasal dari Jepang yang artinya "rumah". Saat ini otaku bukan hanya di Jepang. Karena era globalisasi, maka fenomena kecintaan terhadap Jepang, terutama anime, manga, dan gamenya, berkembang di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Agak berbeda dengan Jepang, berdasarkan saya, otaku di Indonesia agak berbeda. Kalau di Jepang, otakunya bisa mencapai tingkat "ekstrim", misalnya punya bayangan mempunyai pasangan dari tokoh anime, antisosial (bahkan dengan sesama otaku sekalipun), kerjaannya setiap hari kalau tak main game, baca manga, nonton anime. Di sini, berdasarkan penelitian secara tak langsung yang saya lakukan, otaku di sini berarti "Anime, manga, and J-game lover", jadi bisa lebih sosial, tetapi pembicaraan antar otaku tidak mudah dipahami oleh "orang biasa" (orang biasa disini maksudnya adalah orang yang tidak mengerti dan mengetahui anime, manga, atau game). Kadar otaku di sini juga bermacam-macam. Saya akan mencoba mengelompokannya dari kadar terendah sampai tertinggi:
-Level 1: Hanya mengetahui anime, manga, dan game yang terkenal saja. Anime yang ditonton biasanya sudah diputar di TV nasional. Manga dan game hanya yang terkenal saja, contoh: Naruto, Bleach, Conan, dsb. Sulit dibedakan dari "orang biasa".
-Level 2: Mengetahui anime, manga, dan game yang tidak diputar di TV nasional (bisa di TV berbayar, DVD, dsb.), manga yang dibaca juga lebih bervariasi, begitu pula gamenya.
-Level 3: Mencari anime, manga, dan game yang "langka". Membuat kostum (untuk cosplay), fanfic, fanart dan pairing-pairing dari anime, manga, atau game.
-Level 4: Anime, manga, atau game sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Semakin tinggi levelnya, semakin otakulah ia. Semakin menjauh dari "orang biasa"...
Nah, level manakah kalian? Saya sih level 2,25 sepertinya... Saya membuat beberapa fanart dan beberapa pairing, tapi tidak berniat untuk mencari anime, manga, atau game "langka". Tapi kalau kalian mengenal saya di dunia nyata, saya terlihat tidak tampak seperti otaku. Nah, satu lagi. Penampilan otaku di sini bisa menipu. Orang yang sebenarnya otaku bisa terlihat seperti "orang biasa" dan begitu pula sebaliknya. Jadi, berhati-hatilah. ^^

Another Controversial Topic (?)

Ya... ya... Saya tahu kalau dimanapun, lomba yang diadakan, biasanya tidak boleh menyinggung unsur SARA. Namun, karena terinspirasi oleh pembicaraan saya dengan seseorang barusan, yang membuat saya teringat akan percakapan saya dengan orang yang berbeda (tapi dengan topik yang hampir sama) beberapa waktu lalu, saya memutuskan untuk membuat ini, dengan berbagai resiko. Mungkin blog saya ini akan dihapus, mungkin entri ini akan banyak dikomentari, saya juga belum tahu reaksi yang terjadi. Tapi saya akan berusaha untuk bersikap universal, tidak memojokkan suku, agama, atau ras tertentu. Karenanya saya hanya menyampaikan pendapat saya, tidak menyebarkan kuesioner atau semacamnya (lagi).

Masalah SARA itu memang tidak ada habisnya. Selama belum ada kesadaran dari pihak yang bertengkar, pasti tidak akan ada penyelesaiannya. Kita tentu sering mendengar konflik antar suku, agama, atau ras. Penyebabnya bermacam-macam, bisa karena kecemburuan, karena "doktrin" yang telah disampaikan orangtua secara turun-temurun, dan sebagainya. Harus diakui bahwa sebagian besar penduduk Indonesia menganut primordialisme dan sektarialisme. Seseorang pernah berkata pada saya bahwa "Boleh saja kita berkata bahwa kita ini nasionalis, tapi coba misalnya kalian mau menikah dengan orang yang agama atau sukunya berbeda dari kalian, apakah orangtua kalian akan setuju? Kalau tak setuju, artinya tak Bhinneka Tunggal Ika dong... Kan harusnya kita menghargai perbedaan, walau dari agama, suku, atau ras berbeda..."
Yah, saya separuh setuju dengan pendapat seseorang tersebut. Bangsa yang baik seharusnya menghargai perbedaan. Lihat saja contohnya Amerika. Walau sekarang masih kontroversial, tapi terpilihnya Obama sebagai presiden AS membuktikan bahwa mereka sudah mulai mencoba menghargai perbedaan. Orang kulit hitam adalah minoritas di AS, sedangkan mayoritas pemilih memilih Obama sebagai presiden mereka.
Saya sendiri tidak membeda-bedakan suku, agama, atau ras tertentu. Bagi saya semuanya sama... suku apapun, agama apapun, ras apapun, dari negara manapun... Saya tidak mengagung-agungkan dan mencela suku, agama, atau ras tertentu, sekalipun itu suku, agama, atau ras saya sendiri. Semuanya netral saja. Sayang kebanyakan dari orang yang saya ketahui, telah di"doktrin" agar membenci SARA tertentu. Bagi saya, tak ada interpretasi, terutama yang negatif, terhadap SARA tertentu. Sikap seseorang itu ditentukan dari diri orang itu sendiri, bukan dari SARA mereka. Makanya, sebenarnya saya heran, apa tujuan mendiskriminasikan SARA yang berbeda dengan kita? Toh semuanya sama-sama manusia, homo sapiens, ciptaan Tuhan yang paling mulia... Alasan "kami mayoritas", "kami bangsa penguasa" dan lain sebagainya pun bagi saya mengherankan. Memangnya kenapa kalau mayoritas? Bukan berarti seenaknya mencela yang minoritas kan? Dan bagi saya tidak ada istilah "bangsa yang paling mulia" atau semacamnya (seperti paham Jepang, Italia, dan beberapa negara lainnya pada zaman Perang Dunia dulu). Kenapa kalian merasa bangsa kalian paling mulia? Semua bangsa sama, kok. Tak ada istilah "kita sudah ditakdirkan lahir dari bangsa ini, jadi kita harus rela diperbudak" atau sebaliknya, "kita lahir dari bangsa ini, artinya bangsa kita yang paling mulia, sedangkan bangsa lain lebih rendah dari binatang (itu contoh ekstrimnya)".
Sayangnya solusi untuk masalah ini tidak bisa datang dari diri orang lain. Kesadaran kitalah yang menentukan. Apa kita mau mencoba untuk menghargai orang lain yang SARAnya berbeda dengan kita? Apa kita bisa mencoba untuk bersikap netral, tidak mengagung-agungkan maupun menjelek-jelekkan SARA, sekalipun itu SARA kita sendiri? Apa kita mau belajar untuk tidak menginterpretasikan SARA tertentu? Kalau kita mau mencoba, kalau kita mau berusaha, bukanlah impian kalau suatu saat nanti Bhinneka Tunggal Ika akan benar-benar terwujud.

IYC 2010

Note: Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk tujuan promosi, hanya merupakan kesan-kesan saya terhadap event ini. Tulisan ini murni hasil tulisan saya, dan bukan copy-paste dari situs resmi IYC.
IYC atau Indonesian Youth Conference adalah konferensi untuk pelajar usia 15-21 tahun yang memungkinkan setiap peserta untuk mengeluarkan pendapatnya secara bebas. Masalah yang akan ditanggapi berkaitan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari, misalnya masalah tentang nasionalisme, masalah-masalah daerah seperti kemacetan di Jakarta, dan seterusnya. Konferensi ini akan diadakan dari tanggal 7-9 Juli 2010, dan pada tanggal 10 Juli 2010 adalah acara puncaknya.
Jika diantara kalian ada yang memiliki pandangan tersendiri soal masalah-masalah yang ada, beserta pemecahannya, jangan hanya dipendam saja! Jika ingin, kalian bisa berpartisipasi lewat websitenya di www.indonesianyouthconference.org. Kalian bisa mendaftarkan diri menjadi 1 dari 33 peserta konferensi, atau bisa sekadar menyumbangkan karya kalian. Karya yang akan dipublish bisa dalam bentuk tulisan (contoh: saya iseng-iseng mengirimkan entri blog ini yang berjudul "Keprihatinan Nasional" dan ternyata dimuat...) maupun dalam bentuk foto/gambar, yang mencerminkan pendapat kalian terhadap masalah-masalah di negeri ini.

Minggu, 13 Desember 2009

Korupsi dan Ketidakadilan Hukum di Indonesia

Another "serious" topic from me...
Berhubung saya menulis ini pada hari sebelum saya ulangan semesteran PKn, jadi tak ada salahnya saya mengangkat topik ini. (Daripada mengangkat tentang Malingsia-Malingsia melulu... lebih baik bercermin dulu bukan?)

Telah kita ketahui kasus yang sedang heboh sekarang ini, yaitu tentang ditangkapnya Chandra M. Hamzah dan Bibit S. Rianto, dua petinggi KPK (namun sekarang sudah dibebaskan, UNTUNGNYA) dan juga yang lebih heboh lagi, kasus Bank Century, kasus yang sebenarnya sudah ada sejak beberapa bulan lalu namun baru diangkat lagi sekarang... (Sepertinya dulu kasus itu sengaja ditenggelamkan? Hmm...)
Tapi yang akan saya bahas sekarang bukan itu... Sudah banyak blog lain yang mengungkapkan pendapat tentang kasus-kasus itu, dan sepertinya pendapat saya sudah terwakili oleh pendapat-pendapat mereka semua... Jadi kali ini yang akan saya bahas adalah tentang (lagi-lagi) keprihatinan saya terhadap ketidakadilan hukum yang ada di negeri ini. Untuk kali ini saya memang tidak menyebarkan kuesioner, namun saya rasa sudah cukup saya melakukan beberapa wawancara secara terselubung dan studi pustaka.


Korupsi. Siapa diantara kita yang tidak pernah melakukan korupsi? Saya yakin, tanpa kuesioner sekalipun, semua orang pasti menjawab pernah melakukan korupsi, baik dalam skala kecil maupun skala besar. Apa saja kiranya bentuk korupsi yang sering dilakukan? Bermacam-macam, mulai dari menyontek, memakai uang yang diberikan untuk keperluan lain, datang terlambat ke sekolah/kuliah/tempat kerja, sampai (mungkin) melakukan suap ke orang lain.

Karena kita semua pernah melakukan korupsi (saya yakin itu), maka tidak heran apabila Indonesia terkenal akan budaya korupsinya. Kalau sesuatu dilakukan, apapun itu, dari skala kecil, lama-kelamaan pasti skalanya akan makin besar. Maka tak heran, karena sedari kecil kita sudah melakukan korupsi, setelah besar pun kita akan melakukan korupsi, tentunya dalam skala yang makin besar.

Tak seperti kebudayaan tradisional yang harus kita pertahankan, kita harus memberantas perilaku korupsi yang sudah membudaya ini. Dan semuanya bukan hanya tanggung jawab KPK atau lembaga masyarakat saja, kita semua harus terlibat dalam memerangi korupsi. Semua itu bisa kita mulai dari diri kita. Jangan biasakan diri kita untuk melakukan tindak korupsi, walaupun dalam skala kecil. Percuma saja kalau kita berdemo baik secara langsung maupun tak langsung, kalau kita sendiri masih melakukan korupsi.


Soal ketidakadilan hukum, saya sangat prihatin atas beberapa kasus yang telah terjadi akhir-akhir ini. Seperti yang telah kita ketahui, tanggal 7 Desember lalu ada kasus salah tangkap yang dilakukan oleh oknum polisi. Hukuman yang dijatuhkan pada pihak polisi tersebut dinilai tak sebanding dengan rasa malu yang telah ditanggung si korban salah tangkap, dan juga peristiwa tersebut tentunya telah memperburuk citra kepolisian yang sekarang dinilai sangat buruk. Masih segar pula dalam ingatan kita terhadap kasus seorang yang terpaksa bolak-balik ke pengadilan hanya karena ia mencuri buah kakao. Memang ia dibebaskan, namun rasanya aneh saja. Gara-gara mencuri buah kakao sampai harus bolak-balik ke pengadilan, sedangkan koruptor-koruptor di luar sana malah dibiarkan. Belum lagi kasus Prita, yakni menuliskan email yang bertujuan menceritakan ke orang-orang tentang pengalaman buruknya dengan RS OMNI. Pihak RS malah menuduhnya mencemarkan nama baik (Saya jadi teringat akan salah satu entri saya yang menceritakan pengalaman buruk saya dengan salah satu operator telekomunikasi...)dan pengadilan saat ini memutuskan agar Prita dikenai denda 204 juta rupiah. Tapi, bukankah itu berarti melanggar kebebasan berpendapat? Seolah-olah itu menyimpulkan bahwa pihak RS tidak mau menerima kritikan. Kalau memang yang dituliskan itu benar adanya, mengapa tak berefleksi dulu?

Memang saya belum memikirkan penyelesaian untuk masalah yang satu ini, tapi saya rasa alangkah baiknya jika aparat penegak hukum di negeri ini mencoba untuk belajar dari kesalahan yang mereka lakukan selama ini, dan tentu saja, berusaha lebih jujur! Banyak diantara aparat penegak hukum yang tidak adil karena telah menerima suap. Penegak hukum yang baik seharusnya menolak suap tersebut...

Review Ulangan Semester 1 Tahun Ajaran 2009/2010

Kontras dengan ulangan mid semester 1 yang diselenggarakan sekolah saya beberapa minggu lebih cepat dibandingkan sekolah-sekolah lain, ulangan semester 1 di sekolah saya justru diselenggarakan lebih lambat dibandingkan sekolah-sekolah lain. Ketika sebagian besar sekolah sudah mengakhiri ulangan semester 1 mereka tanggal 4 Desember, dan sebagian lagi tanggal 9 Desember, sekolah saya justru memulai ulangan umumnya pada tanggal 7 Desember dan berakhir tanggal 12 Desember. Berikut kesan-kesan saya terhadap ulangan umum kali ini:
7-12
Religio: Seperti biasanya, lumayan mudah, hanya saja kali ini dalam PG-nya saya mengandalkan insting dalam beberapa soal...
Kimia: Diantara sekian mata pelajaran yang diujikan, saya paling yakin nilai saya paling bagus dalam ujian ini. Soal-soalnya sangat mudah, baik PG maupun esai. Semoga kalau pensilnya tidak error dan beberapa kesalahan teknis lainnya, saya bisa mendapatkan nilai rata-rata diatas 9 untuk rapor semester 1...

8-12
Fisika: Ada beberapa soal yang saya tidak dapat jawabannya, ada juga yang lupa rumusnya, dan baru saya ingat tepat ketika saya mengumpulkan jawaban ujian.
Olahraga: Lumayan, walau dalam esai ada satu soal yang benar2 membutuhkan kemampuan mengarang saya...

9-12
Biologi: Ada 1 soal esai yang sepertinya salah total... Tapi secara keseluruhan sih, lumayan...

10-12
Matematika: Mungkin ini yang paling mengkhawatirkan, mengingat hampir semua teman sekelas saya juga berpendapat demikian. Waktunya saya rasa sangat tidak sebanding dengan jumlah soalnya... 1 soal membutuhkan waktu kira-kira 5 menit, sedangkan menurut perhitungan waktu, 1 soal maksimal 3 menit. Alhasil, banyak yang seharusnya saya bisa, namun karena keterbatasan waktu, terpaksa mengandalkan insting...
B. Indonesia: PGnya tergolong "sangat mudah", hanya saja esainya ada 1 soal yang mempergunakan sebagian teknik mengarang saya... yaitu "Sebutkan 4 unsur keunggulan buku yang diresensi". Karena gurunya lumayan textbook, jadi saya kurang yakin. Cukup ironis, mengingat saya merupakan admin dari blog resensi buku (http://resenshii.blogspot.com) dan salah satu anggota milis resensi buku. Catatan Bahasa Indonesia saya baru saya pelajari ketika istirahat karena saya meminjamkannya kepada seseorang hari sebelumnya, namun tak berhasil menemukan orang itu sehingga orang itu baru mengembalikannya ketika istirahat menjelang ulangan Bahasa Indonesia. Karena tak membaca tentang resensi itulah, saya menuliskan apa saja aspek-aspek yang saya nilai dari buku-buku yang saya resensi selama ini, dan juga menggunakan sebagian teori dalam penerbitan buku yang saya dapatkan di sebuah forum.

11-12
B.Inggris: Mudah, hanya saja di salah satu nomor esai saya tidak yakin benar atau salah. Selebihnya, saya cukup optimis.
Sejarah: Sebenarnya mudah, hanya saja saya kurang membaca dengan baik bahan ulangan yang ada sehingga saya tidak mempelajari bahan tersebut.

12-12
PKn: sebenarnya gampang, hanya saja ada satu soal yang setelah dilihat, saya hanya mendapatkan poin 2,5 dari 5 poin, yaitu "Sebutkan menteri perempuan (5) yang ada di Kabinet Indonesia Bersatu jilid 2!!!" Saya tak perlu menyebutkan mana yang salah dan yang mana yang benar...

TIK/Komputer: sangat amat mudah... lebih mudah dari Kimia bahkan!!