Senin, 13 Oktober 2014

Tur Korea (2): Pohon, Pohon, dan Pohon

Pagi hari tiba. Saya, yang tidur paling jauh dari telepon dibandingkan yang lain di kamar itu, dibangunkan oleh suara telepon. Ternyata dari tour guide kami, yang berkata agar kami berkumpul secepatnya. Saya pun cepat-cepat mandi, lalu membangunkan keluarga saya yang lain.
Sementara yang lain mandi, saya menuju ke restoran untuk sarapan. Ternyata, sarapan yang ada sangat minimalis. Roti, ham, bacon, telur mata sapi, dan susu. Saya mengambil semuanya masing-masing satu dan sarapan di restoran yang lebih mirip kafe yang sangat nyaman itu.

Setelah semua peserta siap, kami berangkat. Perjalanan hari itu menuju Nami Island yang terletak cukup jauh dari Kota Seoul. Setelah menjelaskan singkat mengenai Nami Island, guide lokal kami memutarkan MV-MV berbagai macam lagu dari artis-artis KPop, mulai dari Psy, Miss A, Apink, JYJ, dan lain-lain saya lupa, karena saya terlalu sibuk melihat-lihat jalanan, mencari dimana Petite France berada, berhubung perjalanan ke Nami Island dari Seoul seharusnya melewati Petite France.
Kami akhirnya sampai di tempat parkir menuju Nami Island. Di tempat parkir ini, terdapat peta dari Nami Island dan juga tiket perahu. Setelah membeli tiket, kami masuk ke gerbang dan menuju perahu yang membawa pergi kami menuju Nami Island. Perahu ini memiliki 2 lantai, dek di bagian atas dan bawah, serta ruang indoor di bagian bawah. Perjalanan menuju Nami Island sangat menyenangkan walaupun sebentar. Kami disuguhi pemandangan indah.

Pemandangan dari bus menuju Nami Island

Pemandangan dari kapal Nami Island (saat perjalanan pulang)

Sampai di Nami Island, pemandangan tak kalah indah. Deretan pohon di kiri dan kanan jalan sejauh mata memandang, sejajar dan linier. Kabarnya, pulau ini menawarkan empat keindahan berbeda di empat musim. Musim panas, dimana pohon-pohon berdaun hijau, pun indah dipandang,walau pohon berdaun hijau merupakan hal biasa di Indonesia.
Pemandangan di bagian depan Nami Island berupa pohon-pohon dihiasi lentera, yang mungkin akan lebih indah di malam hari. Di salah satu sisi kanan jalan, pohon-pohon berdaun merah, kuning, dan hijau tegak berdiri, membuat saya bisa membayangkan betapa indahnya pohon-pohon di sini di musim gugur.

Pohon dengan lentera

Kami sampai di pertengahan pulau. Di sisi kanan jalan, terdapat toko suvenir berbentuk rumah dengan dinding kayu. Di depan, ada pohon besar dengan papan penunjuk jalan di depannya. Di dekat kawasan itu, ada juga poster besar bergambar Winter Sonata, drama Korea yang mengambil setting di pulau ini. Di sebelah kiri poster tersebut, terdapat semacam plat-plat kayu yang ditandatangani pengunjung serta di bawah plat kayu tersebut, daun-daun kering dikumpulkan berbentuk hati.

Pemandangan Nami Island

Setelah itu, kami berkeliling Nami Island. Ada panggung besar dengan bentuk mirip atap Keong Mas lengkap dengan pondok jerami di sisi kanannya. Patung berbentuk hati. Semacam rumah lengkap dengan jembatannya. Patung-patung lainnya. Deretan pohon indah yang menghadap lautan.

Pemandangan Nami Island
Selesai puas mengambil foto-foto, kami berkumpul di gerbang. Saya baru menyadari bahwa di depan gerbang Nami Island ini ada sepasang patung boneka salju. Saya pun berfoto bersama patung tersebut sembari menunggu kapal berangkat.

Patung boneka salju

Kapal datang, dan saya mengambil tempat di dek atas. Saya mengambil foto-foto kembali. Sampai di tempat parkir, kami makan di restoran barbeque yang terletak di dekat tempat parkir. Ada daging ayam dan juga kue beras berbumbu yang bisa kita bakar di sini, dihidangkan dengan nasi dan air putih dingin. Semuanya sangat enak.

Makan!

Kenyang dengan makanan, kami kembali ke bus dan berangkat menuju Mount Seorak. Perjalanan cukup lama, sekitar 3 jam, dengan berhenti sementara di tempat peristirahatan. Mayoritas penumpang memilih tidur.
Mount Seorak merupakan pegunungan kapur yang pemandangannya tak kalah dengan Nami Island. Saat di tempat parkir, pegunungan tersebut sudah terlihat.

Mt. Sorak dari bus
Kami naik ke kawasan wisata. Di depan, ada patung maskot Mt. Seorak menyambut kami. Kami memutuskan berfoto di situ setelah pulang saja. Kemudian, setelah membeli tiket cable car, tour guide kami memberi kesempatan untuk peserta beragama Buddha beribadah di depan patung Buddha di tempat itu, dimana patung tersebut lumayan besar.


Patung Buddha di Mt. Sorak
Setelah itu, kami menuju stasiun cable car yang berada di lantai 2. Stasiun cable car ini menyediakan toko suvenir dan makanan serta minuman. Saya menghabiskan waktu menunggu cable car sambil melihat-lihat suvenir yang ada.
Beberapa menit kemudian, kami berangkat. Cable car ini ada 2 buah, dimana setiap cable car bertugas melayani penumpang yang akan naik ke stasiun atas dan turun ke stasiun bawah bergantian. Saya mendapat tempat strategis dekat jendela, dan mulai memotret. Cable car bergerak naik, dengan pemandangan gunung dan sungai yang sangat indah di bawah.

Cable car

Pemandangan dari cable car
Kami akhirnya sampai di stasiun atas yang terdiri atas 3 lantai. Di sini, pemandangannya benar-benar indah. Stasiun ini juga menyediakan toko minuman dan makanan. Selain itu, kita bisa melihat pemandangan dengan teropong berbayar seperti di Monas, pergi ke kuil yang aksesnya harus menuruni beberapa tangga berbatu, demikian juga jika ke toilet kita harus menuruni tangga itu. Selain itu, kita juga dapat mendaki ke tempat yang lebih tinggi yang dapat ditempuh minimal 30 menit berjalan kaki. Awalnya saya ingin ikut menyusuri ke tempat yang lebih tinggi tersebut, namun kondisi jalannya makin lama makin berbatu. Saya pun akhirnya tak jadi, dan memilih menunggu di stasiun atas.

Pemandangan dari stasiun atas
Puas melihat pemandangan, kami pun menaiki cable car untuk turun ke stasiun bawah. Kemudian, kami kembali ke tempat parkir, menuju ke bus kami dengan membawa oleh-oleh segudang foto pemandangan indah.
Bus kami bergerak menuju sebuah restoran. Restoran itu hanya dilengkapi meja rendah dan beberapa bantal untuk lesehan, dengan lantai bambu. Sebelum masuk restoran, kita harus melepas sepatu. Kesan tradisional sangat terasa.
Menu utama restoran itu adalah ikan bakar. Selain itu, ada juga menu lainnya yang tak kalah enak, seperti ubi manis dan rumput laut. Seperti biasa, kimchi menjadi "sambal" pelengkap makanan selama di Korea Selatan.
Perut kenyang, hati senang. Kami menuju ke hotel. Ini hotel yang saya paling ingat sampai sekarang. Nama hotel itu Class 300. Kamarnya sangat luas dan sangat bagus, seperti kamar contoh yang ada di kantor pemasaran apartemen-apartemen mewah yang beberapa kali saya pernah kunjungi. Karena kamar saya ada 3 orang, jadi kamar saya sangat besar lengkap dengan ruang tamu dengan televisi yang besar. Dari jendela, kita bisa melihat pemandangan yang cukup indah. Singkatnya, hotel terbagus yang pernah saya inapi.
Sayang, saya tak sempat memotret kamar hotel ini dan tak ada foto mewakili.

Tur Korea (Part 1) - Welcome to Incheon

Naik Singapore Airlines membawa berkah tersendiri. Kebetulan, ibu saya selalu senang naik pesawat dari maskapai ini karena pelayanannya yang memuaskan dan jarang mengalami penundaan. Saya pribadi sebenarnya tak masalah apapun maskapai yang saya gunakan, namun saya cukup menikmati perjalanan Jakarta-Singapura pagi itu. Karena waktu perjalanan yang hanya 1 jam 20 menit, saya memutuskan untuk mendengarkan lagu-lagu dari pesawat saja. Kebetulan lagu-lagu Jepang di pesawat itu oke-oke. Saya bahkan sempat memfotonya dengan harapan bisa mengunduhnya dan memutar lagu tersebut di rumah untuk kenang-kenangan.


List sebagian lagu Jepang di in-flight entertainment Singapore Airlines, 4 Agustus 2014

Ada 1 lagu yang iseng-iseng saya putar saat di pesawat itu. Lagu tersebut lumayan sering diputar di radio yang memutarkan lagu Korea saat itu. Can't Stop dari CN Blue, yang saya sempat putar 2 kali sepanjang perjalanan.
***
Setelah menikmati makan pagi berupa pasta dengan ikan yang rasanya lumayan enak, kami turun dari pesawat yang sudah mendarat di Bandara Changi, Singapura. Rasanya kangen dengan bandara ini, walaupun saya baru saja ke sana tahun lalu. (Nanti saya akan mencoba menuliskannya berdasarkan ingatan saya)


View jalanan daerah bandara Changi dilihat dari MRT yang membawa kami dari terminal 2 ke terminal 3


Berfoto di bandara Changi

Di bandara Changi, kami membeli tiger balm dan karena kami tak membawa dolar Singapura, kami menggunakan kartu kredit. Kami juga berfoto di beberapa spot di bandara Changi, dan kemudian menghabiskan waktu menunggu pesawat ke Incheon dengan mengobrol dengan peserta tur lainnya.
Sekitar jam setengah 2 siang, pesawat kami berangkat. Saya sangat menikmati sekitar 5,5 jam perjalanan yang ada mulai dari menonton film, mendengarkan lagu, makan makanan yang ada mulai dari makanan pembuka yaitu kacang dalam kemasan, main course berupa steak yang sangat enak, dan makanan penutup berupa es krim semacam Magnum dan buah. Selain itu, saya juga mencoba berbagai minuman mulai dari berbagai macam jenis teh, sampai jus jeruk dan apel. Tak lupa, karena kebetulan saya duduk di daerah jendela sebelah kiri yang memperlihatkan pemandangan matahari tenggelam, saya menyempatkan diri memotret pemandangan sunset dari atas awan tersebut.


Pemandangan sunset dari ketinggian lebih dari 8000 meter di atas permukaan laut

Ada kejadian yang cukup tak terlupakan dalam perjalanan ini. Saat sebelum memotret sunset, pesawat sempat mengalami turbulensi selama kira-kira 15 menit. Baru kali ini saya berada di pesawat dalam kondisi turbulensi yang cukup lama itu. Pesawat berguncang-guncang, naik dan turun dengan kemiringan yang cukup tinggi, sampai ada penumpang yang berkata "Astaghfirullah". Lorong diantara bangku penumpang sangat sepi, tak ada satupun pramugari yang melintas. Untung in-flight entertainment masih menyala, sehingga saya langsung mengubah lagu yang sedang saya putar dari "Art of Life - X Japan" menjadi "Koisuru Fortune Cookie - AKB48" yang unyu-unyu. Syukurlah turbulensi tersebut bisa dilewati dan perjalanan menjadi menyenangkan kembali.
***
Kami sampai di Incheon sekitar hampir jam 10 malam waktu Korea Selatan. Bandara Incheon ternyata lumayan mewah, walau kesan pertama yang saya tangkap adalah "tak semewah yang saya lihat di Running Man".
Bandara Incheon. Untuk pertama kalinya mendengar bahasa Korea di mana-mana, yang biasanya hanya saya dengar hanya di lagu atau di Running Man.

Foto sebuah pesawat dengan dekorasi yang menarik.

Berfoto di depan banner "Welcome to Korea". Coba tebak siapa artis yang ada dalam banner tersebut! :D

Kami mengambil bawaan dan kemudian bertemu guide lokal kami. dan di bandara itu, kami mengetahui kenyataan bahwa pesawat Asiana yang kemarin masih di-cancel penerbangannya. Dalam hati kami bersyukur, kalau kami masih memilih Asiana tadi pagi, mungkin kami akan batal berangkat ke Korea.
Setelah itu, kami para peserta tur dan para guide menuju ke bus. Bus kami berkapasitas sekitar 40 orang dengan setir kiri. Kami melewati jalan tol, dimana papan penunjuk jalan ditulis dengan huruf Hangul dan huruf Latin. Setelah beberapa lama, kami sampai di kota Seoul. Di sana, kami dikabari bahwa esok hari kami akan ke Nami Island dan Mount Seorak, yang artinya jadwal kami di-extend.
Bus kami sampai di hotel Boutique 9 di dekat Dongdaemun Market. Bangunan hotel ini kecil namun memiliki kamar yang artsy, membuat saya ingin memiliki kamar seperti itu. Yang menyenangkan, setiap hotel di kamar ini memiliki router WiFi sendiri-sendiri, dan juga dilengkapi dengan 1 buah PC tiap kamar. Semua fasilitas tersebut bisa digunakan dengan gratis. Peralatan mandi yang ada juga amat sangat lengkap, mulai dari yang standar seperti sabun dan sampo, sampai kondom. Yang saya paling ingat, kamar mandi di hotel ini memiliki pintu geser antara toilet dan shower. Jadi saat kita akan mandi, kita tinggal menggeser pintu tersebut ke ruang shower dan artinya ruang toilet akan terbuka, dan sebaliknya.
Televisi di ruangan hotel ini sangat besar, lebih besar dari yang saya punya di rumah, kira-kira 35 inci. Saat saya sedang mengutak-atik channel televisi, muncul re-run acara Running Man episode 206 yang Selasa minggu sebelumnya saya sudah tonton. (Ngomong-ngomong, mengenai Running Man, saya akan membahasnya secara khusus di entri baru lain nanti). Extra bed yang ada juga sangat nyaman, tak kalah nyaman dengan ranjang utamanya. Setelah perjalanan hari itu, saya tidur dan bersiap menuju hari kedua.