Selasa, 31 Mei 2011

Things that I Will Miss When I Graduate from My (Not So) Lovely School

Sekolah sudah berakhir dengan sukses (?). Dan itu artinya, sebentar lagi saya harus meninggalkan bangku sekolah. Berikut hal-hal yang akan saya kangeni dari sekola h saya, sang "Penjara Hijau":


Anak SMP pada Misa Hari Raya Santa Ursula 2010
1. Seragam "taplak"
Memangnya ada gitu, kuliah pakai seragam seperti gambar di atas? XP
Kalau kuliah sih masih ada universitas yang pakai seragam (contoh: IT TELKOM), tapi tentunya bukan seperti gambar diatas... Hoho..


Maaf fotonya rada blur, ngambilnya candid sih...
2. Bakmi sekolah
Kantin ini menjual bakmi yang enak (menurut saya) walau harganya terus naik seiring bertambahnya laju inflasi *halah*.
Saya menjadi pelanggan tetap kantin ini sejak kelas 1 SMP. Dari dia belum jualan bakmi dan masih jualan jagung rebus keju dan susu kental manis *yang menginspirasi saya buat mencoba resep demikian dan bereksperimen dengan jagung rebus tersebut*.



Lantai 4 perpustakaan sekolah. D
3. Perpustakaan
Tempat favorit saya dari saya SD (walau SD saya bukan disini, tapi sepertinya dari kecil saya sudah dididik untuk menjadi seperti Shiori Shiomiya... haha).
Menyediakan berbagai jenis buku mulai dari sastra lama angkatan 1920-an (terbitan perdana, bukan cetak ulang) sampai buku terbaru yang bahkan kalau Anda ke toko buku, buku itu masih ada di deretan "New Arrival" (apalagi kalau kau ke perpustakaan ini sekitar bulan April atau Mei, banyak buku yang benar-benar baru...). Sayangnya tak ada komik disini, kecuali zaman dulu ada komik Candy-candy (sekali lagi, terbitan perdana loh, bukan cetak ulang!) yang sekarang sudah hilang entah kemana. Ada lagi satu seri LN yang yakni Kamisama Kazoku. Tapi tetap saja, perpustakaan ini termasuk lengkap untuk memenuhi( kebutuhan membaca saya yang (kalau gak ada ulangan) minimal empat buku per minggu, tanpa harus membeli ke toko buku.


Sebenernya ini bukan CNCS sih.. Cuma acara Natal sekolahan tahun 2010 lalu...
4. Cintaku Negeriku Cintaku Sekolahku
Walau program ini baru berlangsung 2 tahun lalu, tapi saya tidak akan melupakan peringatan Sumpah Pemuda, HUT Sekolah, dan Hardiknas yang diadakan secara kreatif oleh kelas 11. Tentu saja yang paling saya ingat sewaktu kelas saya mengadakan CNCS dalam rangka HUT Sekolah Januari 2010 lalu.


Ini bukan misa kreatif juga... Misa hari ultah sekolah ini XD
5. Misa Kreatif
Walau saya bukan beragama Katolik, tapi saya sungguh menanti-nantikan adanya misa kreatif yang cuma diadakan 4 kali per tahun ajaran ini. Temanya sungguh unik-unik, visualisasinya sangat kreatif dan lagunya juga terdiri dari lagu-lagu populer yang kemudian diubah liriknya sedemikian rupa hingga cocok untuk misa. Yang paling saya ingat adalah misa kreatif pertama saya kelas 10 semester 1 yang diadakan TPSU, MB, dkk berjudul "Cinta Datang Karena Terbiasa" dalam bahasa Jawa (witing tresno apalah itu...), misa entah kapan yang memakai kolintang sebagai musik pengiringnya dan memakai lagu tradisional yang digubah, misa yang visualisasinya tentang anak yang masuk ke dunia game, misa kelas saya yang berjudul "Skypainters", dan misa kelas lain seangkatan saya yang bertema "Kirei" dan saya ingat karena nuansanya sangat Jepang.




Para peserta cosplay di Festival Sakura
6. Event Kreatif
Setiap tahunnya sekolah mengadakan event kreatif, mulai dari edufair, event tahunan OSIS, dan seterusnya. Namun yang paling akan saya ingat tentu saja, tak lain dan tak bukan, Festival Sakura, event pertama dan terakhir di sekolah yang bernuansa Jejepangan selama saya sekolah disana, event dimana saya bisa datang 2 hari berturut-turut, event dimana saya tertarik jadi panitia tidak resmi yang menjadi penghubung antara cosplayer di FB dengan pihak penyelenggara, dan event Jepang dimana saya untuk pertama kalinya hadir setelah beberapa tahun terakhir hiatus di event dan tidak datang ke J-event manapun kecuali gathering forum.


Kalau jeli, Anda bisa menemukan penulis entri ini di foto ini
7. Suasana "Gersang"
Gersang karena tak ada pemandangan lawan jenis seumuran disana. Lawan jenis yang ada hanyalah para guru dan karyawan sekolah.


Kelompok Serviam yang (katanya) untuk menambah keakraban antara kakak dan adik kelas
8. Suasana Bersekolah
Yang terakhir, tentu saja suasana bersekolah yang takkan pernah lagi saya alami. Lulus dari sekolah berarti tak ada lagi saat-saat duduk di kelas menunggu guru datang, murid-murid berseragam berseliweran, mendapatkan rapor, dan seterusnya.

Jadi, bagi yang masih sekolah dimanapun sekolah Anda berada, syukurilah masa-masa sekolah yang ada. Karena masa seperti itu takkan terulang untuk kedua kalinya.

Entri-entri Terakhir yang Ber-Tag "School"




UAN SUDAH BERAKHIR!
Artinya, sebentar lagi saya sudah lulus sekolah...
Dan artinya saya sebentar lagi tidak akan menulis entri ber-tag "school" melainkan berganti ke "university"... hoho..
Kecuali mungkin sedang mengenang masa lalu atau mungkin me-report event di sekolah manapun...

~bye-bye school!~

First Impression: HELLO ~Paradise Kiss~




HELLO ~Paradise Kiss~ adalah single YUI yang dikeluarkan tanggal 1 Juni 2011. Berikut adalah review singkat saya tentang album ini. Seperti biasa, hanya dari secara umum, tidak dari liriknya:

1. HELLO ~Paradise Kiss~
Awal yang sangat catchy! Secara keseluruhan lagu ini cukup easy listening. Video lagu ini juga paling menarik dengan adanya 9 gaya YUI yang berbeda-beda. Walau bukan lagu terbaik YUI, tapi menurut saya video lagu ini adalah video terbaik YUI.

2. YOU
Gitar, piano, dan biola dalam satu album! Lagu penutup yang sangat tepat untuk mengakhiri hari sebelum tidur... Lagu yang manis sekali...

3. It's My Life (Acoustic Version)
Tak ada kesan berarti, sih... Sama saja seperti versi akustik lagu-lagu YUI pada umumnya... Tak ada yang spesial menurut saya...

4. Hello ~Instrumental~
Serasa kayak versi non instrumental, karena backing vokal yang menyertai sebagian lagu...


DOWNLOAD HERE

Nilai: 8/10

Senin, 23 Mei 2011

Holiday Projects

Actually I already have holiday from one month ago. I have no idea about how to do; everyday I spend my time to go to the mall, reading book, playing Osu! (I will tell you more about this game), watching anime, browsing, and make cross stitch (I will tell you more about this too). I've already tried to find a job (working in magazines, maybe?), but there are no job vacancy. So, I'm only stuck on long boredom because I can't do nothing. That's why, I try to make my holiday projects. Here are my projects:


1. #projectfanfic
My project which I have planned about three months ago. It's project that collect fanfictions from people and then make it to the book. Quite interesting, isn't it? Your fanfic can be read by all the people! You just send your fanfictions to me and then I'll make your fanfic to the book. More info: http://fanficproject.blogspot.com . Temporary deadline: May, 31st, 2011.


2. Cross Stitch
Three weeks ago, I came to school to fit jumper that will be get on the graduation day. After school, I decided to go to Pasar Atom in Pasar Baru, which sell wigs, clothes, and other cosplay properties. However, when I chatted with one of my cosplay friend on the messenger, I found that cosplay properties in Pasar Atom is quite expensive. So, I changed my plan and went from one store to other store to buy... cross stitch! Cross stitch is kind of handicraft that I loved very much... in the past. I have about three months holiday, so I want to spend the holiday time for making cross stitch.


3. Get Top 50 Player in Indonesian Catch the Beat's Chart
I've told you that I spend my holiday time to play "Osu!". "Osu!" is game that have three modes: Osu! Standard, Taiko, and Catch the Beat. Osu! Standard is similiar to game that called Osu! Ouendan in DS console. You click the rhythm, or often you must slide your mouse to the slider, even make a circle quickly with your mouse when you got the spinner. Taiko is similiar with... Tap a Jam, maybe (do you remember this old game? I am a Tap a Jam maniac in the past XD). You have two buttons which you can choose in your keyboard. When you got red, press one of the button in your keyboard and when you got blue, press the others. However, in my opinion, Taiko is the most difficult mode in "Osu!". The easiest is Catch the Beat, in my opinion. You only press left and right arrow button (and sometimes left Shift button) in your keyboard to catch fruits.
Although most of the player are usually good at Osu! Standard mode, I prefer to play Catch the Beat because it is easy (even in Insane mode... XP) and not make your mouse or keyboard broken. I heard from other "Osu!" players that their mouse or keyboard is broken because of playing Osu! Standard or Taiko. Also, Catch the Beat is relaxing (if you play it in no mod selection), because you can enjoy the song and the video while you catch the fruits.
Now, my ranked score is about 400 million, and I should get more 100 million to be the top 50 Indonesain CTB player. It maybe sounds difficult, but actually it is quite easy I think, because in first month of the holiday I already get more than 150 million score! XD


4. Make Online "Magazine"
I want to make online "magazine" with English, but the articles is most about Indonesia. I will make a new blog (Wordpress, maybe), and then write entries such as lifestyle, tips, quiz, and more. I'll try to update it whenever I'm online. Hope I can manage time well when I'm study in the university so I can update the "magazine" everyday. Hope this project improve my bad English... XD


5. Writing Project
I will remake the Chrive: 2nd Revenge, the sequel of Chrive: 1st Reunion that already be sold in online bookstore. I will make a new book too, but the title and the content is still a secret. Also, I will finish my ongoing fanfic in KAORI, animanga forum that I join.

Are You A Book Maniac?



My first quiz in this blog, and also 3rd English entry (as I can remember). Sorry for my bad English... (Ah, somehow I want to make new blog with all entries in English so I can improve my English TT_TT).

Book is very important in our life, isn't it? Book is window of the world, resource of knowledge and sometimes, book is entertaining to read. For some people, even reading book is really fun activities to them. And sometimes, some people consider themselves as a book maniac, they LOVE to read very much more than others. In this quiz, you can check whether you are a book maniac or not. Give the checkmark beside the statement that you consider is suit to you.

1. I read more than one book every week.

2. I prefer to go to the library than the beach.

3. My school/campus librarian easily recognize me whenever I go to the library.

4. I'm very enjoyed myself when I'm reading.

5. I'm a visual learner: I usually study by reading the book, not by listening to the teacher or doing the exercise.

6. I have more than 5 favorite authors.

7. I have more than 10 favorite books.

8. Sometimes, I try to write my own book.

9. I often compare book that I just read to other books than I consider similiar with that book.

10. I usually spend more than 2 hours when I'm in library or in bookstore.

11. I wish someday I can be a librarian or a bookstore manager.

12. I wear glasses because I read too much.

If you give more than 7 checkmark, it means that you're a book maniac! ^^

Hore, Saya Lulus!


Setelah penantian hampir sebulan terhitung sejak tanggal 21 April 2011, tanggal 16 Mei 2011 yang lalu saya menghadiri pengumuman kelulusan. Dan hasilnya: SEKOLAH SAYA LULUS 100%! Well, kalau yang itu sih ga kaget, karena bisa dibilang setiap kali UN sekolah saya hampir selalu (bahkan mungkin selalu)lulus 100%.

Syukurlah nilai UN saya ada yang mencapai target (meskipun ada juga yang tidak), tapi saya senang karena setidaknya saya lulus. Walau ada sedikit problem di nilainya (yang kemungkinan dicurangin.. hmm...), tapi saya maklumi saja...

Selasa, 10 Mei 2011

Sedikit Unek-unek dari Seorang Murid yang Hampir Lulus







Saya sama sekali tak berharap unek-unek saya ini dibaca oleh "mereka yang berkuasa". Saya hanya mau menyampaikan unek-unek saya untuk para pembaca, itu saja. Mau menanggapi boleh, mau setuju silakan, mau tidak setuju terserah. Jika ada fakta yang saya paparkan yang keliru, saya mohon maaf.

Ujian Nasional. Dua kata itu tidak asing lagi untuk para pelajar SMA, SMP, dan sekarang, SD. Saya termasuk orang yang mungkin lumayan beruntung karena tidak mengalami UN saat SD. Sampai saat ini, UN selalu menjadi perbincangan utama untuk mereka yang berstatus sebagai pelajar, terutama tingkat akhir. Kenapa? Karena sampai tahun lalu, UN masih menjadi satu-satunya faktor yang menentukan seorang pelajar tingkat akhir lulus atau tidak. Selain itu, selama beberapa tahun terakhir pelajar tingkat akhir (juga kepala sekolah beserta para guru) dibuat kaget oleh berbagai peraturan yang sifatnya unpredictable. Tahun ini peraturannya A, tahun depan bisa jadi berubah seratus delapan puluh derajat.

Peraturan yang Selalu Berubah

Banyak kontroversi soal UN ini, mulai dari jadwal sampai tata cara pelaksanaan. Semuanya serba tak pasti. Bahkan, misalnya, tahun ini, pemberitahuan bahwa paket yang akan digunakan dalam UN dari 2 paket soal menjadi 5 paket soal baru diberitahukan beberapa minggu sebelum UN SMA. Apa murid-murid tidak kaget? Belum lagi jadwal UN yang tiba-tiba mundur 1 bulan, sedangkan di sekolah saya saja, murid-murid sejak awal semester 1 sudah diberikan pelajaran tambahan setiap hari kecuali hari Sabtu. Walau tahu pihak sekolah bermaksud baik, murid-murid angkatan saya merasa dirugikan karena angkatan diatas mereka saja pelajaran tambahannya tidak sesering itu, padahal UN angkatan tahun lalu itu akhir Maret.

Dari semua itu, yang paling menyiksa barangkali peraturan tahun ini yang menyatakan "Nilai akhir berasal dari 60% nilai UN dan 40% nilai sekolah. Nilai sekolah berasal dari 60% nilai ujian sekolah (teori, praktek) dan 40% nilai semester 3, 4, dan 5". Peraturan ini baru diumumkan sekitar bulan Januari, yang berarti semester 6. Artinya, tak ada lagi kesempatan bagi pelajar untuk mengulang waktu dan belajar sebaik mungkin supaya nilai semester 3, 4, 5 memuaskan. Apa yang sudah tertulis di rapor tak bisa diubah lagi sembarangan, bukan? Di satu sisi, peraturan seperti ini bermanfaat untuk mengetahui apakah dalam keseharian seorang murid juga mendapatkan nilai bagus atau tidak, dan juga membuat UN tidak menjadi satu-satunya penentu kelulusan. Namun, yang membuat miris adalah, mengapa pemerintah tidak mengumumkan peraturan itu berlaku untuk UN tahun depan saja, dan diumumkan mulai dari awal semester 3, sehingga pelajar punya kesempatan belajar supaya bisa lulus dengan nilai bagus? Saya merasa kasihan dengan murid-murid yang nilai semester 3, 4, dan 5-nya pas-pasan, sehingga ketika pengumuman itu disampaikan, mereka sudah takut dan stres duluan yang mengakibatkan penurunan daya juang mereka. "Ngapain sih, belajar mati-matian biar nilai UN gue 8 atau 9, kalo nilai rapor gue aja cuma 5, 6, paling bagus 7?". Di sisi lain, murid-murid yang sangat pintar (anggaplah nilai rapor mereka rata-ratanya misalkan diatas 9,5), dapat merasa sudah di atas angin. "Oh ya, nilai rapor gue udah 9,5 nih, udah lah, kalau diliat rata-rata, gue males-malesan dan dapat 5 atau 6 buat UN sama US aja udah lumayan nilai akhirnya." Apa pemerintah tidak kasihan, ya, melihat murid-murid yang seperti itu?

Bahasa Indonesia vs Bahasa Inggris

Mata pelajaran yang diujikan dalam UN SMA adalah Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan tiga mata pelajaran lain sesuai jurusan masing-masing, misalnya Fisika, Kimia, Biologi (IPA), Geografi, Ekonomi, Sosiologi (IPS), Bahasa Asing, Antropologi, Sastra Indonesia (Bahasa), dan Tafsir, Hadis, serta Fiqih (Agama). Untuk SMP, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA Terpadu. Sedangkan SD adalah Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA Terpadu. Saya tak akan membahas Matematika dan IPA karena ilmu pasti (selalu hanya ada satu jawaban, kecuali salah soal), serta tiga mata pelajaran sesuai jurusan yang ada di UN SMA. Saya hanya akan membahas Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Tanyakan pada sembarang pelajar berseragam putih biru atau putih abu-abu selagi mereka pulang dari pengumuman kelulusan, lebih tinggi mana nilai mereka, di Bahasa Indonesia ataukah Bahasa Inggris. Saya yakin, sebagian besar dari mereka mendapatkan nilai lebih tinggi di mata pelajaran Bahasa Inggris dibandingkan Bahasa Indonesia. Bahkan survei tahun lalu mengatakan, kebanyakan murid hanya mendapatkan nilai 7,00-7,99 untuk Bahasa Indonesia, sedangkan Bahasa Inggris 9,00-9,99. Satu lagi keprihatinan sosial muncul terkait UN. Kita tinggal di negara Indonesia, sehari-hari menggunakan Bahasa Indonesia, dan peserta UN sebagian besar berasal dari sekolah yang bahasa pengantarnya berbahasa Indonesia. Kenapa bisa-bisanya nilai Bahasa Indonesia lebih rendah dibandingkan Bahasa Inggris?

Saya ingat, zaman SMP dulu setiap try out saya selalu masuk 5 nilai tertinggi di kelas untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sedangkan, sekarang nilai Bahasa Indonesia saya rata-rata kelas saja, atau sedikit di atasnya. Dan baik SMP maupun SMA, antara nilai tertinggi dan terendah itu hampir selalu tak berbeda jauh. Paling cuma di sekitar jangkauan 7 sampai 8 koma.

Saya jadi teringat kata teman saya yang menjadi inti penjelasan saya berikut, "Bahasa Indonesia itu ambiguitas mayor, Bahasa Inggris itu ambiguitas minor." Kenapa bisa begitu? Mari kita lihat contoh bacaan yang ada.

Bahasa Indonesia (sumber UAN SMA 2007):

Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda.
"Kenang-kenangan" oleh Abdul Gani A.K.

Amanat dalam penggalan cerpen tersebut adalah ...
A. Jangan cepat menyerah pada keadaan bagaimana-pun juga.
B. Jangan membuang waktu selagi masih ada waktu.
C. Sebaiknya kita menyesuaikan diri dengan keadaan.
D. Jangan lupa diri bila menguasai bahasa orang.
E. Jangan mudah dipengaruhi oleh orang lain.


Bahasa Inggris (sumber UAN SMA 2007):

Eka : Are you free today?
Lidya : Yes, what's up?
Eka : Would you like to come with me to see the
"Peterpan" show tonight?
Lidya : Thanks, I'd be delighted to. It's my favourite
band.

What are the speakers going to do?
A. To stay at home.
B. To see Peterpan show.
C. To arrange their free time.
D. To watch Peterpan at home.
E. To come to their friend's house.

Perhatikan baik-baik kedua soal diatas. Jika kita menjawab soal Bahasa Indonesia tersebut, jawaban kita bisa berbeda satu dengan yang lainnya. Lain halnya dengan Bahasa Inggris, dimana jawaban yang ada biasanya sudah terlihat jelas.

Dalam UN Bahasa Indonesia, biasanya yang ditanyakan terdiri dari tiga bagian: bacaan, EYD, dan hafalan (seperti format surat lamaran pekerjaan, dsb.). Namun yang paling ambigu diantara tiga bagian tersebut adalah bacaan.

Bacaan dalam UN sebagian besar berupa karya sastra, yakni cerpen, puisi, novel, hikayat, dan sebagainya, baik sastra lama tahun 1920-an sampai sastra baru macam Laskar Pelangi. Di bagian bacaan, berapa banyak pun karya sastra yang kita baca, berapa banyak pun TO yang kita kerjakan, semuanya tak berpengaruh. Faktor yang berpengaruh hanyalah 70% faktor keberuntungan dan 30% nalar. Ambil contoh, saya sendiri. Dalam seminggu, saya setidaknya membaca minimal 1 karya sastra pendek (cerpen di koran hari Minggu, misalnya) secara teratur. Bahkan, jika sedang senggang dan tidak banyak ulangan, saya bisa membaca 4-10 buku fiksi dalam seminggu, di luar karya sastra pendek itu. Saya juga mencoba menulis karya fiksi yang kebanyakan dalam bentuk cerpen, cerita mini (flashfiction), dan novel. Dalam TO UN yang lalu, saya juga tak pernah lupa mengerjakan TO Bahasa Indonesia yang saya senangi itu. Namun, saat UN Bahasa Indonesia, jawaban saya masih saja ada yang salah di bagian bacaan.

Ambiguitas mayor yang tadi saya sebutkan itulah yang terjadi disini. Karya sastra adalah seni. Apa buktinya? Coba berikan satu tema kepada 10 orang berbeda, dan minta mereka menulis cerpen dengan tema tersebut. Hasilnya adalah 10 cerpen yang berbeda. Walaupun misalnya ada kesamaan jalan cerita, tapi tak mungkin sama 100%. Tak mungkin ada yang persis sama sampai titik koma, kecuali memang dia plagiat.

Sebagaimana sebuah karya seni, tafsiran orang-orang juga berbeda. Misalnya saja sebuah cerpen. Ketika diminta untuk mengomentari cerpen tersebut, ada yang bilang, "Ini jalan ceritanya keren banget! Ending-nya juga bagus banget! Mantap lah pokoknya!". Sedangkan orang lain bilang, "Ini jalan ceritanya biasa banget. Gue sering baca yang jalan ceritanya kayak gini. Udah gitu, sok pakai bahasa Inggris segala, lagi!". Dan berbagai macam pendapat lainnya.

Kembali ke soal UN 2007 di atas, yang ditanyakan adalah amanat. Soal yang tidak asing dan sering kali keluar, sejenis dengan "Pesan moral yang disampaikan dalam cerita", "Kelebihan buku", "Kekurangan buku", dan lain-lain yang meminta pendapat si yang mengerjakan soal. Sebagai karya seni, tentu saja pilihan seharusnya tidak dibatasi dalam 5 opsi saja. Pasti ada jauh, jauh lebih banyak dari itu. Dalam soal-soal seperti itu, apalagi dengan opsi yang sangat ambigu, pilihan orang bisa sangat beragam, termasuk si pemeriksa. Seorang guru pernah berkata, antar satu pemeriksa dengan pemeriksa yang lain rata-rata ada 5 soal yang jawabannya berbeda ketika mereka membandingkan. Ini bukti bahwa penafsiran karya seni tidak bisa dibuat dalam bentuk pilihan ganda.

Bagaimana dengan ide pokok, kalimat utama, dan sejenisnya? Seringkali ini juga sering membingungkan siswa. Banyak yang tidak tahu perbedaan kalimat utama, ide pokok, dan inti paragraf. Selain itu, jika ada dua opsi dimana satu memuat kalimat pertama dan satu memuat kalimat terakhir, otomatis pilihan akan terpecah dan timbullah perdebatan. Karena itu, ide pokok dan sejenisnya juga termasuk ambiguitas mayor.

Lalu, mengapa Bahasa Inggris, soal tersusah sekalipun, biasanya benar? Karena Bahasa Inggris dianggap bahasa asing, yang lebih susah daripada Bahasa Indonesia. Karenanya dibuat pilihan jawaban yang jawabannya dengan mudah ditemukan di bacaan. Selain itu, di bahasa Inggris juga diberikan listening yang dianggap susah karena kualitas audio tiap sekolah pasti berbeda-beda, dari yang dibacakan gurunya sampai sekolah canggih yang memfasilitasi satu headphone untuk satu anak, hanya untuk listening saat UN. Kalaupun ada yang ambigu, biasanya (lagi-lagi) terdapat di ide pokok, namun tetap saja tidak sebanyak Bahasa Indonesia.